
Setibanya di sana mereka menyewa hotel kembali, Nina dan Pricil berada di satu kamar sedangkan Riki di kamar yang lain.
"Sedang apa?" Pricil berkata demikian saat melihat Nina yang asyik membuat sesuatu di buku sketsanya.
"Buat senjata," jawabnya singkat.
"Apa buatku?"
Nina mengangguk mengiyakan.
"Boleh lihat?"
"Kau boleh melihatnya saat keseluruhannya sudah jadi."
"Dasar pelit."
Nina tersenyum kecil, baginya obrolan seperti inilah yang membuatnya merasa nyaman.
Pagi berikutnya mereka mulai menjelajahi kota, menghentikan langkahnya di depan bangunan, Nina menoleh ke arah pintu yang mencurigakan, pintu itu dicat merah dengan tengkorak tergambar di atasnya.
Pricil tampak ragu untuk memasukinya namun disinilah tempat anggota baru mereka selanjutnya. Maka dengan alasan itu Pricil tidak bisa menolak.
Menghela nafas sekali, Pricil mengikuti Riki yang sudah melewati pintu yang terbuka, Nina tepat berada di belakangnya.
Di dalamnya hanyalah sebuah lorong gelap dengan cahaya lampu remang-remang, entah kenapa terasa berada di film horor, pikir Pricil dalam hati.
__ADS_1
Dia membayangkan kalau akan ada penampakan atau sejenisnya saat mereka masuk lebih dalam, namun pikiran itu segera dihancurkan tatkala sinar lampu yang terang menerpanya.
Di depannya adalah sebuah arena ring yang luas, si pembawa acara mulai berteriak antusias yang mana membawa penonton ke arah sorakan.
"Dan sekarang Pertandingan Finalnya. Kita panggil juara 3 kali berturut turut, KING."
Pria bertelanjang dada, bersarung tinju, masuk dari sisi lain.
Mendengar nama itu dipanggil, semua penonton bergemuruh bahkan sebagian penonton wanita nampak pingsan dan harus ditandu keluar. Pricil yang melihatnya menunjukkan wajah bermasalah.
Tidak salah lagi bahwa mereka sekarang berada di sebuah area untuk seseorang berduel.
Nina menunjuk orang tersebut dan berkata :
"Dialah orangnya."
Pricil dan Riki tidak bermaksud meragukan kemampuan Nina hanya saja orang tersebut jauh dari gambaran mereka, orang bernama King ini bertumbuh besar dengan kepala plontos, wajahnya sangar serta dipenuhi tato dari dada sampai perutnya.
"Selanjutnya orang yang akan menjadi lawannya adalah Volt, penantang baru kita ini sangat luar biasa dia mampu melawan pesaingnya hanya sekali pukul... Siapakah di antara keduanya yang akan menjadi juaranya. Kita lihat pertandingan mereka."
Bersamaan kata-kata si pembawa acara suara bel terdengar.
keduanya saling pukul dan bertahan, hingga sampai ronde lima tak peduli Volt membalas pukulannya pemenangnya sudah diputuskan.. Kinglah yang keluar menjadi juaranya.
Nina mengalihkan pandangannya ke arah Riki. Matanya seakan meragukan orang yang bertanding barusan.
__ADS_1
"Karena sudah telanjur kesini kita coba dulu saja," kata Riki dibalas anggukan keduanya.
Itu adalah sebuah ruangan yang dikhususkan bagi petarung yang bertanding.
"Hah! Badan penanggulangan serangan gaib, aku tidak pernah mendengarnya," orang bernama King tertawa terbahak bahak di samping kiri, kanannya wanita cantik dengan pakaian tidak senonoh ikut tertawa.
"Bagaimana dengan bayarannya?"
"Kami tidak dibayar, ini hanya kerja suka rela."
Rikilah yang menjawab pertanyaan itu, tentu saja itu adalah kebohongan demi menguji lawan bicaranya.
"Cih.... Mana Sudi, aku bergabung tanpa di bayar....tapi..."
King menatap ke arah Pricil yang bersembunyi di balik badan Riki. Ia mengangkat satu alisnya.
"Bagaimana kalau kau berikan gadis itu kepadaku sebagai bayarannya."
Bukannya jawaban yang diterimanya, Riki malah mengacungkan pistol miliknya padanya dengan mata dingin yang mana membuat ketiga orang itu terkejut.
Nina di sampingnya tersenyum kecil, sedangkan Pricil menjulurkan lidahnya mengejek.
"Tunggu... kau ingin membunuh manusia."
"Aku akan menganggap perkataan barusan tidak pernah terjadi dan kami juga tidak pernah mengajakmu bergabung, jika kau mengungkitnya lagi aku akan meledakan isi kepalamu."
__ADS_1
Bagi Nina yang tahu kepribadian Riki ini hanyalah semacam gertakan, apapun itu yang terpenting mereka bisa mengatasi hal ini dengan baik.