Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 29 : Cabang Berbeda


__ADS_3

Mereka hendak bergerak namun tiba-tiba saja sebuah mobil bermunculan dan dari sana banyak pasukan polisi keluar untuk mengamankan area.


Nina yang lebih dulu menyadari siapa mereka.


"Ah, mereka pasti yang bertugas di wilayah ini, sebaiknya kita tak perlu ikut campur."


"Kau yakin, apa kita benar-benar tidak perlu membantu mereka?" ucap Pricil yang mana dijawab dengan gelengan kepala.


"Kalau tidak salah orang itu pasti ada juga."


Semua orang bertanya siapa yang dimaksud Nina, dan kemudian semua orang mengalihkan pandangan pada seorang wanita yang turun dari mobil paling belakang.


Ia memiliki rambut merah panjang dengan sebelah mata tertutup poni, mengenakan celana pendek ketat serta kemeja putih berenda tanpa lengan.


Di tangannya yang dibalut sarung tangan tampak sebuah pedang laser dengan kilatan petir menyembur ke sekelilingnya.


Jika kau penggemar star wars kau tidak akan asing lagi dengan itu.


"Mei Ling, kepala departemen badan penanggulan serangan gaib wilayah WITA."


"Kamu ingin bilang bahwa badan penanggulan kita bukan hanya satu," tambah Riki.


"Maaf karena belum menjelaskan... sebenarnya organisasi kita di bagi atas tiga wilayah menurut zona waktu, WIT, WIB dan WITA, setiap kepalanya memberikan perintah ke kota lain yang diurusnya, berbeda satu sama lain namun aku bisa mengatakan dari ketiganya paman Albert yang paling lemah."


"Kau menegaskan hal itu."


Riki melirik kembali ke arah wanita bernama Mei Ling dan dia terus-menerus menjatuhkan siluman singa tersebut kemudian menghabisinya dengan satu tusukan di kepala, dari semua yang ditunjukannya kekuatannya tak bisa diremehkan.

__ADS_1


Itu alasan kenapa dia bekerja sendirian.


"Kalian urus sisanya," setelah mengatakan itu dia berjalan mendekat ke arah Nina.


"Hoh bukannya ini Nina kah, kau masih imut seperti biasanya."


"Dan kau juga sama seperti sebelumnya, oh.. apa wajahmu mulai berkerut."


"Kau berani sekali mengatakan itu di wilayah yurisdisku, mau mati."


"Lihat saja siapa yang akan mati, Riki serang dia."


"Setelah mengatakannya hal keren kau malah melimpahkan tanggung jawabmu pada orang lain."


"Berisik, aku akan memanjakanmu nanti seperti anak kucing."


"Memanjakan?"


"Seperti kucing."


"Jangan bilang mereka ingin melakukan itu."


"Benar, aku akan memberikan bantalan paha yang melegenda untuk Riki."


Mei Ling mengernyitkan alisnya.


"Dia itu cuma anggota baru, kau yakin menyuruhnya untuk melawanku."

__ADS_1


"Kenapa tidak, kalau mau kau bisa bertaruh juga?"


"Koq malah jadi seperti ini, Pricil."


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa, sepertinya hubungan Nina dan ketua ini tidak baik," balasnya pada Luis.


"Sudah jelas bukan, masing-masing dari kami mencoba menjadi pemburu siluman terbaik... Riki bagaimana? Cobalah untuk bertarung mungkin kau bisa berkembang setelah melawannya."


"Entah kenapa sepertinya kau sedang memanfaatkanku Nina, tapi baiklah.. tolong bantalan pahanya nanti."


"Tentu saja."


Pricil dan Luis berteriak di waktu bersamaan.


"Dia menyukai hal seperti itu."


Melihat itu Mei Ling, menghembuskan nafas panjang lalu berkata.


"Ikutlah ke markas kami, kita bisa bertarung di sana."


Mereka pun menyetujuinya.


Pada dasarnya tugas mereka telah selesai dengan merekrut Luis, namun Nina membuat urusannya semakin panjang hingga saat dia mengatakannya pada Albert. Dia dimarahi lewat telepon.


"Karena sudah terlanjur apa boleh buat, bukannya ini waktu yang pas untuk mematai-matai mereka paman Albert, kita bisa tahu seberapa berkembangnya kemampuan mereka."


"Benar juga, anggap saja ini pembelajaran."

__ADS_1


Nina tersenyum senang saat tatapan pahit diarahkan padanya.


__ADS_2