
Riki hanya bisa menghela nafas saat dia tahu bahwa Luis dan Pricil berada di kelas sama dengannya, tapi jauh lebih mengejutkan bahwa sosok Nina juga berada di sini dan duduk di pangkuan Riki.
"Kenapa Nina juga ada?"
"Aku sudah lama tidak merasakan kehidupan sekolah, tak masalah bukan."
Karena tubuhnya kecil dia bisa menyamar sesukanya, Riki pikir ini semua pasti pengaruh Albert, ia bisa membuat keadaan seperti ini bagai membalikan telapak tangannya.
Apapun itu mari pura-pura tidak tahu dan kembali ke rutinitas sekolah yang damai.
Pricil menjatuhkan kotak bekal raksasa di depan mereka.
Luis melihat dengan tatapan bersinar sedangkan Nina menatap ke arah Riki cemberut.
"Apa kau meminta Pricil membuatkan bekal untukmu?"
Nina jelas sangat cemburu.
"Tentu saja tidak, aku berniat pergi ke kantin, tapi Pricil bilang dia yang akan membuat bekal untuk kita semua."
"Itu benar, lebih hemat jika bawa bekal sendiri."
Apanya yang hemat jika makanannya sendiri sangat banyak.
"Dadar gulungnya enak, aku minta satu lagi."
"Silahkan."
__ADS_1
"Kau juga Mai?"
Dia muncul dengan kemampuan teleportasinya.
"Aku juga ingin mencobanya, jadi saat istirahat aku akan muncul di sini untuk mengambil jatahku."
Itu lebih aneh dari yang dia bayangkan namun di sisi lain, ini pertama kalinya ia makan dengan seseorang khususnya bersama seorang teman. Sejak sekolah dia hanya diganggu dan itu memberikan luka yang cukup sulit dilupakan.
Beberapa orang siswa lainnya berkerumun saat melihat pemandangan mereka bersama.
"Apa-apaan ini, apa sekolah kita punya idol seperti ini," kata salah satunya.
Nina, Mai dan juga Pricil merupakan gadis cantik tidak salah jika mereka semua menganggapnya demikian. Singkatnya mereka terlalu mencolok.
Luis dengan percaya diri berkata.
Tidak ada yang berusaha menyangkalnya, anggap saja itu hiburan untuknya.
Selepas istirahat mereka kembali ke kelas hingga menunggu jam sekolah berakhir. Anggota baru langsung latihan sedangkan Riki mengendarai motornya untuk mengawasi keadaan kota.
Dia menyalip beberapa mobil di depan, selanjutnya berhenti di sebuah toko yang telah digarisi oleh garis polisi.
Menurut laporan tempat ini menjadi serangan siluman serigala. Kebanyakan siluman menyerupai hewan apa mereka benar-benar siluman? Adalah apa yang dipikirkan Riki.
Tak ingin terganggu dengan pikiran tersebut dia menerobos masuk dan melihat bagaimana semuanya tampak berantakan.
Meja-meja hancur dan juga noda darah yang menempel sama sekali tidak dibersihkan dengan seharusnya.
__ADS_1
Ponsel Riki berbunyi dan ia mengangkat panggilan dari Nina di markas.
"Ada lima titik kemunculan di dekatmu Riki, tolong diurus."
"Aku mengerti."
Tanpa berkata apapun lagi Riki kembali mengendarai motornya, dia menembak siluman di dalam gang, rumah kosong, apartemen, di taman dan terakhir di jalanan saat mencoba menyerang manusia.
Itu mungkin siluman serigala yang dia cari, tidak ada bukti tentang makhluk apa ini sebenarnya, setelah Riki menghabisinya akan ada kelompok yang membersihkan kekacauan lalu memeriksanya, meski begitu tidak ada satupun yang tahu akan hal itu.
Riki kembali memacu kendaraannya dan ia berhenti tepat di seberang jalan saat tanpa sengaja melihat bayangan dari gadis yang pernah dia temui.
Orang itu adalah orang yang memiliki topeng iblis juga.
Ia turun lalu mengejarnya namun saat dia masuk ke dalam jalan kecil, sosoknya telah menghilang.
"Dia lenyap."
Tanpa disadari Riki, Kaede telah berada di atas gedung menatapnya dari topeng di wajahnya.
"Apa kita habisi saja orang itu?"
"Tidak perlu, aku tak ingin repot-repot melakukannya lagipula aku sudah menemukan tempat yang jauh lebih banyak orang untuk dibunuh."
"Jika kau bilang begitu, baiklah."
Seperti sebuah angin dia menghilang.
__ADS_1