
Membuka matanya, Pricil segera mematikan alarm yang berbunyi di dekatnya, bukannya berhenti, jam itu malah hancur berkeping-keping.
Pricil hanya bisa menghela nafas panjang. Ini adalah ketiga kalinya ia menghancurkan jam weker dalam seminggu.
"Aaaaahhh... aku melakukannya lagi, sulit sekali mengontrol kekuatanku saat bangun pagi."
Tak lama kucing oranye Little melompat ke pangkuannya dan berkata.
(Majikan. Beri aku makanan."
"Kau mau makan apa Little?"
(Ikan)
"Kemarin kau sudah memakannya, apa tidak bosan? Mau yang lain."
(Ogah)
"Kenapa kau terdengar menyebalkan," Pricil memicingkan matanya.
(Cuma perasaan saja)
Pricil bangun lalu menggoreng ikan, aroma harum tercium dari penggorengan, membuat air liur menetes dari mulut Little.
(Jangan lupa kasih nasi, lalaban dan sambal terasi)
"Oi.... Memangnya siapa yang majikan di sini."
Pricil memindahkan ikan dari penggorengan ke piring yang lalu diberikan pada Little.
(Terima kasih majikan)
Pricil tersenyum.
"Dengar Little, jangan sampai membawa temanmu kemari lagi, gara-gara kau. Nina marah dan menyuruhku mencari tempat untuk para kucing-kucing itu"
__ADS_1
(Maaf soal itu majikan, maklum pesonaku tidak bisa ditahan oleh siapapun)
"Dasar kucing genit."
Membiarkan Little menikmati sarapannya, Pricil mulai bersiap pergi ke sekolah, seperti biasanya dandanannya tidak luput dari telinga serta ekor kucing sebagai aksesoris. Saat ia membuka pintu, ia mendapati Riki sedang berjalan menuju lift.
"Pagi Riki."
"Pagi Cat women"
"Namaku Pricil... kau senang sekali mengubah nama orang.
"Aku cuma bercanda," dengan mata mengantuk Riki berkata demikian selagi mengangkat bahunya lelah.
"Kau sangat mengantuk."
"Kemarin aku bekerja sampai tengah malam."
"Itu benar-benar merepotkan."
'Kalau begitu aku duluan."
Riki menggunakan sepeda motornya sementara yang lain akan pergi dengan mobil yang dikendarai oleh Claudia.
Riki bisa saja membawa mobilnya namun terkadang dia harus pergi sebelum bel sekolah berakhir karena itulah membawa kendaraan sendiri lebih efisien untuknya.
Karena ada perbaikan jalan Pricil dan lainnya tiba di sekolah lebih lambat dari sebelumnya walau demikian masih tersisa lima menit sampai bel berbunyi.
Mereka masuk ke dalam kelas dengan nafas terengah-engah.
Nina mengembungkan pipinya.
"Besok aku akan naik denganmu Riki, itu akan lebih cepat."
"Aku juga merasa begitu," tambah Pricil.
__ADS_1
"Yah, aku tidak bisa membawa kalian bersama."
Nina dan Pricil saling menatap dan bersamaan mengangguk dengan mantap.
"Mari selesaikan ini dengan batu, kertas, gunting."
"Aku juga ingin mengatakan hal itu, Claudia ikut juga."
"Aku tidak usah."
Luis tampak kesal.
"Beta sangat iri, sialan kau Riki."
Riki diam-diam menghubungi Albert dan meminta bahwa mereka diberikan kendaraan juga sayangnya Albert bilang itu akan membuang anggaran karenanya Riki memilih untuk membawa mereka secara bergiliran setiap harinya paling tidak sampai jalannya selesai diperbaiki.
Dengan cara itu masalah teratasi.
Di atap sekolah Juli melemparkan minuman kaleng yang mana ditangkap baik oleh Riki.
"Aku yang traktir."
"Tidak biasanya Anda jadi baik, apa ini strategi untuk melibatkanku dalam masalah."
"Haha tentu saja tidak, rumor tentang hantu tiba-tiba berhenti aku yakin bahwa kamu yang menyelesaikannya."
Riki meminum minumannya lalu berdiri di samping Juli selagi menceritakan sosok Lia.
"Jadi begitu, dia alumni di sekolah ini karena itulah ia malah tinggal di sini."
"Begitulah."
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kurasa guru bisa melihatnya sendiri."
__ADS_1
Riki menunjukkan ponselnya dan di sana tampak wajah Lia yang tengah berkeliling dunia.
"Dia benar-benar terlihat bahagia."