
Mai menarik katananya dengan elegan sementara di depannya adalah seorang pria dengan setelan serba hitam yang sebelumnya muncul di depan mobil yang dinaikinya, kulitnya seputih porselen dan rambut menutupi sebelah matanya, aura ketidak normalan muncul dari seluruh tubuhnya.
Tak lama si pria tertawa.
"Kau mendengarnya? Teriakan dan ketakutan manusia sungguh menyenangkan."
Mai memiringkan kepala lalu menjawab.
"Jangan salah paham, aku tidak peduli dengan manusia loh, kau mau membunuhnya atau tidak, bukan urusanku, aku datang kemari hanya untuk membunuhmu tidak lebih."
Diserang kata-kata itu, si pria mengerutkan keningnya.
"Kau tidak peduli dengan manusia walau kau sendiri manusia."
"Begitulah," jawab cepat Mai lalu melanjutkan.
"Manusia adalah mahluk munafik yang menipu orang lain demi keuntungannya sendiri, saling membunuh bukanlah itu hal wajar."
Si pria tertawa.
"Kau lebih pantas bergabung dengan kami dibanding di pihak manusia, bagaimana?"
"Ah maaf, aku tidak tertarik... yang ingin kulakukan hanya membunuh orang itu."
Mai mengelengkan kepalanya ke kiri ke kanan setelah berkata demikian. Dia menambahkan.
"Biar aku tanya, apa kau pemilik pohon itu?"
"Benar. Namaku Hexigon anggota Fallen."
"Jika aku membunuhmu, apa pohon itu akan mati juga?"
"Entahlah."
__ADS_1
"Yah, aku juga akan tahu setelah membunuhmu."
"Itu jelas mustahil."
Hexigon tersenyum masam saat Mai sudah berada di depannya sambil mengayunkan katananya.
Menggunakan momentum tersebut, sebuah bekas luka sudah terpahat di tubuh Hexigon sehingga dia mundur menjaga jarak.
"Teleportasi benar-benar merepotkan," selagi berkata demikian sebuah rantai sudah terjulur di tangan kanannya.
"Aku adalah tipe yang bersenang-senang sebelum membunuh mangsanya, tapi saat melihatmu sebaiknya aku harus membunuhmu secepatnya jika ada kesempatan," Hexigon mengatakan isi hatinya sebenarnya dan Mai membalas dengan senyum menyeringai.
Jika dilihat sekilas, manusia dan siluman seakan terbalik posisinya.
Mereka saling bertarung di udara dalam beberapa menit dan kemudian melompat menerjang untuk membunuh satu sama lain.
Hexigon melemparkan rantainya ke depan. Untuk lemparan pertama Mai bisa lolos, namun untuk yang kedua Hexigon berhasil melilit kaki Mai lalu dengan gaya tarikan yang kuat ia membanting Mai menembus gedung hingga hancur lalu menariknya kembali ke atas sebelum membantingnya ke bawah.
Itu terlihat sangat menyakitkan bagaimana kerusakannya terlihat begitu parah.
"Kekuatanmu memang hebat tapi kami sudah tahu kelemahanmu, teleportasimu itu membutuhkan waktu dari waktu ke waktu sampai bisa digunakan kembali, seiring digunakan maka waktu yang kau butuhkan semakin lama, benarkan?"
Mai memilih diam lalu berdiri kembali.
"Hoh... menarik. Aku jadi bersemangat untuk memotong-motong tubuhmu, hibur aku sampai lemas ya," ucapnya seakan dia terangsang dengan hal itu, sedangkan si pria tampak kesulitan menghadapi tingkah lakunya.
Yang jelas Mai seorang abnormal jika dibandingkan dengan manusia lain.
Keduanya kembali menyerang, Mai melompat selagi menebaskan pedangnya di udara untuk mengirim tebasan angin. Hexigon berhasil menghindarinya namun Mai telah muncul di depannya Hexigon mampu melewati tebasan berikutnya namun Tidka dengan sebuah tendangan Mai.
Dia meluncur menembus dua gedung sebelum membentur tiang listrik di bahu jalan.
"Sial," teriaknya.
__ADS_1
Tak ingin hanya diam dia juga meningkatkan kemampuannya.
Mai kembali mengirimkan pedang secara vertikal, di saat yang sama rantai Hexigon dapat menahannya. Wajah Mai terlihat kesal namun Hexigon tak ambil pusing.
Mai memburu seperti hewan liar, memutar pedangnya seakan ingin menebas padahal itu hanya tipuan untuk bisa menendang Hexigon kembali.
Cara seperti ini lebih efektif saat musuh hanya terus terarah pada senjatanya.
Hexigon terlempar ke belakang untuk kedua kalinya.
Terkubur dalam puing-puing, sebuah rantai melesat keluar dengan Mai sebagai targetnya. Walau ia berlari, melompat ke sana kemari rantai tak pernah berhenti mengejarnya. Jalan satu-satu hanya menebas.
Plang.
Katana bertubrukan dengan ujung rantai yang menyerupai tombak tersebut hingga menghasilkan kilatan cahaya. Hanya sebentar sampai rantai itu bergerak kembali menembus bahu kiri Mai.
Dengan sekali tebas Mai bisa memutus rantainya lalu membuang sisanya dari bahunya.
"Bagaimana, rasa sakit itu... menyenangkan." pria bersetelan hitam itu sudah berdiri selagi memandang Mai yang kesakitan.
"Tidak buruk."
"Yang selanjutnya akan lebih buruk lagi."
Sekarang dua rantai yang kini menargetkan Mai.
Mai memasukan katananya ke dalam sarungnya dengan posisi menyamping.
"Teknik rahasia, tebasan pertama."
Sekali ayunan cantik, bilah-bilah angin berterbangan dengan kecepatan kilat, dua rantai tersebut terpotong rapih seolah lebih rapuh dibanding sebuah kayu sementara bilah angin terus menerjang ke depan menargetkan Hexigon yang berdiri mematung.
Ia melompat ke samping di detik-detik akhir sehingga hanya gedung yang berada di belakangnya saja yang terpotong-potong dadu.
__ADS_1
Menyadari Mai tak berhenti menyerang, Hexigon mengarahkan tangannya. Namun sebelum rantai muncul. Mai sudah berdiri di bawah lengannya siap menebas dan sebuah tangan terbang begitu saja darinya.