
"Apapun yang kau katakan, beta tak akan merubah keputusan beta."
"Sepertinya begitu, semoga saja nanti kau mau berubah pikiran."
Atas jawaban cepat Riki, Luis hanya mengerenyitkan alisnya melihat kepergian Riki dari tempatnya berdiri, jelas bahwa mereka tidak berniat untuk menyerah.
Tak lama suara terdengar olehnya.
"Kau lama sekali Riki, ayo makan es krim," suara itu berasal dari Pricil yang menunggu di seberang jalan bersama Nina.
"Ah, maaf."
"Kau tadi sedang membicarakan apa dengan Luis?"
"Bukan hal penting."
"Aku ingin tahu," Nina mendesak hal demikian, ia mendekatkan wajahnya pada Riki karena tinggi mereka jauh berbeda hingga dia harus mendongak ke atas.
"Maaf mengganggu kurasa Nina seharusnya tidak usah memaksakan diri."
"Aku tahu," balasnya pada Pricil.
Melihat mereka Riki hanya menjatuhkan bahunya lemas.
"Aku pikir Luis pasti memiliki alasan sendiri kenapa dia tidak mau bergabung dengan kita, paling tidak kita akan mencari tahu alasannya."
"Bukannya itu namanya memaksa?"
__ADS_1
"Yang dikatakan Pricil benar, mungkin kita sudahi saja lagipula kita sudah memiliki Pricil di kelompok kita."
Pricil memang kuat tapi Riki pikir kesempatan kecil sedikit tidak boleh diabaikan begitu saja, terlebih mereka sudah jauh-jauh datang kemari sayang jika mereka pulang dengan tangan kosong. Dengan alasan itu sudah cukup membuat keduanya mengangguk setuju.
Lagipula terlalu awal untuk menyerah.
Selagi menikmati es krim di salah satu kafe, Riki memberikan sebuah rencana, mereka akan bergantian mengawasi Luis dalam beberapa hari dan sedikit menanyakan hal pada orang-orang di dekatnya.
Nina meletakan sendok di bibirnya lalu berkata.
"Itu rencana bagus tak masalah untuk mencobanya, dibandingkan pria bernama King, aku rasa pria bernama Luis lebih baik walaupun kemampuannya mesum."
"Yah, hanya dia bisa melihat tembus pandang bukan berarti dia mesum.. mungkin saja dia punya dua kemampuan berbeda."
"Hal itu bisa saja."
"Kalau begitu aku akan bertanya pada para kucing di dekat sini dan kalian berdua melakukan sisanya," atas pernyataan Pricil, keduanya setuju.
Semua orang melihat bagaimana seekor kucing makan seperti manusia dengan serbet serta sendok di tangannya.
"Whoaa!!"
"Kucing apa itu? Aku baru lihat kucing bisa melakukan itu," teriak salah satu pelanggan.
"Fufu akulah yang melatihnya, aku menjadikan Little kucing yang elegan dan beradab."
Nina dan Riki saling berbisik.
__ADS_1
"Kurasa kucing sebenarnya tidak memerlukan hal seperti itu."
"Jelas sekali."
"Apa kalian berdua mengatakan sesuatu."
"Tidak ada."
Tiga hari berikutnya ketiganya berkumpul di tempat yang sama, sebuah kafe yang ramai dikunjungi pengunjung.
"Bagaimana?" tanya Riki.
"Menurut para kucing, Luis terkadang terlihat di sebuah bangunan tinggi berwarna putih."
"Maksudnya rumah sakit, orang-orang sekitar juga mengatakan hal sama," tambah Nina.
"Kemungkinan ada seseorang yang dikenalnya berada di sana, sejauh aku menyelidiki aku hanya melihat dia pergi ke toko sepatu, musik dan lainnya."
"Kurasa Riki yang kurang beruntung saat mengikutinya."
Singkatnya dia tidak mendapatkan informasi apapun, biasanya Nina akan meretas kamera kota sayangnya tidak seperti di kota mereka cctv di sini sangatlah terbatas karena itulah Nina juga tidak bisa secara akurat menentukan di mana rumah sakit tersebut, namun satu hal yang bisa mereka lakukan hanyalah mengikuti Luis.
Ketiganya bersembunyi saat Luis berjalan di persimpangan dan menoleh pada mereka, menyadari bahwa dia diikuti Luis berbelok ke arah gang.
"Kita ketahuan."
"Kejar saja."
__ADS_1
"Rasanya dia malah terlihat seperti buronan."
Saat Riki, Nina dan Pricil yang membawa Little mengikutinya, dia menghilang.