Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 50 : Kegelapan


__ADS_3

Di rumah sakit itu Regi terbaring di kamar perawatan, lukanya memang tidak serius namun ia memilih untuk tinggal lebih lama, untuk mencari solusi demi membalas dendam.


Sampai sekarang ia selalu membenci orang tersebut dan memperlakukannya dengan buruk, alasannya hanyalah karena orang rendahan sepertinya malah lebih baik dibandingkan dirinya.


Sebenarnya apa yang kurang dariku? Regi selalu memikirkan itu di dalam hatinya hingga berubah menjadi kecemburuan, kecemburuan berubah menjadi kebencian dan kebencian akan melahirkan sosok iblis di hatinya.


Selagi memikirkan itu, tiba-tiba lampu di ruangannya mati, saat menyala kembali ia terkejut dengan apa yang dilihatnya, di sebelahnya kini sudah berdiri makhluk serba hitam.


Regi yang terkejut mundur ke belakang, namun makhluk itu hanya diam tanpa memperlihatkan wajahnya, atau sejujurnya wajahnya tertutup topeng bertuliskan nomor empat.


Sebuah pedang melengkung berada disekitar pinggangnya mirip sebuah kail pancing.


"Si-siapa kau?" tanya Regi ketakutan.


"Namaku Four salah satu topeng Iblis......" saat ia menengok ke arah Regi, Regi mulai sadar bahwa makhluk itu bukanlah manusia bagaimanapun matanya berwarna merah terang.


"Apa yang kau inginkan dariku?"


"Aku hanya ingin menawarkan kontrak untukmu, kau bisa menolak jika tidak ingin dan aku akan mencari orang lain yang mau."


Regi terdiam sementara lawan bicaranya melanjutkan.


"Kau ingin membunuh seseorang kan....aku bisa meminjamkan kekuatanku."


"Apa bisa?"


Regi seakan tertarik sebuah magnet kuat.


"Tentu saja..... jika kau kuat apapun yang kau mau akan terkabul, kau bisa memiliki semua perhatian di dunia ini.... bahkan kau bisa bersenang-senang dengan banyak wanita lalu membuangnya, bukankah itu keinginanmu."

__ADS_1


"Tidak...." jawab Regi.


"Kau tidak bisa membodohi iblis, aku bisa membaca pikiranmu dengan jelas."


"Kekayaan, wanita dan tahta itu bisa diraih dengan kekuatanku."


Bisikan iblis itu mulai memasuki pikiran Regi, dari awal ia memang menginginkan hal itu. Regi kembali bertanya.


"Syaratnya, tidak mungkin aku mendapatkannya dengan gratis kan?"


"Mudah saja... kau harus membunuh satu juta orang untukku, bagaimana?"


Meski ragu, Regi menyetujuinya karena keserakahan miliknya.


Makhluk itu berubah jadi asap dan hanya meninggalkan topeng untuk Regi kenakan.


Saat topeng dipakai sebuah pedang melengkung muncul di tangannya secara tiba-tiba, sosok Regi kini berubah menjadi sosok yang jauh mengerikan dari dirinya.


***


Luis menatap pahit orang yang berlutut di dekatnya, dia adalah orang yang selalu mengenakan gaun berwarna pink serta memakai ekor dan telinga kucing sebagai aksesoris--Pricilia atau akrabnya dipanggil Pricil.


"Apa tidak repot tiap hari kau memberi makanan ke para kucing ini?"


"Mendengar perkataan Luis semua kucing


menatapnya selagi mengeong.


"Apa yang mereka katakan pada beta?" tanya Luis.

__ADS_1


"Mereka bilang orang tak berkeprikucingan sepertimu nyemplung ajah ke neraka."


"Kucing ini kurang ajar sekali, akan beta tunjukan siapa bosnya disini."


Para kucing yang geram atas perkataan Luis serempak menyerangnya, sekitar 20 kucing telah mencakar-cakar bajunya hingga sobek.


"Uwah.... pakaian modis beta, apa yang kalian lakukan kucing garong, sini kalian...."


Melihat hal itu, Pricil mendesah panjang.


"Kau ini bahkan dengan kucing pun bisa bertengkar."


Ketika Luis berteriak dengan marah, para kucing di depan gedung penanggulangan serangan gaib itu mulai berlarian terbirit-birit.


Luis tertawa dengan pose bangga walau sebenarnya dirinyalah yang kalah.


Di saat itu pricil menatap prihatin.


"Pakaianmu sobek sobek tuh, aku punya gaun...mau pakai?"


"Oi... Beta masih normal ye lagipula beta masih punya banyak pakaian cutbray di lemari."


"Baguslah kalau begitu.... kalau butuh pakaian lain, aku akan membelikannya untukmu."


Pricil memang tidak terlalu menyukai gaya berpakaian Luis, kendati demikian para kucinglah yang menyobek pakaiannya, ia sedikit merasa bertanggung jawab karena hal itu.


"Oh yah, ngomong-ngomong kau melihat Nina? Aku belum melihatnya dari tadi pagi."


"Hmmm kurasa aku melihatnya bersama Riki keluar, paling juga mereka sedang berkencan."

__ADS_1


"Kau kira begitu?"


"Tidak salah lagi, mereka terlihat sangat akrab."


__ADS_2