
Luis akhirnya tiba di rumah sakit dengan cara tebang. Ia sekarang berada di atap rumah sakit, bukan karena tidak ada alasan kenapa ia mendarat di sini itu karena adiknya akan muncul sebentar lagi disini.
Kondisi adiknya telah kian membaik dan ini hanyalah pemeriksaan kesehatannya yang terakhir untuk memastikan bahwa dirinya telah sembuh secara total walaupun Luis memang sudah yakin bahwa dia baik-baik saja bagaimana sebelumnya dia ikut dalam pertarungan melawan pohon raksasa.
Pintu atap terbuka menampilkan adik Luis bernama Claudia.
"Kakak," katanya melambaikan tangan saat melihat keberadaan Luis dengan cepat.
"Seperti yang kau katakan aku muncul di atap, untuk menjemputmu."
"Hehe."
Alasan dia meminta kakaknya untuk berada di sini hanyalah ingin merasakan terbang. Caludia berjalan mendekat, lalu menengadahkan tangan pada Luis.
"Aku siap untuk terbang."
"Jadi itu alasanmu."
Dari dulu adiknya memang ingin merasakan bagaimana dia terbang dan jelas bahwa impian itu tidak pernah terlupakan olehnya.
Luis tersenyum kecil saat tangan mereka saling berpegangan selanjutnya, keduanya melayang untuk meninggalkannya pijakannya.
"Ini benar-benar luar biasa."
"Kau masih kekanak-kanakan."
"Biarin."
Setelah kehilangan orang tuanya, mereka hanya hidup berdua saja karena itulah bagi Luis saat dia melihat adiknya telah sembuh adalah anugerah yang sangat membahagiakan di hidupnya.
Keduanya kembali mendaratkan kakinya di atap.
"Kita tidak pergi."
"Sebelum itu kakakmu juga ingin melihat kemampuanmu."
"Hoh, jika itu mau kakak maka akan kutunjukan juga."
Claudia mengangkat satu tangannya lalu terciptalah es berbentuk burung, tak lama kemudian burung itu terbang bebas seakan hidup.
"Kau bisa membuat mahluk hidup?" teriak Luis.
__ADS_1
"Salah, aku hanya menggerakannya dengan pikiranku, tapi hanya sebatas es yang aku buat."
"Begitu, itu bakar luar biasa."
Sudah jelas bahwa keduanya memiliki dua kemampuan yang berbeda. Keheningan sesaat terasa diantara keduanya sampai sesuatu yang besar menghantam pintu.
"Sudah kuduga, aku merasakan energi spiritual yang kuat dari kalian berdua.... Membunuh kalian akan meningkatkan kekuatanku."
Luis dan Claudia memandang asal suara, di sana berdiri seorang laki-laki menggunakan topeng iblis bertulis empat di dekat pintu yang hancur.
"Akulah yang terkuat. Aku akan menghancurkan seluruh kekuatan yang ada di dunia ini dan menjadi yang terkuat selamanya, TERKUAT." Dia berteriak seakan suaranya ingin bisa terdengar semua orang.
Bersamaan dengan itu terdengar bunyi dering dari ponsel Luis.
"Ada topeng iblis muncul di sekitarmu," itu adalah suara Nina.
"Beta sudah tahu, dia ada di depanku sekarang."
"Apa? Tunggu sebentar akan aku panggil yang lainnya."
"Tolong cepatlah. Beta sudah gemetaran ini." jawab Luis menutup terlepon.
"Kakakmu ini akan menghadapinya, kau sembunyi saja dulu."
"Tapi..."
"Sudah lakukan."
Claudia mundur ke belakang.
Hanya mereka berdua yang saling berhadapan.
Luis mengusap rambut afronya.
"Beta sungguh tak ingin bertarung denganmu, bisakah kau pergi dari sini saja."
"Itu tidak bisa, aku harus menjadi yang terkuat di dunia ini, bagaimanapun caranya."
"Siapa namamu?"
"Regi."
__ADS_1
"Aku tidak pernah dengar."
"Tak masalah karena kau juga akan mati di sini."
Regi yang telah kerasukan menerjang ke depan selagi mengayunkan pedangnya dari samping, ia berniat memotong Luis menjadi dua bagian namun Luis menghentikannya dengan telekenesis lalu mendorongnya kembali ke belakang. Tubuh Regi terhempas sejajar dengan lantai tapi tak lama ia pun berdiri kembali.
Regi tertawa sembari memainkan senjata yang terlihat seperti kail pancing tersebut di tangannya yang sudah ternoda darah.
"Kau benar-benar tangguh, aku jadi berminat untuk membunuhmu," si topeng tengkorak menatap Luis dengan mata merah.
Luis menggerakkan besi pembatas atap lalu mengirimnya ke tangannya seperti sebuah tongkat.
"Aku sudah banyak berlatih, akan kutunjukan seberapa kuat diriku."
Luis melangkah maju begitu pula Regi.
Pedangnya adalah sebuah senjata dengan gaya bertarung jarak menengah, oleh karenanya Luis akan mencoba untuk bertarung sangat dekat dengannya.
Luis memutar tongkatnya bagaikan ahli kungfu dan Regi menerimanya dengan mantap lalu membalas serangan, pertarungan itu terlihat seimbang dengan mereka saling pukul dan bertahan satu sama lain.
Luis menunduk saat pedang di arahkan ke lehernya. Mendapatkan celah kosong Luis menusukan tongkatnya dari bawah. Dengan momentum itu setengah dari tongkat besi menebus perut Regi.
"Kau pasti bercanda," seakan tidak merasa sakit, Regi segera mencengkeram wajah Luis lalu melemparnya jauh ke luar area pertempuran di sana tidak ada pijakan dan luis terjatuh ke bawah.
"Kakak?"
Claudia menembakan tombak es sayangnya Regi hanya mematahkannya dengan mudah.
"Lebih baik kau duluan yang kubunuh."
"Hentikan, lawanmu adalah aku," potong Luis.
Kalau bukan karena kekuatannya yang membuatnya bisa melayang, ia pasti sudah mati seperti sebuah telur yang dijatuhkan dari ketinggian.
"Menarik."
Pertarungan yang sulit akan mulai terjadi saat ini.
Luis mengangkat kedua tangannya hingga bersamaan itu sebagian kaca gedung hancur lalu pecahan kaca melayang di sekitar Luis.
Di bawah ancaman tersebut, Regi tertawa.
__ADS_1