Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 36 : Musuh Yang Dihadapi


__ADS_3

Di ruangan markas Mei Ling, semua orang telah berkumpul untuk membahas soal makhluk yang mereka hadapi. Mei Ling sudah mendapatkan informasi dari organisasi yang lain di kawasan WIT dan sekarang ia memberikan informasi itu pada kelompok Nina.


"Topeng iblis," ucapan itu keluar dari mulut Nina.


Seorang yang dikalahkan oleh Riki sebelumnya bisa dibilang pengguna topeng iblis. Pricil yang duduk selagi mengelus Little di pangkuannya tampak meringis.


"Makhluk itu jelas sangat kuat."


"Aku juga berfikiran sama," tambah Riki, berbeda saat melawan siluman mereka benar-benar jauh berada di atas terlebih soal kemampuan.


Nina mengajukan pertanyaan pada Mei Ling.


"Jadi apa ada yang lainnya?"


"Benar, ada dua lagi yang baru masuk ke wilayahku.. mereka masing-masing menggunakan pedang dan membunuh secara membabi-buta, tidak ada yang tahu alasannya tapi yang jelas mereka seperti orang yang gila."


Jika mengingatnya kembali Riki juga bersependapat sama. Dengan kekuatan sebesar itu tidak ada yang mungkin bisa mengendalikannya.


"Karena kami sudah di sini kami akan turut membantu," perkataan Nina dibalas dengan anggukan rekan setimnya.


"Terima kasih banyak, kami benar-benar terbantu."


Setelah beristirahat semalaman Riki mengambil kursi pemudi untuk mengendalikan mobilnya, di sampingnya Nina tampak mengembungkan pipinya.


"Biarkan aku menyetir juga," ucapnya demikian.


Itu akan sulit bagaimana kaki Nina bahkan tidak sampai pada pedal gas ataupun rem.

__ADS_1


Dari belakang Mei Ling berkata.


"Nina lebih baik mengendarai mobil kecil yang ada di tempat-tempat pasar malam itu."


Pricil dan Riki bisa membayangkannya.


Itu akan terlihat menggemaskan.


"Kau meledekku, kau juga tidak tinggi-tinggi amat."


"Paling tidak kakiku masih sampai saat mengendarai mobil ini."


"Aku kalah."


"Jangan khawatir sepertinya Riki suka yang kecil, dia lolicon."


"Aku bukan lolicon, secara harfiah umur Nina sudah remaja."


Keduanya memalingkan wajah dengan wajah memerah dan Pricil memotong.


"Ngomong-ngomong apa Luis tidak diajak?"


"Aku membiarkannya tetap bersama adiknya," ucap Nina.


"Ah begitu."


"Di perempatan depan belok kanan."

__ADS_1


"Baik."


Mereka tiba di sebuah apartemen rusun, setelah memarkir mobil seenaknya petugas keamanan menghentikannya, namun saat dia melihat lencana mereka dibiarkan masuk.


Mereka naik ke lantai 5, dan menemukan sebuah pintu di paling ujung koridor.


Ketika mereka mengetuknya tidak ada balasan, Riki menempelkan telinganya di pintu, kemudian berteriak.


"Menjauh dari pintu!" bersamaan itu, pintu terbanting jauh ke depan kemudian jatuh ke bawah.


Riki menarik pistolnya lalu menyelinap untuk memperhatikan dua orang dengan topeng iblis di wajahnya yang secara serempak menjatuhkan diri ke bawah.


Semua orang buru-buru memperhatikannya dan kedua orang itu mendarat dengan baik di tanah dengan menciptakan lubang berdiameter 10 meter sebelum berpencar.


"Mereka merepotkan."


Pada akhirnya mereka bisa melarikan diri dengan cara seperti itu.


"Aku dan Nina akan mengejar yang ini, kalian satu lagi."


"Baik."


Begitulah mereka mengejar keduanya.


Nina menggunakan kamera drone yang menyatu dengan kacamata di wajahnya.


"Mereka tidak berusaha melarikan diri."

__ADS_1


Menanggapi perkataan Nina, Riki bisa melihat tumpukan mobil yang dibuat menggunung, di bagian paling atas dia melihat seorang dengan topeng iblis di wajahnya. Sama seperti melawan King ada nomor di bagian keningnya bertuliskan 2.


"Kalian benar-benar mengejarku kemari, ini pasti menyenangkan.. dibandingkan melawan manusia biasa, aku rasa melawan orang yang memiliki kekuatan spiritual lebih menarik."


__ADS_2