
Menerima perkataanku, akhirnya Lia sedikit tenang.
"Bagaimana kalau aku melakukan hal yang sangat ingin kamu lakukan? Jika ada, katakan saja."
"Apa yang ingin aku lakukan?"
Lia meletakan jarinya seakan memikirkan sesuatu dan kata yang keluar darinya adalah sesuatu di luar dugaan.
"Kencan. Aku ingin kencan, itulah impianku. Selama ini aku sendirian dan ketika aku melihat orang lain sedang berpacaran aku ingin melakukannya juga."
"Baiklah, mari berkencan," aku berkata selagi menghembuskan nafas panjang.
Lia yang menatapku tersenyum pahit.
"Kau terlihat seperti tidak menyukainya."
"Maaf, aku juga belum pernah berkencan dengan siapapun."
"Benarkah, padahal kau cukup tampan."
"Tolong jangan menghiburku."
Lia tertawa kecil, syukurlah dia kembali seperti biasanya.
Aku dan Lia meninggalkan rumah sakit menuju sebuah taman hiburan tak jauh dari sana. Kami melakukan apa yang dilakukan pasangan sebelum akhirnya berhenti di depan salah satu kios.
"Tolong permen kapasnya dua."
"Baik."
Si penjual menatapku dengan tatapan kasihan. Mungkin dia melihatku sebagai jomblo ngenes. Abaikan saja.
Aku dan Lia duduk di kursi panjang.
"Permen kapasmu."
"Terima kasih."
Aku mengalirkan energi spiritual ke permen kapas sehingga Lia bisa memakannya, sementara orang yang melewati kami melihat terkagum kagum selagi bertepuk tangan, jelas saja di mata mereka itu terlihat seperti aku menggerakan permen kapas dengan telekenesis.
Satu orang anak kecil mendekat ke arahku bersama ibunya.
"Kakak, bagaimana kakak melakukannya?"
"Dengan latihan dan juga pantang menyerah," jawabku asal.
"Kakak memang hebat, aku juga ingin bisa melakukan."
Aku tersenyum padanya, sementara ibunya menundukkan kepala padaku lalu mengajak anaknya berkeliling kembali.
"Anak yang manis," ucap Lia.
"Kau suka anak-anak?"
__ADS_1
"Tentu saja, kalau bisa aku ingin punya banyak anak dengan suamiku."
"Tolong jangan mengatakan hal kotor, aku sedang makan permen nih."
Lia tertawa kecil.
"Tapi takdir berkata lain."
"Apakah kau menyesali hidupmu?"
"Tidak juga, aku punya orang tua yang baik... aku selalu mendapatkan sesuatu yang kuinginkan, yahh walau tidak punya teman tapi aku bersyukur dengan kehidupanku."
"Begitu."
"Riki."
Aku menoleh saat ia memanggilku.
"Kalau misal ada kesempatan aku bertemu denganmu, maukah kau menjadi kekasihku?"
"Entahlah, aku akan memikirkannya."
"Haha, apa kau punya seseorang yang kau cintai?"
"Aku juga tidak tahu ini perasan suka atau kagum."
"Kau benar benar yang terburuk."
"Kau ini orang baik."
Sambil menyeka air matanya, Lia menggigit kembali permen kapasnya.
"Sudah lama aku tidak merasa rasa manis ini, lalu apa yang kita lakukan lagi?"
"Bagaimana kalau kita mencoba seluruh permainan di taman ini."
Aku menunjuk kawasan yang sering dimainkan oleh anak-anak, seperti ayunan dan lainnya.
"Boleh, siapa takut? Pertama rollercoaster itu."
"Tolong jangan yang itu, kita coba komedi putarnya dulu saja."
"Dasar penakut, baiklah... ayo."
Lia menarik tanganku dan kami mulai memainkan seluruh wahana di sini, bahkan kami juga mencoba kotak foto walau hanya aku saja yang berada disana.
Tanpa terasa sore telah tiba.
"Ah menyenangkan sekali, jadi beginilah namanya kencan."
Aku hanya tersenyum padanya.
Lia berjalan dua langkah di depanku, bersamaan dengan itu tubuhnya mulai menghilang sedikit demi sedikit seperti butiran cahaya yang menguap.
__ADS_1
"Aku benar-benar bersyukur bisa bertemu denganmu Riki."
"Aku juga."
"Apa aku sudah dianggap temanmu."
"Tentu saja."
Aku tersenyum kecil dan selanjutnya tanpa kusadari, sebuah ciuman tertempel di pipiku.
"Terima kasih, kalau ada kesempatan mari bertemu kembali," ucap Lia tersenyum manis.
"Aah.. Terima kasih kembali."
Lalu ia menghilang seutuhnya.
Kehidupan adalah sebuah anugerah yang tak ternilai, sungguh disayangkan bagi orang yang menyia-nyiakan kehidupannya dengan berfoya-foya serta melakukan kejahatan.
Padahal di sisi lain banyak orang baik yang menjalani kehidupan yang tidak adil. Selagi memikirkan hal itu, aku memasukan tanganku ke dalam saku dan berjalan pergi.
Beberapa hari berikutnya sebuah pesan telah masuk ke dalam ponselku, dengan tergesa-gesa aku bergegas mengendarai motorku menuju rumah sakit dan melihat di koridornya seorang telah menunggu di sebuah kursi roda bersama suster yang mendorongnya.
"Lama tak bertemu Riki, hmmm... kenapa kau menangis?"
Aku memeluknya dengan erat.
"Syukurlah."
"Heh, teman tidak saling berpelukan seperti ini."
Aku jelas mengabaikannya namun penjelasan berikutnya aku mendengarkannya dengan baik.
Singkatnya.
Sebelum kecelakaan terjadi Lia merasa kesal karena diputuskan oleh pacarnya, saat itulah mobil yang dikendarainya bertubrukan dengan mobil berbeda hingga akhirnya dia masuk ke rumah sakit.
Banyak hal yang membuatnya marah dan tak ingin hidup lagi, namun semenjak bertemu denganku perasaan seperti itu telah menghilang.
"Riki telah membawaku kembali ke dunia ini lagi, aku sangat berterima kasih, setelah aku pulih mari bertemu lagi."
"Iya."
Dan setelah beberapa Minggu berikutnya kami bertemu lagi dan aku juga memperkenalkan dia kepada semua orang di markas.
Tentu mereka telah saling mengenal sebelumnya.
Luis bahkan yang paling bersemangat.
"Kamu sangat cantik Lia, menikahlah denganku."
"Bagaimana yah, aku harus menolaknya."
Dia tertawa senang.
__ADS_1