
Riki memasuki gerbang sekolah lalu memarkir motornya di tempat semestinya, tidak seperti dulu ia datang ke sekolah dengan berjalan kaki, sekarang ia terlihat lebih bergaya dengan penampilan berbeda. Ia selalu menundukkan kepalanya ketika dia berjalan namun sekarang dia bisa berjalan normal seperti orang lainnya.
Beberapa siswi mulai berbisik-bisik tentang seberapa keren dia, tentu Riki tidak terpengaruh sedikit pun.
Yang terganggu tentang itu semua hanyalah Nina yang berjalan di sampingnya.
"Kau yakin ingin melakukan ini... padahal paman Albert bisa memberikanmu ijazah lebih cepat dengan nilai sempurna loh."
"Rasanya itu benar-benar sebuah kecurangan."
Riki tidak terlalu peduli dengan nilai yang ingin dia dapatkan, dia hanya mencoba sedikit mendapatkan hidupnya kembali sebagai siswa SMA.
Sebelum bertemu dengan Mai, sekolah adalah tempat menakutkan.
"Jika kau mengatakan itu, apa boleh buat? Bahkan ketika pelajar kita bisa izin dari sekolah."
"Pengaruh Pak Albert memang menganggumkan."
"Hmmmm sebenarnya Riki juga sama..... Dia bilang kau adalah orang penting bagi negara karena itulah ia memberiku kartu padamu."
"Id card ini."
"Aah, aku dan Mai tidak mendapatkan hal seperti itu... itu sama dengan pengenal setingkat perwira tinggi."
"Jadi kartu ini seperti itu, pantas saja."
__ADS_1
Riki dan Nina mulai berjalan di koridor, mereka berdua merasakan sepasang tatapan yang menembus mereka.
Di sekolah ini ada orang bernama Regi, ia adalah anak kepala sekolah sekaligus orang yang selalu membuli Riki bersama orang-orang yang sebelumnya dihabisi Mai.
Entah apa alasannya, hal itu juga berdampak pada yang lainnya. Jika yang lain tidak membuli Riki maka merekalah yang akan dibuli.
Sungguh dunia yang kejam bagi siswa SMA. bukan?
Seseorang terlihat berbisik saat Riki melewatinya, dengan keberadaan Regi semua orang masih menjaga jarak darinya, mereka takut jika suatu saat mereka mendapatkan masalah.
"Kenapa siswa itu?"
"Entahlah, setahuku aku tidak pernah melakukan hal salah terhadapnya tapi dia langsung membenciku."
"Orang aneh."
Luis, Claudia, Pricil melambai ke arah keduanya.
"Kalian baru datang, kemarilah kalian juga harus ikut bermain."
"Apa yang kalian mainkan?" tanya Nina.
"Lempar penghapus, kau hanya harus menjatuhkan penghapus lawan."
"Heh, kurasa terlihat menyenangkan."
__ADS_1
Luis menempatkan penghapus miliknya untuk mengenai penghapus Pricil, dengan dorongan jarinya dia mampu melesat penghapusnya namun hanya sebatas melesat melewatinya.
"Kebanyakan gaya, yang kau butuhkan hanyalah kekuatan."
Saat giliran Pricil, penghapusnya melesat tajam melewati pipi Luis, kemudian meledakan tembok jauh di dekat papan tulis.
"Ka-kau, kau ingin membunuh beta kah?"
"Sepertinya aku lupa menahan kekuatanku."
"Kalau begitu aku juga akan menggunakan kekuatanku sendiri."
Saat Luis hendak melepaskan kacamatanya hingga adiknya Claudia menghentikannya.
"Menggunakan kemampuan tembus pandang, tidak akan merubah apapun."
"Ugh, maafkan aku."
Luis sangat takut dengan adiknya, bagi Riki dia seorang Siscon.
Nina tersenyum bangga karena selalu menang. Terlepas dari itu, di kelas itu hanya mereka saja yang terlihat hidup, mau bagaimana lagi semuanya ada alasannya. Seorang siswa dengan ragu mendekati Riki, dia tidak mengatakan apapun kecuali menyerahkan surat padanya.
Jelas itu sebuah surat tantangan untuknya, untuk pergi ke atap sekolah.
Nina hendak menarik pistol yang disembunyikannya di paha.
__ADS_1
"Mau aku yang mengurusnya?"
"Tidak, biar aku saja... harusnya inilah yang kulakukan saat itu juga."