
"Kalau begitu biar aku coba."
Claudia maju selangkah untuk menyentuhkan tangannya di pohon tersebut dan dalam sekejap es menyeruak dari tangannya kemudian membungkus pohon tersebut secara menyeluruh namun itu tidak lama sampai es miliknya dihisap.
Bagaimanapun es awalnya air juga.
"Gagal."
Menyadari keberadaan yang mengancam, tiba tiba pohon itu menjatuhkan beberapa buahnya ke tanah, buah itu berbentuk oval berwarna merah terang, tak lama kemudian dari buah itu muncul tangan, kaki, mata serta mulut yang bergerigi.
Bagaimana pun melihatnya, itu mirip seperti monster.
Riki mengangkat pistolnya saat semua orang menjauh dari pohon tersebut.
"Yang jelas kita hadapi dulu saja mereka, dan lihat apa yang bisa kita lakukan dengan pohonnya."
"Dimengerti."
Riki dan Pricil menerjang ke depan selagi menghabisi monster yang menyerang mereka lebih dulu. Untuk Luis serta Claudia sendiri mereka memilih monster yang menargetkan mereka saja.
Luis menembakan pisau terbang yang dikendalikannya dengan telekenesis hingga 10 dari mereka tumbang, di saat yang sama Claudia datang dengan esnya, membekukan mereka dengan indah.
Kedua saudara ini, jelas sangat mahir dalam bekerja sama.
Sementara itu Pricil sudah mengoyak banyak monster dengan cakarnya. Dia sempat bergumam "Lemah," pada musuhnya sebelum bergerak kembali menerobos selagi mengayunkan cakarnya.
Cakar itu panjangnya sekitar 5 cm saat mengenai musuhnya cakar itu bisa memotong rapih layaknya bilah pedang.
Satu monster berhasil menyelinap untuk menyerang dari atas kepala Pricil, hanya dengan satu tembakan monster tersebut meledak yang mana itu semua merupakan serangan Riki.
__ADS_1
Monster-monster lain mulai turut berjatuhan.
"Terima kasih."
"Jangan lengah."
"Aku tahu," jawab singkat Pricil selagi menggembungkan pipinya.
Riki kembali mengisi pistolnya dan kemudian kembali menembak saat salah satu monster menerjang ke arahnya, memamfaatkan jarak yang semakin menyempit ia membantingnya ke tanah dengan sebuah tarikan lalu menembaknya mati.
Dia sudah tidak tahu kapan dia mulai terbiasa bertarung seperti ini.
Lima monster berhasil tumbang oleh kekuatan Luis hingga ia menyeringai bangga sementara Riki yang melihatnya tersenyum pahit.
Tidak lagi memperhatikannya, Riki menarik pistol baru untuk meningkatkan serangannya dua kali lipat, dia menembakkannya secara bergantian tanpa henti.
Dua monster balik menyerang dari sisi kiri kanan, Riki melompat ke belakang sembari menjatuhi granat di bawah kakinya hingga kedua monster itu meledak dahsyat.
"Percuma saja, tak ada habisnya Riki, monster ini terus berjatuhan dari pohon."
Riki terdiam sesaat, sebelum menekan erphone di telinganya.
"Nina, kamu masih di sana."
"Ya."
"Bisakah kamu menyediakan pestisida sebanyak mungkin lalu mengirimnya kemari?"
"Aku bisa saja, kurasa perlu waktu beberapa menit untuk sampai."
__ADS_1
"Tolong siapkan."
"Aku mengerti."
Nina mengalihkan pembicaraan ke arah Albert.
"Pak Albert, sudah waktunya Anda bekerja."
"Serahkan padaku."
Telekomunikasi pun berakhir.
Riki mengalihkan pandangannya ke Luis, dia berkata setelah membuang nafas panjang.
"Luis, waktunya untukmu serius."
"Aku sudah serius sejak tadi."
"Jangan terpaut dengan pisau, gunakan apapun di sekelilingmu juga."
"Ah, benar juga "
"Claudia jangan terlalu memaksakan diri, kamu bisa menggunakan ini juga."
Riki melempar pistol padanya yang mana ditangkap baik olehnya.
"Aku mengerti."
Riki melanjutkan selagi mempersiapkan granat di tangannya lalu melemparkannya jauh hingga terdengar sebuah ledakan.
__ADS_1
"Tidak masalah untuk menyerang pohonnya juga jika memungkinkan," kata Riki yang dibalas anggukan semua orang.
Sampai pesanan Riki muncul mereka harus sebisa mungkin bertahan.