Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 33 : One Shot


__ADS_3

"Akan Kubunuh semuanya."


Mendengar membunuh adalah tujuannya, Riki merasakan ketidakwarasan darinya.


"Apa pembunuhan ini, karena topeng di wajahmu?"


Tanpa menjawab pertanyaan Riki, King melepas topengnya, dan selanjutnya topeng itu berubah menjadi sosok mahluk bukan penghuni dunia ini.


Riki sempat berpikir pernah melihat makhluk yang sama, namun ia segera menghentikan pemikirannya dan beralih menatap king.


"Aku akan menghentikanmu," King diam sejenak sebelum melanjutkan, "One, aku akan menghajarnya dengan kekuatanku sendiri, setelah membunuh orang, rasanya....aku sudah menjadi bertambah kuat."


One tertawa terbahak-bahak.


"Lakukan sesukamu.."


"Lawan aku Riki."


"Jika itu maumu."


Riki maju selangkah dengan teknik pukulan, di sisi lain King menghindar dengan menarik setengah tubuhnya ke belakang lalu mengarahkan pukulan ke bawah yang kemudian memotong ke arah atas. dalam teknik tinju ini di sebut teknik uppercut disusul dengan jab, Riki hanya bisa memosisikan dirinya dalam posisi bertahan.


"Lumayan, kau bisa menghindari serangan vitalku."


Jika itu pukulan biasa Riki tidak memiliki keluhan apapun, hanya saja seperti yang diduga ia menambahkan dengan kekuatan spiritual.


Riki menyeka ujung bibirnya yang berdarah setelah menerima pukulan di wajah.


Jika ia terus terbawa oleh gaya bertarung King, bisa dipastikan dia akan kalah, demi merubahnya Riki menggunakan teknik silat untuk mengimbangi kekuatannya.


Riki mempersiapkan kuda-kuda depan lalu menenangkan dirinya sendiri, Melihat penggerakan Riki yang terbilang asing di matanya, King segera mengirim tinjunya, namun itulah kesalahannya.


Memanfaatkan tenaga lawan Riki menyerang balik dari titik tangan hingga leher, gerakannya begitu cepat hingga King tidak bisa merespon dengan balasan, yang dia tahu tulangnya seakan bergemeretak menghasilkan suara aneh, bahkan tangan kirinya kini terjuntai lemas.


"Kau....Aaaaaa."


Berbanding terbalik dengan King yang kesakitan setelah menerima serangan, si makhluk bertopeng tertawa kembali.

__ADS_1


"Jika kau tidak serius dia bisa membunuhmu dengan mudah.... orang di depanmu ini bukan orang biasa, dia bahkan bisa membunuh siluman dengan mudah."


"Sialan.....kubunuh kau, One tolong aku."


King kembali memakai topengnya, bersamaan dengan itu sabit tercipta di tangannya kembali. Sama seperti sebelumnya lukanya juga kembali tersembuhkan.


Dia membacok, Riki melompat ke belakang menghindar. Bagi Riki pertarungan jarak dekat sangat menyusahkan hingga ia tidak bisa menggunakan senjata andalannya yaitu belati.


Semuanya jelas karena sabit memiliki jangkauan lebih jauh jauh.


Senjata mereka saling bertubrukan menghasilkan percikan ke udara bersamaan kilatan yang menyilaukan. Riki melompat untuk menjaga jarak sedangkan King memburu ke depan.


Tatapan yang merah menyala hal yang diperlihatkan King seolah dia tidak ragu untuk melakukan apapun pada musuhnya. King mengayunkan dari atas ke bawah yang mana sempat mengenai badan Riki secara diagonal yang mana membuat darah menyembur ke udara.


"Apa yang harus kulakukan?" selagi memikirkan hal itu Riki mengingat sesuatu tentang senjatanya, tidak hanya senapan ia juga mempunyai sebuah bom di tasnya.


"Ada apa, kau sudah menyerah?"


"Menyerah tidak ada di dalam kamusku."


Pertarungan kini berlanjut. Suara dentingan yang memekakkan telinga terdengar di setiap ayunan keduanya. Tentu saja pisau tidak bisa dibandingkan dengan sebuah sabit.


Riki harus terus menahan sambil berlari. Berusaha mencari tas yang ditinggalkannya.


"Hahaha dasar penakut, larilah kemanapun yang kau mau... Aku pasti menemukanmu."


Setelah melirik ke sana kemari akhirnya Riki menemukan tasnya, saat itu ia duduk selagi memandangi Nina dan Pricil yang sekarang menghilang, untunglah senjatanya masih berada di sana.


Riki mengambil beberapa granat tak terkecuali Hecate miliknya.


"Percuma saja tubuhku bisa sembuh sendirinya, walau kau tembak seperti apapun."


"Benarkah, itu layak dicoba."


Mengacungkan senjatanya, Riki menarik pelatuk Hecate miliknya dari jarak 10 meter, peluru berdiamer 50 itu mengenai bagian perut King membuatnya berlubang.


"Hahahaha percuma."

__ADS_1


Riki tersenyum atas kemenangan.


"Tidak mungkin."


Ekspresi tertawanya berubah seketika dengan keterkejutannya dimana beberapa granat sudah dilempar di antara kakinya.


Bam.


Ledakan besar menciptakan kepulan asap tebal di barengi material pasir yang berhamburan ke udara.


Setelah semua itu menghilang, Riki berjalan dan menemukan sepotong tubuh bagian atas King masih tersisa. Ia menginjaknya saat tubuhnya mulai bergenerasi.


"Dari awal kekuatan topeng itulah yang membuatmu bisa bertahan dari seranganku."


"Aku tidak ingin mati," King merengek.


"Kau berani mengambil nyawa orang yang tak berdosa, maka ini adalah hukumanmu. Berani mengambil maka berani membayar," suara Riki terdengar penuh kesedihan.


Riki memalingkan tatapannya ke sekitar.


Bagaimanapun wajah orang-orang yang ia lihat bahagia kini menjadi wajah kaku tak benyawa.


"Aku sesungguhnya tidak ingin membunuh manusia namun sekarang di depanku bukanlah manusia hanyalah iblis."


"Kau tidak akan berani," suara itu datang dari topeng yang timpah tindih dengan King.


"....... mana mungkin, aku kalah dari manusia."


"Aku tidak ingin mati, aku adalah yang terkuat."


Topeng itu lepas dari wajah King seakan ingin melarikan diri. Namun, terlambat sudah sebuah peluru sudah menembusnya beserta kepala King di belakangnya


"Siapa kau sebenarnya?" suara akhir itu berasal dari topeng.


"Pemburu siluman."


Bersamaan dengan jawaban Riki topeng itu pecah bagaikan sebuah kaca, tubuh King pun kini sudah berhenti beregenerasi dan dirinyapun sudah pergi dari dunia ini selamanya.

__ADS_1


__ADS_2