Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 40 : Senjata Untuk Semua Orang


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di depan layar komputer Nina memutar kursinya ke arah semua anggota di belakangnya. Albert pun berada di sampingnya sambil menyilangkan tangan.


Dia tampak senang karena jumlah anggota sedikit bertambah.


Pricil yang mengenakan gaun pink serta bando kucing lebih mencolok di antara semuanya. Dia mungkin ingin terlihat seperti super hero dalam komik atau sebagainya.


"Jadi apa yang akan kita bahas?" Luis mengangkat tangannya.


"Pertama aku ingin membahas soal latihan kalian berdua."


Yang dimaksud Albert adalah Pricil dan Luis keduanya mengangguk bersamaan.


"Kalian akan berlatih di bawah bimbingan Bu Roxy sama seperti Riki, hanya saja kalian tidak akan dilatih seketat sepertinya. Kalian bisa pergi ke sekolah jika kalian mau."


"Soal itu, aku sudah tidak tertarik sekolah." jawab Lius, sementara Pricil ingin melanjutkan studinya dan memilih sekolah sama seperti Riki.


"Kau yakin tidak mau, kupikir adikmu akan sedih jika ia tahu bahwa kakaknya berhenti sekolah."


"Ugh, tolong masukan aku juga ke dalam sekolah."


"Kalau begitu baiklah, semua biaya dan seragam kalian akan kusiapkan."


Albert sangat bisa diandalkan soal hal itu.


Sekarang Albert melemparkan pertanyaan tersebut pada Riki yang menghela nafas panjang.


"Aku harap Riki bisa menjaga mereka di sekolah."


"Aku pasti akan membantu mereka."

__ADS_1


Pricil mungkin akan berjalan mudah tapi untuk Luis dia akan kesulitan karena harus mengajarinya apapun soal pendidikan. Walau begitu dia senang bahwa mereka juga memprioritaskan pendidikan mereka.


Albert melanjutkan dengan pembahasan yang lain.


"Soal musuh yang akan kita hadapi...Nina sudah menjelaskan semuanya, topeng iblis itu sangat berbahaya meski begitu kita juga tidak boleh kalah karena itulah aku akan meningkatkan senjata untuk kalian, tapi sebelum itu, Nina."


"Baik."


Nina mengetikan beberapa huruf di kotak pencarian internet dan kemudian yang keluar di sana beberapa topeng yang terlihat mengerikan.


"Menurut kalian bagaimana pendapat tentang topeng itu?" tanya Nina.


"Ah, terlihat sangat luar biasa.... saat bertarung jantungku pasti berdegup kencan," jawab Mai dengan nada semangat.


Pricil maupun Luis mengerenyitkan keningnya dengan perubahan sikap tersebut, sosok Mai langsung berada di peringkat satu untuk dihindari keduanya jika mereka tidak ingin mendapatkan masalah.


Riki menambahkan.


"Itu memang benar."


Semua orang menatap layar komputer yang menampilkan sejarah topeng tersebut.


Topeng itu sudah ada semenjak perang dunia ke dua, topeng itu dibuat oleh pemuja iblis untuk sebuah pembantaian, namun hal itu malah menjadi boomerang untuk mereka.


Setiap orang yang memakainya akan kehilangan kesadaran dan menyerang siapa saja yang berada di dekatnya termasuk para pemuja iblis, hanya dalam waktu singkat saja semua pemuja iblis sudah dibantai habis dan semenjak itu keberadaan topeng ini seakan menghilang dari dunia.


"Menemukan topeng ini di era kita sangat menghawatirkan, ditambah para siluman, ke depannya pasti menyulitkan," Nina berkata demikian.


"Bagaimana dengan siluman yang menyebut dirinya anggota Fallen," Riki angkat bicara setelah keheningan tercipta di ruangan ini.

__ADS_1


"Mereka adalah siluman yang berhasil berevolusi menjadi manusia setelah membunuh banyak orang, aku tidak tahu informasi detail tentang mereka hanya saja lebih baik kita berhati-hati pada mereka saja."


"Dengan kata lain selain siluman, musuh kita adalah topeng iblis dan Organisasi Fallen," atas perkataan Pricil, Nina mengangguk mengiyakan.


Musuh mereka tidak hanya satu mereka benar-benar dibawa ke peperangan sesungguhnya.


"Tapi jangan khawatir, seperti yang dikatakan paman Albert aku sudah membuat senjata untuk semuanya... Kalian boleh menolak atau menerimanya. Bagiku membuatnya lebih mudah dibanding menggunakannya."


"Begitu, lalu seperti apa senjataku?"


"Sebuah cakar kucing.....di samping sebagai hiasan ini juga sangat kuat loh."


"Ah aku menyukainya."


Giliran Luis mengangkat tangannya.


"Untuk beta."


"Aku tidak tahu senjata yang cocok untuk orang mesum yang bisa melihat menembus pakaian wanita, hmm tapi ada satu yang mungkin bisa kau gunakan."


Beberapa pisau diberikan pada Luis.


"Pisau?"


"Ini pasti akan mudah digunakan oleh Luis, terlebih saat menggunakan telekenesis."


Seolah mengerti maksud Nina, Luis memberikan hormat.


"Aku mengerti."

__ADS_1


Untuk sisanya hanya peningkatan senjata dan tambahan saja.


__ADS_2