
Di tempat lain pertarungan kelompok Riki masih berlanjut, musuh yang mereka hadapi hanyalah sebatas pohon namun seiring waktu monster yang mampu dijatuhkan pohon tersebut semakin banyak.
Pricil memutuskan untuk mencakar batang pohon dari bawah ke atas selagi memanjat naik, dipertengahan jalan dia melompat turun, bagaimanapun memanjat pohon setinggi itu tidak mungkin dilakukan.
Ia memilih untuk merusak bagian paling bawah saja, dengan mengikis batangnya jelas membantu untuk mengulur waktu buah tersebut berjatuhan.
"Peluruku sebentar lagi habis, ini benar-benar buruk."
Suara itu berasal dari Riki yang sedang mengisi amunisi disusul Luis di sebelahnya.
"Aku juga sudah lelah bagaimana denganmu Claudia?"
"Jangan khawatir kak, aku masih banyak tenaga."
"Itu bagus."
Tak lama kemudian suara Nina masuk ke telinga Riki.
"Aku sudah mengirimnya loh, paket akan sampai sekarang tiga, dua, satu, jatuhkan," bersamaan dengan Nina yang selesai menghitung, sebuah kotak berukuran kontainer jatuh dari langit sedikit jauh dari lokasi pertempuran.
Mereka mengirimnya dengan dua helikopter.
"Akhirnya."
Riki memberikan arahan ke arah pricil
__ADS_1
"Pricil kamu bisa bersantai sekarang, kerja bagus untuk memperlambatnya."
"Syukurlah dengan begini aku bisa beristirahat sebentar."
"Kerja bagus."
Pricil berlari ke belakang untuk setidaknya menjauh dari pertempuran, di saat yang sama Riki juga memberikan arahan pada Claudia kemudian Luis.
Claudia membekukan seluruh area di sekelilingnya termasuk pohon di depan mereka, itu tidak efektif namun paling tidak bisa memberikan sedikit waktu untuk kakaknya.
"Sekarang, buka kotaknya."
"Oke."
Di dalamnya adalah pestisida dengan jumlah sangat banyak, tak hanya itu di dalamnya juga ada machine gun dengan jumlah peluru lebih dari 500 butir.
"Hanya untuk jaga-jaga bila kalian membutuhkannya," jawab Nina santai.
Apa itu berguna atau tidak, Riki berterima kasih untuk itu.
Luis mulai mengangkat seluruh pestisida yang dimuat dalam drum-drum besar lalu menjatuhkannya tepat di bawah akar, cairan terserap baik oleh pohon tersebut dan saat pembekuan Claudia sudah selesai Riki memutuskan untuk menembakan machine gun ke arah monster yang mulai bergerak kembali.
Satu persatu drum telah dituangkan hingga dalam beberapa menit saja semuanya sudah selesai, pohon yang besar itu kini sudah mulai layu seiring waktu, bahkan buah-buahnya pun sudah tidak berjatuhan lagi.
Luis terduduk selagi mendesah panjang bersamaan dengan dedaunan yang berjatuhan layaknya musim gugur.
__ADS_1
"Aku ingin minum-minuman dingin saat kembali."
"Aku akan menyiapkannya untuk kalian.... Mai juga sudah ada disini," yang menjawab adalah Nina.
"Tunggu, seharusnya Mai membantu kami, bukannya bersantai-santai. Beta tak terima."
"Mai juga sudah kelelahan, meskipun dia kini sedang asyik membaca buku."
"Ugh.."
Luis memilih untuk tidak memprotesnya lagi, lagipula berbeda dengan mereka ia bertarung hanya seorang diri saja.
Selagi mengacak-acak rambutnya Luis mengalihkan pandangannya ke arah Riki lalu ke adiknya serta Pricil yang tengah berjalan mendekat sebelum menatap seberapa tinggi pohon yang mereka lawan barusan.
"Beta benar-benar tak percaya kita bertarung dengan itu."
"Yah, aku juga.. paling tidak kita menang, menurutmu apa yang akan pemerintah lakukan pada pohon tersebut," tanya Pricil.
"Karena sudah seperti itu, beta yakin hanya berguna sebagai kayu bakar saja."
"Yah, kurasa kau benar."
Sekembalinya di markas Luis mengambil banyak minuman kaleng untuknya sedangkan yang lain juga mengambil secukupnya untuk menghilangkan dahaga.
Ada pizza diletakkan di meja yang bisa mereka ambil juga sepuasnya.
__ADS_1
Dengan informasi yang Mai dapat paling tidak mereka akhirnya sudah mengetahui nama dari pemimpin Fallen dan yang terburuk mereka tahu bahwa dia memiliki topeng iblis juga.