Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 27: Anggota Tambahan


__ADS_3

Gang ini sempit dan juga merupakan gang buntu, aneh rasanya bahwa keberadaan Luis tak ditemukan di manapun. Riki memeriksa di dalam tong-tong sampah dan hasilnya tetap saja tidak ada.


"Jelas bahwa Luis memiliki dua kemampuan, itu bisa kekuatan sama seperti Mai atau menembus tembok."


Bagaimana Nina mengatakannya itu terdengar cukup keren.


"Bisa saja, kurasa kita bisa mencoba bertanya di sekitar sini."


"Tidak ada jalan lagi."


"Ngomong-ngomong Pricil bukannya kau bisa meminta para kucing untuk menunjukkan lokasi Luis pergi?"


"Kucing yang kutemui semuanya sangat egois, mereka akan menunjukan jalannya asal memberikan persediaan ikan selama setahun," balasnya suram.


Riki memilih untuk tidak bertanya lagi.


Pada akhirnya mereka menghentikan sebuah taksi dan meminta untuk diantarkan ke rumah sakit, itu cukup jauh tapi akhirnya mereka sampai juga.


Bagian sulit yang harus mereka lakukan baru dimulai sekarang.


Pricil yang bertanya ke arah resepsionis.


"Kami mencari pria berkulit gelap, rambut apro dan kacamata, apa dia atang kemari?"


"Ah, maksudmu Luis."


Semua orang mengangguk di waktu hampir bersamaan dan ada perasaan lega yang bisa mereka rasakan.


"Ia sering datang kemari untuk melihat adiknya, aku yakin ia baru saja tiba di sini... dia pasti berasa di kamar VIP lantai tiga."

__ADS_1


"Kami mengerti."


Setelah mengucapkan terima kasih ketiganya masuk, beruntung bahwa rumah sakit ini mengizinkan hewan peliharaan masuk asal berada dalam pengawasan ketat pemiliknya.


"Di sini."


Riki membuka pintu dan di ruangan itu tampak Luis sedang duduk di kursi selagi memegangi tangan adiknya yang tertidur di ranjang.


Berbeda dengan penampilannya adiknya adalah gadis yang cantik dengan kulit putih, bibir merah tipis serta rambut lurus hitam panjang.


Nyaris bertolak belakang dengan Luis sendiri.


Apa dia adik tiri?


Semua orang berfikir hal demikian tapi tidak ada siapapun yang berani menanyakannya saat situasinya seperti ini, namun sebagai gantinya Riki bertanya sesuatu yang berbeda.


"Kau tidak terkejut bahwa kami datang kemari?"


Luis mengalihkan pandangan ke arah adiknya lalu melanjutkan.


"Dia hanya satu-satunya keluarga beta, karena itulah seberapa keras kalian memaksa beta... beta tak akan pergi, beta harus tinggal di sini, menjaganya dan membiayai rumah sakitnya."


Nina mengerutkan keningnya dan berkata.


"Kau ini bodoh kah?"


"Hah."


"Jika kau ikut dengan kami, adikmu juga akan ikut.. bahkan organisasi kami akan membiayai perawatan rumah sakitnya sampai dia sembuh, kau juga akan memiliki tempat tinggal juga."

__ADS_1


"Beta tak percaya, apa kalian mencoba membohongi beta?"


"Kau ini? Bagi pemerintah hal seperti itu sangat mudah... aku akan menghubungi atasanku dan jika dia mau melakukan seperti apa yang kukatakan, kau tidak memiliki alasan untuk menolak lagi, paham."


Luis mengangguk sebagai jawaban sementara Nina mengambil ponsel untuk menghubungi Albert.


"Paman Albert, ini aku... ada yang ingin kami bahas denganmu."


Ia menjelaskan seluruh situasinya hingga setelah selesai ia memberikan ponsel itu pada Luis.


"Aku sudah mendengarmu, jika kamu bergabung kami tidak keberadaan melakukan semua yang dikatakan Nina."


"Te-terima kasih banyak."


"Kalau begitu aku menunggu kalian semua di markas."


Percakapan berakhir dan air mata jatuh dari wajah Luis, keheningan beberapa saat menyelimuti ruangan tersebut sampai Nina memotong.


"Karena kau sudah resmi bergabung maka mari kita rayakan dengan makan es krim."


Pricil yang lebih dulu menolak.


"Aku sudah tidak sanggup lagi makan itu, mari makan yang berbeda, benar kan Riki?"


"Memang benar, kita sudah terlalu sering, mari cari sesuatu yang berbeda."


"Dasar pengkhianat, apa kalian lupa kalau kita akan hidup dengan es krim setiap hari."


"Aku tidak ingat mengatakan itu."

__ADS_1


"Kau juga ikut Luis, cepatlah."


Luis berjalan mengikuti ketiganya ke luar ruangan, saat dia menoleh ke arah adiknya dari balik pintu yang hendak ia tutup, dia melihat bahwa adiknya sedang tersenyum kecil.


__ADS_2