Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 51 : Sebuah Perasaan


__ADS_3

Luis menatap Pricil dengan tatapan bersinar yang membuatnya tidak nyaman.


"A-apa?"


"Mungkin saja ada aktivitas malam terjadi saat kita tertidur."


Sebuah pukulan melayang di ubun-ubun kepala Luis.


"Bodoh."


"Beta cuma bercanda, kau malah memukul beta."


"Itu salahmu sendiri."


Luis mengerang kesakitan sementara Pricil meniup kepalan tangannya hingga tak lama kemudian orang yang dibicarakan muncul, ia turun dari taksi secara terburu-buru dengan wajah memerah selagi menekan dadanya.


"Ada apa Nina?" tanya Pricil.


"Lolicon.." jawab Nina singkat yang masuk ke gedung, sebenarnya alasan Nina seperti itu sangatlah sederhana. Dadanya tak berhenti berdenyut kencang.


"Lolicon mana, mana? Entar beta hajar...Dia tidak tahu siapa yang berkuasa di kota ini."


"Paling kau lari terbirit-birit sambil mengompol di celana."


"Oi."


"Bukannya kau ingin pergi, kenapa masih di sini?"


"Ah, aku harus ke rumah sakit.... aku pergi dulu."


"Luis?" panggil Pricil menghentikan langkahnya.


"Setidaknya ganti dulu bajumu...nanti kau di sangka orang gila lagi."


"Benar juga."


"Aku juga harus melihat keadaan Nina, mungkin saja dia sedang dalam masa puber."


"Puber? Umurnya lebih tua dari kita loh."


Mengabaikan kata-kata Luis, keduanya memasuki gedung. Prisil memasuki ruangan pusat dan mendapati Nina sedang duduk di kursi selagi memakan es krimnya.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja," tanya Pricil berjalan dari belakang


"Aku tak apa," Nina menjawab dengan wajah cemberut.


"Apa Riki melakukan sesuatu padamu? Aku pikir aku melihatmu tadi pergi bersamanya dan kau kembali dengan wajah memerah, apa terjadi sesuatu?"


Nina membuat raut wajah yang sulit dijelaskan, yang jelas Pricil berfikir terjadi sesuatu di antara keduanya. Dia hampir merasa apa yang dikatakan Luis bisa terjadi juga.


"Katakan saja, biar aku yang akan memukulnya nanti....pukulanku setara dengan seratus pria dewasa loh"


"Bu-bukan begitu, hanya saja dia bilang wajahku sangat manis, jantungku berdetak kencang lalu aku pergi meninggalkannya."


"Yaelah...kau meninggalkannya," Pricil menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana lagi..."


Lalu.


Suara telepon terdengar dari ponsel Pricil. Ia menghela nafas sebelum mengangkatnya.


"Oh Riki, ada apa?"


"Tadi aku bersama Nina tapi dia tiba tiba menghilang dan aku tidak bisa menemukannya."


"Eh! kenapa ada di sana?"


"Katanya tadi dia kebelet ke toilet jadi pulang ke sini."


"Sejauh itu..... Tapi syukurlah jika dia baik-baik saja, Aku akan berpatroli di kota lagi, sampai nanti."


"Oke."


Pricil menutup teleponnya lalu beralih ke Nina.


"Apa kau jatuh cinta padanya?" menerima pertanyaan itu Nina terlihat malu lalu menutupi wajahnya dengan es krim.


"I- iya."


"Kecuali Luis kurasa kami semua sudah tahu soal itu sih."


Ekpresi Nina menjadi panik.

__ADS_1


"Apa kelihatan, aaah."


Dengan tingkah lakunya sudah jelas mereka sudah menyadarinya.


"Kau sudah memberitahukan perasaanmu?"


"Belum."


"Kapan kau akan memberitahunya?"


"Aku tidak tahu."


Rentetan pertanyaan itu dijawab singkat oleh Nina.


"Aku tidak ingin membebaninya dengan perasaanku, lagipula Riki tidak mungkin menyukaiku."


Atas pernyataan Nina, Pricil mendesah pelan.


"Dengar Nina. Meski pada akhirnya kau ditolak setidaknya kau jujur pada perasaanmu, aku pikir Riki juga menyukaimu kurasa."


"Menurutmu begitu?"


"Kamu sering digendong dan diberikan permen olehnya dengan kata lain dia pasti memiliki perasaan seperti itu."


"Bukannya dia terlihat seperti karakter penjahat," teriaknya demikian.


"Bisa jadi sih, aku bisa membayangkannya," balas Pricil menatap langit-langit membayangkan saat Nina hanya meringkuk di trotoar dan Riki menggodanya dengan permen dan bunga.


Dia jelas akan ditangkap.


Pricil membuang pemikiran aneh itu lalu melanjutkan.


"Di zaman sekarang seorang gadis tak masalah untuk menyatakan perasaannya lebih dulu."


Nina menggelengkan kepala sebelum menjawab.


"Tak apa.....aku lebih suka seperti ini, tapi jika situasi kota menjadi baik tanpa siluman, aku pasti akan melakukannya."


"Begitukah, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, jika perlu bantuan jangan sungkan untuk memintanya."


"Aku pasti akan melakukannya, terima kasih."

__ADS_1


"Hmm."


Pricil mengangguk mantap.


__ADS_2