Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 69 : Pertempuran


__ADS_3

Pertarungan berlanjut antara Mai melawan Kros.


Kros menggunakan pedang kayunya membuat hembusan angin yang mematikan begitu pula Mai melakukan hal sama, hingga kekuatan itu saling bertubrukan di kedua sisi.


"Kudengar kau tidak bisa mati....apa tubuhmu beregenerasi dengan cepat," Mai berkata demikian.


"Ketahuan yah, itu benar aku bisa terus pulih dari luka fatal."


Mai tertawa .


"Apa ada yang lucu."


"Tidak, sepertinya kau salah melawan orang."


Kros kebingungan sementara Mai melanjutkan.


"Aku sudah tahu kelemahanmu."


"Mustahil?"


"Aku hanya harus memotong-motong tubuhmu sampai tubuhmu berhenti beregenerasi, batasannya sekitar 100 tebasan hmmmm untuk jaga-jaga akan kutebas 200 kali, bukan begitu Nina."


Nina mengangguk sedangkan Claudia dan Albert melirik padanya seolah ingin tahu jawabannya.


"Benar, dia tidak abadi.. dia hanya punya regenerasi cepat layaknya seekor hewan."


Kros tersenyum pahit.


"Kau?"


Kros maju menerjang ke depan namun itulah yang diinginkan Mai.

__ADS_1


Mai menyarungkan pedang dengan posisi menyamping.


"Ini adalah teknik rahasiaku," katanya.


Tanpa terlihat, Mai mengayunkan pedang lalu tubuh Kros langsung terpotong-potong begitu saja, ketika pulih dia terpotong-potong kembali, pulih terpotong-potong lagi secara terus menerus. Ketika tebasan ke 200 tubuh Kros tidak beregenerasi lagi, dia mati tanpa perlawanan, bahkan pedang kayunya sudah hancur dari awal.


"Aku berhasil mematikan bomnya."


"Kerja bagus Mai."


Di tempat lain Riki menembakan peluru ke arah si gadis kecil yang sudah berubah menjadi monster bertubuh besar, taring serta kuku layaknya monster tampak begitu menakutkan, padahal tadi dia adalah gadis kecil yang imut yang membawa boneka.


Saat ia bertubuh manusia ia tidak bisa menyentuh Riki, karena frustasi ia pun berubah menjadi mahluk mengerikan seperti ini.


"Dia kehilangan akal sehatnya," kata Riki selagi terus menembak.


"Apa boleh buat."


Tak membiarkan kesempatan itu, Riki melompat lalu memasukan beberapa bom ke dalam mulutnya lalu menjauh.


Bom itu meledak dengan dahsyat. Tubuh monster itu kini telah berserakan.


"Aku sudah selesai, aku juga sudah menghentikan bomnya.. Nina?"


Saat Riki mengkonfirmasi kemenangannya pada Nina, Ia tiba-tiba terputus. Mai muncul di depan Riki.


"Apa terjadi sesuatu?"


Tanpa menjawab Riki, Mai meraih bahunya dan mereka berteleportasi ke markas.


Bukannya bangunan berlantai yang mereka lihat melainkan sebuah tanah lapang luas tanpa bangunan apapun singkatnya itu hancur sampai rata dengan tanah. Di saat yang sama wanita berpakaian kimono muncul bersama tiga orang di belakangnya, mereka adalah Nina, Albert dan Claudia yang ketiganya diikat dengan bom.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa melawannya," ucap Claudia.


"Tak apa Claudia, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."


Claudia sedikit menangis, yang terpenting bahwa mereka masih hidup.


"Kalian sudah datang."


"Lepaskan mereka," teriak Riki sementara Riel tertawa.


''Tidak mungkin aku melakukannya, lagipula kalian juga sudah membunuh anak buahku dengan mudahnya."


Riki menatap tajam ke arahnya.


"Aku lupa mengatakannya ada bom kelima yang terikat di tubuh mereka, dan itu akan meledak dalam 10 menit, jadi kalian berdua harus mengalahkanku secepatnya."


"Kenapa kau melakukan ini semua?"


"Kenapa? Tentu saja untuk bersenang-senang, jika membunuh manusia langsung tidak akan menyenangkan seperti ini kan? Nah, ayo kalahkan aku."


Riki dan Mai menyerang bersamaan, jelas bahwa Riel mengabaikan orang-orang di belakangnya.


Riki yang biasa menggunakan senjata dari jarak jauh kini maju ke depan.


Mai menebas namun Riel menangkap pedangnya lalu melemparkan tubuh Mai menabrak Riki.


Riel melangkah maju, memukul di setiap sendi Mai dengan cepat hingga ia memuntahkan darah lalu menghantamkannya ke tanah.


Riki mengeluarkan Belatinya. Ia terus mengayunkannya untuk mengincar Riel. Sebelum mengenainya Riel bertukar tubuh dengan patung batu lalu muncul di belakang Riki.


Riel mencengkeram pundak Riki dari belakang selanjutnya melemparkannya menabrak gedung.

__ADS_1


"Ayo selesaikan ini," ucap Riki yang bangun kembali, Mai pun mengikuti dan berdiri selagi mengacungkan katananya.


__ADS_2