Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 53 : Telekenesis


__ADS_3

Di atap gedung itu, pecahan kaca terus melesat bagaikan sebuah tembakan.


Regi yang menerima dampaknya hanya tertawa selagi memutar pedangnya seperti sebuah baling-baling.


"Sial," Luis memasang wajah kesal saat semua tembakannya bisa dihalau begitu saja.


"Sudah selesai kah?"


Regi mencabut beberapa kepingan kaca yang menusuk tubuhnya hingga dalam sekejap mata semua luka tersebut menghilang seutuhnya.


"Jadi benar yang dikatakan Riki, pengguna topeng iblis bisa beregenerasi setiap mereka terluka," itulah yang Luis dengar saat dimarkas pusat, hanya dengan menghancurkan topengnya barulah dia bisa mengalahkannya walau itu sama dengan membunuh penggunanya.


Jika keduanya masih menyatu maka jiwa mereka pun sama, lebih mudahnya seperti dua orang dalam satu tubuh.


Regi mengayunkan senjatanya menebas udara kosong. Tak lama sepasang sayap muncul di punggungnya.


Melihat itu, Luis mematahkan pipa besi pembatas dan menjadikannya senjata miliknya, di saat sama Regi terbang menerjang, pertarungan kini berubah menjadi pertarungan udara.


Regi menebas lalu Luis memukul, akibat senjata yang saling bertubrukan tongkat besi Luis terpotong dua, bagaimanapun besi tumpul tidak akan seimbang dengan pedang yang tajam.


"Kakak!" teriakan Claudia menggema di udara, saat Luis mengalihkan pandangan padanya, sebuah pedang terbuat es meluncur ke arahnya, dengan tepat Luis menangkapnya.

__ADS_1


Itu adalah pedang es dengan tingkat kekerasan setara dengan pedang asli.


"Claudia, thank u."


"Ada lalat pengganggu rupanya, lebih baik kubunuh duluan," sekarang Regi terbang mengincar Claudia. Namun sebelum ia sampai pergerakannya terhenti oleh telekenesis.


"Tidak mungkin."


Tubuhnya terangkat sesuai tangan yang digerakan Luis.


Luis menghentakannya ke bawah sehingga Regi menukik jatuh dengan kecepatan tinggi menembus aspal jalanan di bawahnya membuat dampak lubang dengan kedalaman 10 meter.


Luis meletakan kakinya di jalanan yang sama.


Ia sekilas melihat ke atap gedung memastikan Claudia tetap berada di sana.


Dengan begini dia akan baik baik saja, gumam Luis dalam hati sebelum beralih menatap topeng iblis kembali.


"Kau... aku bunuh.....bunuh, bunuh!" teriaknya.


Regi menerjang dengan kecepatan tinggi bagaikan angin, di saat Luis menerima ayunan pedang dengan pedang esnya, tanah yang dipijaknya merebas ke bawah membuat menciptakan retakan di sekelilingnya.

__ADS_1


Berbeda dengan sebelumnya, pedang es itu mampu menahan dengan kuat, kendati demikian kekuatan Regi terlalu kuat untuk di tahan Luis. Regi mengubah arah tebasannya menyamping hingga tubuh Luis terpental jauh menabrak tembok.


Selagi menahan batuk yang menyakitkan, Luis mengangkat satu mobil lewat telekenesis miliknya lalu melemparnya.


Regi hanya menebasnya dengan sekali ayunan, mobil yang terbang ke arahnya terbelah lalu meledak di belakang.


Dia tertawa terbahak bahak.


"Ada apa, kekuatan telekenesismu tidak bekerja denganku."


Walau kesal itulah kebenarannya sejak tadi Luis berusaha menggerakan Regi dengan kekuatannya, namun ia tidak bisa melakukannya karena sekarang, berat Regi telah bertambah melebihi berat kendaraan yang dilemparkannya.


Luis terus melemparkan semua benda di dekatnya tanpa memberi goresan sedikitpun pada musuhnya, sebagai gantinya Regi melesat menebas tubuh Luis hingga darah keluar dari tiap tebasannya.


Guakh..


Darah juga keluar dari mulut Luis sementara pedang es di tangannya tidak sanggup menebas iblis di depannya. Bagaimanapun di depannya bukanlah siluman melainkan mahkluk yang kuat.


Luis terus bangkit dengan kekuatannya, walau darah dari tubuhnya tak berhenti, ia terus menembakan benda di sekelilingnya.


"Percuma hahah akan aku penggal kepalamu," Regi muncul di udara lalu menebas.

__ADS_1


__ADS_2