
Karena rumor yang diceritakan kemarin malam, pada akhirnya Riki memilih untuk mengeceknya sendiri.
Dikatakan bahwa hantu itu sering mendiami kamar mandi perempuan dan kerap menangis di sana, walau tidak ada sangkut pautnya dengan siluman tetap saja Riki merasa bahwa hal ini tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia telah sampai di lokasi yang dimaksud.
Ia membuka pintu toilet dengan perlahan memeriksanya satu persatu demi menulusuri setiap pintu yang berjajar rapih tersebut, jika sampai ada orang yang melihatnya ia akan dicap sebagai orang mesum seumur hidupnya, karena itu ia berusaha untuk segera menyelesaikannya secepat mungkin.
Langkahnya terhenti di sebuah cermin.
Melihat dirinya sendiri terpantul disana membuat Riki ingat dirinya yang dulu.
Tubuhnya yang cungkring kini menjadi tubuh yang tegap dan berotot, matanya yang lemah berubah menjadi mata yang tajam.
Ketika mengingat masa lalu, tiba-tiba saja sebuah tulisan muncul di cermin. Tulisan itu di buat dengan darah, sebuah ciri khas dari penampakan.
PERGILAH DARI SINI ATAU AKU AKAN MENGUTUKMU.
"Berhentilah bercanda, harusnya kau menulis, Akan kubunuh kau, lalu mengeluarkan isi perutmu dan memakannya."
"Heeehhh! menyeramkan sekali.... apa hantu selalu menulis seperti itu?" tak lama terdengar suara gadis sebagai balasan.
Dari tembok yang tebal seorang gadis atau lebih tepatnya seorang hantu melayang keluar. Hantu itu terlihat seperti manusia pada umumnya, rambutnya diikat bergaya twintail dengan gaun one piece putih.
"Jadi kau hantu jeleknya yang selalu menakuti semua orang di tempat ini?"
"Tidak sopan, aku tidak pernah menakuti siapapun.. aku hanya memutuskan untuk tetap berada di sini selama yang kuinginkan, tunggu bagaimana kau bisa melihatku?"
"Aku memiliki kemampuan spiritual, cepatlah pergi dari sini agar semua orang tidak ketakutan lagi."
Gadis itu cemberut lalu melanjutkan.
"Aku baru pertama kali ini bertemu dengan orang tidak sopan seperti ini, setelah mengejekku sekarang kau ingin mengusirku, kau yang terburuk."
__ADS_1
"Yah bukan itu maksudku... kau sudah mati jadi kurasa tempatmu bukan di sini bukan."
"Aku belum mati, tubuhku masih terbaring di rumah sakit sekarang."
"Mati suri kah, kondisi roh keluar dari jasadnya... bisa untuk sementara waktu atau selamanya," Riki larut dalam pemikirannya.
Itu bukan sesuatu yang aneh lagi bagi sebagian orang.
"Ngomong-ngomong siapa namamu?"
Sebelum Riki menjawabnya ponsel yang dibawanya berdering, ia merogoh saku bajunya lalu meletakkannya di telinga.
"Ada apa?"
"Siluman muncul."
"Begitu, aku akan pergi sekarang."
"Aku harus pergi, kau diam saja di sini tapi jangan mengganggu orang lagi."
"Tunggu."
Mengabaikan perkataan si hantu, Riki meninggalkan sekolah menuju tempat yang di arahkan Nina. Tanpa terduga hantu itu terbang di dekat motornya.
"Kenapa kau mengikutiku."
"Kau telah mengejekku, jadi aku akan mengutukmu dengan mengikutimu kemana pun kau pergi."
"Kau ini.."
Riki memilih mengabaikannya untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Lalu kita kemana?" tanya si hantu.
"Aku akan melawan siluman?"
"Siluman? Maksudmu mahluk mengerikan yang bisa membunuh manusia itu."
"Kau pernah bertemu dengannya"
"Beberapa kali, karena menakutkan aku langsung lari.... aneh sekali rasanya siluman yang tadinya tidak terlihat bahkan tidak bisa menyerang manusia kini memiliki wujud monster dan memakan manusia."
"Kami juga sedang menyelidikinya."
"Kami?" si hantu memiringkan kepalanya.
"Badan penanggulangan serangan gaib, organisasi pemerintah untuk melawan para siluman."
"Wahh... terdengar keren, boleh aku bergabung?"
"Kau ini hantu jadi pasti tidak terlalu membantu."
"Tidak sopan, aku sangat hebat loh... buktinya aku bisa terbang."
"Semua hantu bisa melakukannya."
"Tidak mungkin?"
Hantu itu terkejut.
"Jika seseorang yang bisa terbang kami sudah memilikinya, terlebih dia masih hidup."
Diserang kenyataan tersebut si hantu itu terlihat lesu.
__ADS_1