
Bagi Riki dia baru tahu bahwa kucing bermusuhan dengan serigala, mungkin mereka mirip dengan hewan tertentu namun apapun itu, dia memilih mengesampingkannya dulu.
"Mari selesaikan ini dengan cepat."
"Aah."
Keempat serigala yang masih hidup tampak marah dan mulai mengamuk, mereka mengangkat mobil lalu melemparkannya ke arah keduanya.
Selain Riki, Pricil menangkap mobil tersebut lalu melemparkannya kembali. Dua serigala terhantam dan meledak hingga tubuh mereka terpanggang.
Untuk sisanya mereka tertembak di kepala di jarak 10 cm. Memanfaatkan kegaduhan yang di buat Pricil, Riki mendekat dan melakukannya.
Perburuanpun selesai lebih cepat dari yang dibayangkan Riki.
"Terima kasih kau sudah datang," suara itu berasal dari gadis manis bernama Nina.
"Tak masalah, kita kan satu grup mulai sekarang, jika aku dalam masalah aku juga akan memanggil kalian"
Nina tersenyum sebagai balasan, karena merasakan keberadaan serigala berbeda Nina menghubungi Pricil melalui ponsel, beruntung bahwa Pricil sangatlah cepat.
"Kalau begitu dah."
Dia sangat buru-buru hingga masih mengenakan piyama.
"Jangan lupa, besok kita akan pergi siang hari."
"Aku tahu."
Riki menyampaikan hal itu sementara Pricil melambai pergi.
"Kita juga harus kembali."
__ADS_1
"Ah iya."
Keduanya meninggalkan lokasi.
Setelah melamporkan semua yang terjadi pada polisi yang datang ke hotel, mereka berterima kasih dan memberikan sejumlah uang pada keduanya. Namun Riki menolak dengan alasan bahwa mereka juga telah dibayar dengan tugas yang sama.
Dan sekarang, ia bersama Nina berada di sebuah taman yang dihiasi bunga-bunga indah. Mereka duduk di kursi taman sambil menatap beberapa orang yang sedang berolah raga sembari tertawa bergurau.
Ini adalah pagi yang damai.
"Bikin iri kan," suara Riki lemah namun terdengar lembut.
"Maksud kau mereka."
"Iya, aku terkadang berpikir ingin hidup seperti mereka namun kurasa itu tidak akan terjadi."
Riki mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa itu artinya aku akan ditangkap?"
"Tergantung apa yang kau lakukan padaku nanti."
Mendengar perkataan Nina, Riki membalas dengan senyuman pahit, jelas sekali keduanya mencoba untuk menggoda satu sama lain.
Dia melanjutkan.
"Karena aku lemah dan yatim piatu sering sekali orang menjauhiku."
"Kurasa kau tidak lemah buktinya kau berjuang sampai sekarang. Apa salahnya yatim piatu kau masih punya aku, Albert, ada Mai juga. Bukannya itu terlihat seperti keluarga. Ah kalau mau kau bisa menikahiku juga nanti."
Nina segera menutupi wajahnya karena berkata demikian, wajahnya merah tomat namun dia tidak memilih menarik perkataannya. Dan Riki pikir itu hanya candaan semata.
__ADS_1
"Kurasa kau benar."
"Soal menikah denganku?"
"Soal sebelumnya."
"Tentu saja, aku benar," ucap Nina berpose bangga.
Keheningan terasa diantara keduanya kendati demikian keheningan itu terasa nyaman, bagi Nina untuk pertama kalinya di sepanjang hidupnya ia berbicara seperti ini dengan orang lain. tidak hanya Riki, ia juga selalu merasa kesepian.
Nina terlahir dari keluarga kaya raya dan selama ini orang tuanya tidak pernah ada untuknya karena kesibukan mereka. Di sekolahpun demikian, karena bakat yang dimilikinya semua orang selalu menganggapnya orang aneh.
Setiap harinya loker maupun mejanya di coret-coret, karena itu juga Nina memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah lagi dan Albert menawarinya saat tak sengaja bertemu dengannya.
Manusia adalah makhluk yang mudah iri serta merasa benci pada orang yang berbeda dengannya, ia selalu beranggapan demikian.
Tapi saat ia bertemu Albert, itulah dimana ia merasa dibutuhkan.
Nina menggelengkan kepalanya untuk tidak memikirkan soal masa lalunya, yang terpenting adalah kehidupannya yang sekarang. Manusia harus terus bergerak maju untuk merubah masa lalu yang kelam menjadi kebahagiaan.
Hanya itulah yang bisa orang lakukan.
Riki berdiri dari tempat duduknya selagi menyodorkan tangannya.
"Mau makan es krim."
"Tentu saja, pesan satu ember."
"Terlalu banyak."
Angin lembut membelai rambut Nina saat ia tersenyum manis.
__ADS_1