
Di ruangan pelatihan Luis telah menyempurnakan pelatihannya, kini ia bisa meningkatkan kekuatan spiritualnya dua kali lipat dari sebelumnya.
Ia kembali ke ruangan pusat dan duduk di sofa.
Luis menatap langit-langit ruangan sambil memikirkan pertarungan yang telah ia lewati, kalau bukan karena Riki ia mungkin sudah kehilangan adiknya.
"Beta tak mungkin seperti ini terus, bagaimanapun juga beta harus melindungi banyak orang termasuk Claudia," membulatkan tekadnya Luis berdiri kembali, tadinya ia berniat melanjutkan latihannya namun ia mengurungkannya saat menyadari sepasang mata sedang memperhatikan.
"Sebaiknya kau tidak terlalu memaksakan diri loh."
"Nina?"
"Apa mau aku katakan pada adikmu?"
"Aku mengerti, untuk hari ini beta selesai."
Luis kembali duduk di sofa.
"Ngomong-ngomong aku punya pekerjaan untukmu?"
"Apa itu?"
"Ini adalah sesuatu yang sangat sulit dikerjakan dan hanya bisa dilakukan kamu yang sedang menganggur."
"Dari bicaramu beta merasakan firasat buruk." Luis tersenyum pahit, walau Nina terlihat seperti gadis kecil imut namun sebenarnya dia berusia lebih tua darinya dan setiap kali Luis menatapnya ia selalu tertipu dengan penampilannya, yang jelas saat Nina meminta bantuannya ia tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
Dia lemah terhadap sosok adik perempuan, namun dia harus berubah.
Beta harus menolak permintaannya, ucapnya demikian.
"Aku kehabisan es krim tolong belikan yah."
Luis sudah menduganya.
Keimutanmu tidak akan mempan padaku lagi.
"Aku ingin eskrim."
Tahan Luis, tahan Luis, dia cuma gadis loli.
Mata berbinar Nina mulai menyerangnya. Tak perlu waktu lama untuk dia menyerah.
"Ah, aku lupa membawa dompet...mohon bantuannya."
"Beta akan kembali lagi membawa eskrim, jangan pergi ke mana-mana."
"Terima kasih banyak."
Paling tidak Nina jelas akan menggantinya nanti.
Luis meninggalkan markas menuju toko toserba tidak jauh dari tempatnya sekarang, hanya 10 menit berjalan kaki dia sampai di tempat tujuan.
__ADS_1
Rambut afro dan pakaiannya selalu menarik banyak orang untuk melihatnya.
Dia mengambil beberapa eskrim di lemari es lalu meletakannya di keranjang belanjaan, karena terlanjur ke sini ia pun membeli beberapa kebutuhan alat mandinya seperti sabun, odol lalu beberapa shampo conditioner juga.
Karena rambutnya yang afro dan lembat itu, ia membutuhkan banyak shampo untuk membersihkannya.
Saat keluar toko tiba-tiba saja seekor siluman muncul di depan Luis.
"Kau pasti bercanda.." ia menatap seekor hewan raksasa sebesar lima meter dengan taring seperti gading gajah serta kulit seperti badak, tak hanya siluman yang menyerupai manusia terkadang ada juga siluman yang murni terlihat seperti hewan.
Di saat semua orang menjauh, Luis mendekat. Ia mengangkat pisau yang selalu dibawanya lalu menusukkannya di setiap tubuh musuhnya.
Siluman ini hanya bisa berteriak kesakitan, menyadari orang yang menyerangnya, Ia segera memosisikan dirinya ke mode menyerang. Menghentak tanah, siluman melesat bagaikan seekor banteng dengan Luis sebagai targetnya.
Luis mengangkat satu tangannya dan siluman itu ikut terangkat ke udara, ketika cukup tinggi Luis melepaskan telekenesisnya sehingga siluman itu jatuh menukik ke bawah dengan momentum yang sangat cepat.
Melihat musuh tak berdaya, Luis melesatkan sebuah besi dari lampu lalu lintas yang menembus jantungnya.
Luis menghembuskan nafas panjang setelah menyadari sesuatu yang penting, semua es krim yang dibawanya rusak.
Tak lama ponselnya langsung berbunyi, tak perlu menebak siapa yang meneleponnya, itu Nina.
"Aku melihatnya loh....hmmm kau hebat bisa mengalahkan seekor siluman dengan cepat, tapi ngomong-ngomong es krimku."
"Sepertinya beta merusaknya."
__ADS_1
"Apa boleh buat gunakan saja uangku. Aku akan mengambil dompetku dulu tolong kembali lagi ke sini."
"Seharusnya dari awal gunakan uangmu saja," teriak Luis demikian.