Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 38 : Kembali Ke Markas


__ADS_3

"Kalau begitu terima kasih atas semuanya, selamat tinggal."


"Sampai jumpa lagi."


Di depan markas Mei Ling, kelompok Nina tengah berpamitan mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menjemput Luis dan adiknya.


Walau adiknya sudah sembuh ia masih perlu perawatan untuk memulihkan dirinya terlebih selama ini ia hanya terbaring di tempat tidurnya. Seorang supir telah disewa untuk mengantarkan mereka.


"Ah, tunggu sebentar kalian?"


Langkah mereka terhenti saat Mei Ling baru saja menerima pemberitahuan dari ponselnya.


Ia melanjutkan.


"Wilayah WIT telah bebas dari siluman, katanya organisasi di sana akan segera dibubarkan."


"Kau serius?" tanya Nina yang dijawab anggukan.


"Tidak salah lagi, mungkin sebentar lagi ancaman akan berakhir."


Nina tersenyum sinis.


"Kuharap begitu."


Rasanya dia sedikit marah karena jumlah siluman di tempatnya lebih jauh banyak dibandingkan wilayah lain namun dalam hatinya dia juga merasa bersyukur bahwa paling tidak satu wilayah telah bebas.


Mereka menaiki mobil kemudian melaju pergi.


"Kelompok yang luar biasa, Albert kau menemukan pasukan yang kuat rupanya," gumamnya demikian.


Lima menit sebelum kedatangan helikopter, di atas atap rumah sakit itu, Luis menari-nari diiringi musik dari ponselnya.


Sedangkan di depannya orang yang memakai kursi roda. Claudia, Ia terus bertepuk tangan seakan terhibur dengan tingkah kakaknya.


Di sisi lain Nina dan Pricil memandang Luis aneh.


"Hey Riki, apa masih belum datang....aku bosan nih," keluh Pricil sambil mengelus kucing di pangkuannya.


"Mungkin sebentar lagi, tidak hanya di darat, di langit pun sekarang sering macet."


"Begitu kah ? Oi, kau anggap aku ini bocah ye."

__ADS_1


Riki hanya mengangkat bahunya dan tak lama kemudian jemputan mereka sudah datang.


"Wah... ini pertama kalinya aku melihat kota dari ketinggian seperti ini, benar-benar mengagumkan kakak," suara itu berasal dari Claudia yang duduk di dekat jendela.


"Ini masih permulaan, masih banyak hal lainnya yang akan kakakmu ini tunjukan. Nantikan saja," ucap Luis dan Claudia menjawab dengan anggukan semangat.


"Riki aku ingin segera punya dua anak yang lucu."


"Kenapa kau mengatakannya padaku?"


"Cuma ingin saja."


Pricil merasakan udara di dalam helikopter ini terasa pengap.


Selama ini Claudia hanya terbaring di rumah sakit mungkin sudah lama dia tidak melihat dunia luar. Walau tidak banyak tahu ia terlihat bersemangat setiap melihat ke luar dan bertanya pada Luis sesekali tentang gedung ataupun gunung yang mereka lewati sesekali Nina juga menjelaskan tempat seperti supermarket dan kebun binatang.


"Aku ingin melihatnya."


"Tentu, aku akan membawamu nanti."


Nina bertingkah seperti seorang kakak perempuan.


Sesampainya di markas, orang yang pertama menyambut mereka adalah Albert.


Albert menunjuk ke arah sofa dimana seorang gadis sedang membaca buku dan semua orang mengikuti pandanganya.


"Selamat datang kembali aku benar-benar lelah tahu bekerja sendirian terlebih terasa sangat kesepian."


Semua orang memucat.


"Apa orang itu yang bernama Mai," bisik Pricil.


Nina mengangguk kecil.


Menyadari ada seeekor kucing di dekat kaki Pricil, Mai buru-buru mendekati kucing tersebut. Ia berlutut sambil mengelusnya.


"Wah Neko, Neko Kawaii.....Jabat tangan. Berguling, pura - pura mati.."


"...."


"Hey Riki, Kucing ini bodoh."

__ADS_1


"Oi!" teriak Pricil selagi menambahkan.


"Jangan mengatai Little bodoh, dia sedikit sensitif."


"Ara, di sini juga ada kucing besar."


Sekarang Mai berpindah mengelus kepala Pricil, pipi Pricil tampak memerah.


"Aku manusia."


"Mai, tolong jangan bercanda.... Biar aku perkenalkan, namanya Pricil, lalu Luis si afro dan ini adiknya Claudia... selain Mai, di sana itu pak Albert selaku pimpinan kita."


"Senang bertemu denganmu," Claudia mengutarakan isi hatinya yang dijawab sama pula oleh keduanya.


Dia mungkin orang yang tidak terintimindasi oleh suasana baru.


Luis menempelkan tangannya di dagu dan berkata omong kosong.


"Luis si afro, julukan itu terdengar keren, mulai sekarang beta akan memakainya."


Dia masokis kah, seseorang yang merasa senang jika diejek.


Abaikan saja orang ini, semua orang berpikiran sama.


Riki melangkah satu langkah di depan Albert.


"Apa terjadi sesuatu saat kepergian kami?" tanya Riki.


"Seperti biasa para siluman muncul entah darimana, hanya saja situasinya sedikit berbeda."


"Sedikit berbeda?" Riki mengulang kata tersebut.


"Ketika kemunculan kelompok bernama Fallen, siluman yang kami lawan terasa semakin kuat. Benarkan Mai?"


"Ya, biasanya aku bisa membunuh sekali tebas, belakangan ini harus beberapa tebasan."


Mai jelas bekerja keras juga di sini.


"Yah lupakan itu untuk sekarang, kalian baru datang pasti melelahkan kan? Istirahat dulu saja."


Albert kemudian memberikan kunci pada masing-masing orang, satu pada Pricil, Luis dan Claudia juga mendapatkan kamar terpisah. Hanya saja sementara waktu untuk Claudia dia akan tinggal di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar sembuh.

__ADS_1


Dibantu Luis mendorong kursi rodanya keduanya meninggalkan ruangan.


Itu mengagumkan saat semua orang tahu kamar mereka jauh lebih besar dari yang mereka pikirkan hanya saja untuk ke kamar mandi mereka harus turun ke lantai pertama.


__ADS_2