Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 55 : Wali Kelas


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya Nina menatap monitor dengan bosan dan hanya kucing oranye milik Pricil saja yang menemaninya di ruangan sepi tersebut.


"Pada akhirnya hanya aku saja orang yang ditinggal sendirian di sini," katanya.


Jika ditinggal sendirian lebih tepatnya tugaslah yang membuat Nina harus tetap tinggal untuk memantau kota hari ini, karena Albert memiliki tugas lain maka hanya dia saja yang akan melakukannya sepanjang hari, dia bahkan absen dari sekolahnya untuk ini.


Nina meminum secangkir kopi sebelum mendesah pelan.


"Pahit, mungkin dua gula tidak cukup."


Dia memasukkan lebih banyak gula dan baru bisa meminumnya.


"Orang dewasa identik dengan kopi karenanya aku sekarang bisa dibilang orang dewasa, benarkan Little?"


"Meong, meong."


"Aku anggap kau setuju dengan kata-kataku... tunggu kenapa kau menantapku begitu?"


Lebih tepatnya si kucing menatap Nina dengan mata memelas, entah apa yang dikatakannya Nina hanya bisa balik menatapnya.


(Beri aku makanan)


(Beri aku makanan)


(Beri aku makanan)


-----tatap


"Mau kopi?"


Little mengeong sekali lalu berjalan pergi.


"Kau mau kemana Little, jangan tinggalkan aku."


(Dasar pelit)


"Aku punya ayam goreng loh."

__ADS_1


(Oke, gue balik lagi)


Begitulah keseharian mereka berdua hari ini.


Sementara itu di sebuah ruangan yang tadinya sepi kini mulai terisi para murid, di meja itu Riki hanya duduk selagi memandang keluar jendela, udara yang dingin kini mulai terasa hangat hingga bersamaan dengan itu seorang guru masuk ke dalam ruangan.


Guru tersebut memiliki aura tenang dengan suara lembut, dialah wali kelas di kelas ini.


Ia memotong rambut hitamnya sebahu dengan kepangan serta kacamata intelektual di wajahnya.


"Pagi Bu Juli," semua orang berkata serempak.


Nama aslinya Julia di panggil Juli. Itu tidak ada sangkut pautnya dengan bulan lahirnya atau sebagainya.


"Pagi anak-anak, sekarang kita bisa lanjutkan pelajaran yang kemarin."


"Baik."


Setelah pelajaran selesai, Riki, Luis dan juga Claudia memakan bekal di kelas. Biasanya mereka akan makan di atap sayangnya hari ini cuaca tidak bersahabat karena itulah mereka hanya bisa beristirahat di sini.


"Terima kasih."


"Kalian sangat dekat, mencurigakan," potong Luis akan hubungan adiknya serta pemuda di depan matanya.


"Yah, bukannya kau yang mencurigakan karena selalu memakai kacamata hitam."


"Berhenti mengubah topik."


"Apa salahnya menjadi lebih dekat dengan orang lain, mungkin saja Riki akan menjadi kakak keduaku."


"Apa? Kau ingin menggeser beta dari posisi kakak."


"Aku tidak berfikir sejauh itu."


Bu Juli yang telah pergi ke ruang guru entah kenapa telah kembali ke kelas.


Dia memanggil Riki yang baru mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Ada apa Bu Juli?"


"Aku perlu bantuan untuk kalian sepulang sekolah, bisa tolong aku."


"Hmm, sepertinya sulit."


"Aku mohon, aku akan mentraktir kalian sebagai ucapan terima kasih.. apa kamu tidak mau membantu guru cantik dan manis yang berada dalam kesulitan?"


"Jika ibu mengatakannya sendiri, itu malah terdengar aneh."


"Ayolah yah. Aku mohon demi gurumu."


Penampilannya muda dan juga sikapnya muda, dia baru berusia 25 tahun karenanya tidak aneh jika seperti itu.


Riki memilih menyerah


"Aku mengerti."


"Yeay."


Luis dan Claudia hanya memiringkan kepalanya dengan bingung.


"Seberapa dekat kau dengan wali kelas kita?"


"Aku tanpa sengaja bertemu dengannya saat pulang sekolah dan aku mengantarnya pulang."


"Owh, hubungan terlarang seorang guru dan murid," ucap spontan Claudia.


"Aku tidak terlibat komedi romantis seperti itu."


Luis telah jatuh dengan air mata mengalir di wajahnya.


"Aku sangat iri, aku juga ingin punya pacar seorang guru.. dan melakukan pelajaran khusus di ruang tertentu."


"Harusnya seseorang sudah menangkapmu sejak lama," ucap lemas Riki demikian.


Dia menjelaskan pemintaan guru barusan. Singkatnya hal yang akan dilakukan Riki sepulang sekolah akan melibatkan keduanya juga.

__ADS_1


__ADS_2