Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 23 : Lepas Landas


__ADS_3

Siang hari itu, keduanya sudah berada di atap hotel, Pricil duduk di atas koper yang ia bawa sambil mendesah bosan. Di sampingnya Nina melakukan hal sama.


"Dimana Riki?"


"Riki lagi ngurusin check out."


"Begitu.....aku benar benar terkejut saat tau Nina ternyata sudah dewasa. Bagiku kau terlihat di usia 7 tahun atau 10 tahunan deh."


"Yang bener, bagaimana menurutmu, aku gadis seperti apa?"


Pricil meletakan jarinya di bibir seakan memikirkannya dengan serius.


"Gadis manis yang imut...hanya saja, tidak ada daya tarik seksual yang terpancar darimu."


"Kau mengejekku.."


"Maaf, cuma bercanda," balasnya selagi melet kucing.


"Tap benar juga aku memang sudah berhenti tumbuh," Nina mendesah panjang.


"Yah, tenang saja...Riki bukan seorang seperti itu, dia pasti akan menyukaimu."


Mendengar nama Riki disebutkan, Nina melompat dari tempat duduknya.


"A-apa, yang kau katakan?"


"Kau menyukainya kan, terlihat jelas di wajahmu loh... sebagai teman, aku akan mendukungmu."


Selagi memegangi pipinya wajah Nina berubah menjadi merah tomat.


"Tolong jangan mengatakan hal yang aneh aneh."


"Lah berubah ke mode pemalu, Riki kau sudah datang."


"Riki?"


Nina berbalik namun tidak ada siapapun di sana.


"Kau menipuku."


"Tae-hee...." Pricil melet kucing kembali sementara Nina kembali duduk di sampingnya.


Obrolan itu tidak berarti namun paling tidak membuang rasa canggung di antara keduanya. Nina mengalihkan pandangan ke arah hewan yang berada di dekat Pricil.

__ADS_1


"Apa kau yakin akan membawa kucing?"


"Namanya Little, dia temanku, aku tidak bisa membawa semuanya jadi yang lain kutitipkan ke orang tuaku."


"Begitu... Dia jantan atau betina?"


"Jantan, dia bilang kamu sangat cantik, dia akan menyerangmu saat tertidur loh."


"Aku akan membunuhnya sekarang."


"Jangan, jangan aku cuma bercanda... Dia betina, betina, tolong singkirkan pistol itu, tolonglah"


"Tak apa Little, dia cuma bercanda."


(Aku baru melihat orang segalaknya)


"Begitu ahaha."


"Dia bilang apa?"


"Bukan apa-apa."


Kemampuan Pricil adalah berbicara dengan para kucing jadi hanya dialah yang mengetahui apa yang dikatakan Little.


"Weh, ternyata kau musisi Riki."


"Bukan, ini senjataku."


"Kau akan mengalahkan siluman dengan gitar, Amazing."


"Jika aku menggunakan gitar aku bisa mati."


"Memang benar sih."


Riki menunjukan senjatanya dan Pricil menatapnya dengan mata berbinar.


"Ninalah yang membuatnya, ia bisa membuat senjata apapun sesuai yang diinginkan pemiliknya."


Sekarang Pricil menatap Nina dengan berbinar-binar.


"Aku juga mau, tolong buatin aku juga dong."


"Tidak mau, buat saja sendiri."

__ADS_1


"Begitu, Riki sebenarnya Nina mengkhawatirkan sesuatu."


"Sesuatu?"


Sebelum Pricil berhasil mengatakan rahasia Nina, mulutnya sudah ditutup dengan tangan.


"Akan kubuat...akan kubuat, jadi jangan mengatakan aku yang khawatir dengan dadaku."


Pricil mengangguk mantap.


Riki pura-pura tidak mendengar hal barusan.


Setelah cukup lama menunggu helikopter mereka sudah tiba, angin kuat berputar di sekelilingnya dan saat mendarat barulah ketiganya naik untuk lepas landas.


"Kemana kita," tanya Pricil


"Nusa tenggara timur," jawab Nina apa adanya.


"Yang bener," mata Pricil seketika berbinar kembali seakan seekor kucing tengah menemukan ikan asin jatuh dari langit.


"Aku ingin ke pantai pink," lanjutnya.


"Ingat, kita tidak datang untuk berwisata setelah menemukan anggota terakhir kita akan langsung kembali ke Jakarta."


"Kenapa? Sayang kan kalau kita lewatkan keindahan pantainya, kudengar banyak wanita yang memakai pakaian renang, mau lihat?"


"Sepertinya itu terlihat menarik."


"Riki?" panggil Nina.


"Kurasa kita bisa bersantai beberapa jam sebelum kembali kan."


"Yah apa boleh buat."


Pricil memeluk Nina dengan senang, walaupun jelas Nina merasa tidak nyaman dan akhirnya memicingkan mata ke arah Riki.


"Apa kau ingin melihatku mengenakan pakaian renang?"


Jika dia bilang tidak ingin melihatnya mungkin dia akan dihajar, karena itulah Riki memilih jawaban yang aman untuknya.


"Tentu saja."


"Kalau begitu aku harus menyiapkan satu yang imut."

__ADS_1


Pricil tampak menikmati situasi mereka sebelum akhirnya melihat pemandangan ke luar jendela. Dari sana ia bisa melihat kota kelahirannya yang semakin menjauh.


__ADS_2