Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 56 : Sebuah Rumor


__ADS_3

Selepas pulang sekolah Luis, Claudia dan juga Riki telah berada di dasar kolam kering untuk membersihkannya, untuk Pricil tidak berada bersama mereka melainkan bersama Mai untuk mengerjakan tugas hariannya.


Sementara mereka menggosok lantai guru yang telah melibatkan mereka dengan hal ini tertawa lebar.


"Yah, aku sangat terbantu... karena aku selalu telat, kepala sekolah malah menghukumku untuk membersihkan kolam renang ini, dan aku bisa pulang setelah selesai."


Luis maupun Claudia mengalihkan pandangannya ke arah Riki dengan wajah kesulitan.


"Guru kita memang seperti ini aslinya, jangan khawatir. Bu Juli akan mentraktir kita nanti, benar begitu?"


"Tentu saja, apa kalian suka stik akan kuberikan itu jika kalian mau."


Kini kedua saudara itu menatap guru mereka dengan tatapan berbinar.


"Akan kulakukan dengan cepat."


"Aku juga."


Keduanya bergerak cepat untuk membersihkan sudut di sisi berbeda.


"Mereka teman-teman yang baik."


"Aku tidak ingin menyinggungmu guru, tapi... bukannya pakaian gurumu tidak cocok digunakan untuk bekerja seperti ini."


"Omong kosong, ini adalah pakaian bekerjaku, rok ketat, kemeja putih serta blazer indah ini sangatlah keren saat digunakan."


"Iyah, itu hanya akan menyulitkanmu bergerak."


"Pokoknya berikan aku sikatmu."


"Ini dia."


Riki bertugas menyemprotkan air dari selang di tangannya.


Juli mendesah pelan selagi menyeka wajahnya yang berkeringat.


"Sudah beres, aku lelah sekali."

__ADS_1


Dan tiba-tiba dia jatuh ke lantai.


"Uwaah, sakit... tolong siapa saja panggil ambulans."


"Anda cuma terpeleset dan juga lebih baik ada perhatikan rok anda."


"Whoaa."


Riki mendesah pelan, awalnya dia juga kaget dengan kepribadian guru ini. Sekilas ia ingat tentang pertemuan dengannya.


Malam itu Riki tengah mengendarai motornya sampai ia bertemu dengan seorang wanita yang menangis di sudut jalan.


"Kamu tidak apa-apa?"


Ketika keduanya menyadari satu sama lain, mereka terkejut.


"Ardhi," guru itu memeluknya dengan wajah hampir menangis.


"Kenapa Anda di sini?"


"Apa ini modus baru?"


"Tentu saja bukan, gurumu ini dalam kesusahan.. bukannya kamu bilang kamu tinggal sendirian, biarkan aku tinggal bersamamu."


"Itu bukan perkataan yang pantas dikatakan."


"Tak masalah aku akan memasak, mencuci pakaian dan juga menyiapkan makanan."


Riki tidak berminat bahkan ketika mendengarnya.


"Naiklah bu, kita cari kos-kosannya dan aku yang membayarnya."


"Tidak, aku tidak bisa menerimanya, aku seorang guru tidak pantas menerima pemberian dari muridnya."


"Yah sudah kalau tidak mau."


"Aku mengerti, tapi ibu hanya meminjam... nanti akan ibu bayar."

__ADS_1


"Baiklah."


Mereka menemukan sebuah tempat kos-kosan berlantai dua yang diisi khusus wanita. Pemiliknya tampak terkejut saat Riki memberikan gepokan uang padanya.


"Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu? Kamu tidak terlibat hal mencurigakan bukan?" tanya Juli.


"Aku bekerja sebagai anggota pemerintahan."


"Kamu pasti bercanda."


Ketika Riki menunjukkan tanda pengenalnya bahkan gurunya juga terkejut.


"Aku akan merahasiakannya."


"Aku berterima kasih."


Sejak itu mungkin hubungan mereka tidak seperti guru dan murid pada umumnya.


Riki mengulurkan tangannya untuk membantu Juli yang segera mungkin memperbaiki roknya.


"Kalian berdua?"


"Aku sudah selesai."


"Beta juga."


"Kalau begitu. Bu guru tolong traktirannya."


"Serahkan padaku."


Mereka mengunjungi restoran keluarga dan memesan stik yang dijanjikan. Claudia dan Luis hanya diam menikmati makanannya dengan senang sampai Juli memotong.


"Apa kalian sudah mendengar rumor belakangan ini?"


Ketiganya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban hingga guru tersebut melanjutkan.


"Singkatnya tentang rumor hantu."

__ADS_1


__ADS_2