
"Kau datang juga rupanya, kukira kau sudah melarikan diri," lima orang siswa mendekatinya dan salah satunya Regi.
"Lama tak bertemu," Riki menjawabnya santai, membuat ke lima orang itu terkejut.
"Kau?"
Salah satunya mencengkeram kerah Riki sesaat sebelum melepasnya.
"Walau jumlah kami berkurang, kami masih akan menghancurkanmu."
Mereka semua adalah teman orang yang dibantai Mai di atap yang sama ini, menurut Nina insiden itu tidak di ketahui oleh pihak luar, setiap orang hanya mengetahui bahwa mereka pindah sekolah.
Riki mengangkat bahunya sebagai balasan.
"Apa kau datang untuk menjadi budak kami lagi?" Regi berkata demikian membuat semua orang tertawa, namun hanya sesaat sebelum Riki memotongnya dengan perkataan tenang.
"Maaf saja, aku di sini tidak akan menjadi budak siapapun, aku hanya ingin bilang untuk tidak menggangguku lagi mulai sekarang."
Mendengar penolakan Riki, Regi mengirimkan sebuah tinju sayangnya mudah saja bagi Riki menghindar lalu mempersempit jarak untuk memukul perutnya sebagai serangan balasan hingga melemparnya jatuh ke lantai.
Semua orang tertegun akan peristiwa cepat yang terjadi sebelum akhirnya keempat temannya segera memburu Riki sebagai mangsa sebelum akhirnya berhenti tatkala sebuah pistol terarah pada mereka.
"Oi, oi kau bercanda.... itu pasti mainan," kata salah satunya.
Mendapat provokasi tersebut, Riki menarik pelatuk ke atas langit dan bunyi letupan menggema ke sekitar mereka. Dia bahkan melakukannya beberapa kali.
Hal seperti ini dilarang oleh penegak hukum namun ini hanya satu cara yang Ardhi lakukan agar dia tidak memukuli mereka hingga harus dirawat di rumah sakit.
"Aku hanya ingin menjalani kehidupan SMA-ku dengan tenang, selagi kalian tidak mengganggu, aku pun akan seperti itu."
"Riki, kau terlalu berlebihan loh," kata Nina memotong dari seberang.
Dia bersandar di dekat pintu selagi menyilangkan tangannya.
"Jika aku, aku akan menembak kepala mereka."
__ADS_1
"Kau malah bertingkah seperti Mai."
"Pembulian adalah masalah serius, terkadang pemerintah terlalu baik memperlakukannya sebagai kenakalan remaja."
Riki hanya mendesah pelan lalu berjalan meninggalkan orang-orang yang hanya berdiri tak percaya.
Regi lebih dulu bangun lalu berlari ke arah Riki, dia menarik sebuah pisau yang telah dia bawa sejak lama, sebelum itu bisa mengenai targetnya timah panas telah menembus kakinya.
Tembakan itu berasal dari Nina.
"Apa yang kalian lakukan, cepat bantu aku."
"Regi kau barusan ingin menusuk Riki, bukannya barusan kau berlebihan."
"Apa yang kau?"
"Sepertinya dua orang ini berbahaya, aku tidak ingin ikut-ikutan... aku akan berhenti membuli siapapun."
"Begitu kami, aku tidak ingin terlibat masalah."
Riki menatap sosok Regi dengan tatapan belas kasih.
"Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan padamu, tapi kau benar-benar menyedihkan."
Riki dan Nina meninggalkannya begitu saja.
Setelah seminggu mengikuti kegiatan sekolah, sebuah tes diadakan.
Biasanya Riki akan membuat jawabannya salah agar dia tidak mencolok tapi sekarang berbeda.
Ia menjawab tepat dari seluruh testnya yang membuat dirinya mendapatkan nilai sempurna. Sementara itu Nina tertawa melihat nilainya.
Itu adalah sebuah taman di pusat kota.
"Kau menghancurkan semua ekspetasi mereka."
__ADS_1
"Tolong pilih kata yang bagus."
Nina tersenyum jail.
"Itu sudah bagus....aku masih ingat ekspresi mereka."
"Aku selalu menjaga nilaiku, tapi sekarang tak perlu disembunyikan lagi."
"Riki seperti protagonis yang menyembunyikan kemampuannya."
Nina menjulurkan lidahnya, seakan dia tidak akan berhenti melakukannya. Sementara Riki tersenyum pahit.
Ada perasaan bahwa Nina terlihat imut sekarang, bukan sebagai anak kecil melainkan seorang gadis dewasa sesungguhnya.
"Lalu apa rencanamu ke depannya?" tanya Nina.
"Seperti yang aku katakan, aku hanya ingin menjalani kehidupanku yang normal di SMA, sesuatu yang tidak bisa aku lakukan dulu."
"Begitu."
Nina menepuk punggung Riki.
"Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, semua orang memang harus memiliki kebebasan sendiri... Mereka memang orang jahat yang dengan teganya mengambil kebebasan orang lain, pembulian memang sesuatu yang tidak layak di terima manusia bahkan orang yang melakukannya tidak pantas disebut manusia itu sendiri," Nina mengeluarkan isi hatinya yang sedikit ektrim.
"Terima kasih, ini memang telat tapi ngomong-ngomong Nina sangat cocok dengan pakaian SMA."
Saat mengetahui Riki menatapnya, pipi Nina tampak memerah.
"Walau kamu memalingkan wajahmu aku tahu wajahmu sekarang sedang memerah loh. Nina yang memerah memang sangat manis."
"Kyaaaaa... jangan melihatku."
"Eh?"
Riki yang kebingungan hanya bisa menatap Nina yang pergi meninggalkannya. Dia jelas telah berlebihan menggodanya.
__ADS_1