
Melihat itu, inilah kesempatan Riki.
"Mai," mengikuti teriakan Riki, Mai melompat mundur di saat yang sama Riki melemparkan bom cahaya ke kaki Kaede sebelum dia menerjang dan menangkap Kaede dari belakang yang mana mengunci tangannya.
"Apa?"
"Sekarang Mai."
Mai berteleportasi ke dekat Kaede, memukulnya di bagian perut hingga ketiganya langsung berteleportasi ke sebuah area hutan tanpa apapun kecuali pepohonan.
"Riki mundurlah dari sini aku yang akan melawannya."
Riki mengiyakan dan ia mundur beberapa meter jauhnya, meninggalkan keduanya untuk bertarung.
"Tadi kesempatan yang bagus harusnya kau menusukku."
"Aku tidak akan menjadi orang pengecut, lawan aku satu lawan satu."
"Begitu."
Kaede mengayunkan pedang dari samping begitu pula Mai, ayunan mereka saling bertabrakan menerbangkan seluruh pohon di sekelilingnya dengan kilatan cahaya serta suara memekakkan telinga sebagai efeknya.
Dari mata kirinya yang berwarna merah Kaede menatap Mai.
"Kau masih peduli dengan mereka, padahal mereka sudah menjualmu."
"Itu tidak benar, mereka hanya lupa dan meninggalkanku."
"Kau ini, terlalu baik."
Pedang mereka saling beradu di udara.
Tendangan menghantam bahu Mai hingga menukik ke bawah, sebelum ia mengenai tanah Kaede sudah berada di sana, lalu melepaskan tendangan kedua hingga Mai terbang ke samping menabrak beberapa pohon di belakangnya.
Mai memuntahkan darah dari mulut, bagi Riki yang memperhatikan ini bukanlah pertarungan biasa, mereka melebihi manusia normal.
"Sudah kuduga, aku harus mengeluarkan seluruh kemampuanku, karena itulah aku membawamu kemari. Dengan begini aku bisa mengamuk sepuasnya."
Mai bangkit, bersamaan dengan itu rambutnya ikut terangkat ke udara.
"Dia melepaskan energi spiritualnya yang dia tahan selama ini," Kata Riki yang memperhatikan dari jauh.
Kekuatan itu menghancurkan pohon di sekelilingnya dan kemudian rambut Mai berubah menjadi warna putih sementara pedangnya berubah menjadi merah darah.
"Kau mulai serius ya.. Kalau begitu aku juga," Dari punggung Kaede muncul sepasang sayap hitam. Bulu hitam itu mulai keluar dari setiap sayap yang ia kepakan tepatnya, melayang di dekatnya.
"Aku mulai."
Mai menghentakan kakinya di tanah, dengan kecepatan tinggi dia menghidari serangan bulu yang menukik ke arahnya. Dia mengayunkan pedang di udara menciptakan bilah cahaya berbentuk bulan sabit.
__ADS_1
Kaede menahan dengan pedangnya di saat yang sama Mai sudah berada di belakangnya. Mengayunkan pedang sepasang sayap itu terpotong rapih.
Kaede menghantam tanah, Mai mengikuti selagi memosikan pedangnya menusuk.
Kaede yang menyadarinya berguling ke samping dan pedang hanya menusuk area kosong.
"Hampir saja aku menang."
"Zero."
Pedang lain muncul di tangan kiri Kaede, sekarang ia menjadi pengguna dua pedang.
Pertarungan terus berlanjut mereka saling mengayunkan pedang satu sama lain membuat dampak yang luar biasa di sekitar mereka yang mana membuat setengah area hutan terpotong rapih.
Mai terkena beberapa tebasan membuat darah mengalir dari tubuhnya begitu juga sebaliknya.
Tanpa melihat Mai mengayunkan pedangnya, tiba-tiba saja darah memuncrat dari tubuh Kaede, blazernya kini tersobek-sobek rapih.
"Jika orang lain mungkin mereka sudah terpotong potong, kau memang hebat onee-chan."
Sekarang Kaede berbalik menyerang, Mai hendak menahannya dari depan namun Kaede sudah muncul di sampingnya, ayunan itu menebas Mai dengan cepat dan ia mundur ke belakang. jika saja Mai telat menghindar tangannya pasti sudah terputus sekarang.
Teriakan menggema di udara dan mereka terus saling menyerang dan bertahan, keduanya terlihat seimbang hanya saja kecepatan Mai lebih cepat dari Kaede ditambah teleportasi, Mai berhasil memojokan kakaknya hingga ia terduduk bersandar di pohon.
"Kau jadi bertambah kuat rupanya," kata Kaede melepas topengnya dan pedangnya pun ikut menghilang.
"Cepatlah.... bunuh aku."
"Tunggu Mai," suara itu berasa dari zero yang kembali ke bentuk asalnya.
"Kaede hanya berusaha melindungimu."
"Diam Zero," untuk pertama kalinya Kaede berteriak padanya.
"Selama ini dia menyangimu, saat kau dijual ke tempat hiburan, kakakmu pergi mencarimu namun ia tidak menemukanmu di sana."
"Apa maksudmu?"
"Selama ini yang dilakukan kakakmu adalah untukmu."
"Zero," Kaede berteriak kembali.
"Mustahil."
"Kau bahkan tidak tahu mereka bukan orang tua aslimu, mereka jadi orang tuamu hanya menginginkan harta kalian."
"Bohong ... itu mustahil."
Perkataan itu mirip sebuah pukulan untuknya, dia terhuyung ke belakang.
__ADS_1
Kaede memuntahkan darah dari mulutnya, ia sudah terluka karena itulah ia tidak bisa membungkam kata-kata zero.
"Ia menggunakan kekuatanku, apa kau tahu alasannya?"
"Dia melakukannya demimu...dengan membunuh 1 juta orang maka aku juga akan mempunyai kekuatan luar biasa. Tidak, lebih dari itu aku bisa menghidupkan orang mati... Kaede berniat membangkitkan orang tua aslimu dengan kekuatanku."
"Kau bohong kan."
Selama ini yang dia anggap orang tuanya adalah kebohongan dan kakaknya selalu menghawatirkanya. Ia mulai berpikir kembali saat itu saat bertempur dengan kakaknya Kaede tidak membunuhnya.
"Jangan-jangan."
Melihat Mai mengendorkan kewaspadaannya, Zero yang membentuk tubuhnya kembali melangkah maju selagi membuat tombak dengan tangannya.
"Mai..." teriak Kaede.
*Jleb
Tangan Zero menembus jantung hingga keluar tubuh musuhnya. Namun yang ia tusuk bukanlah Mai melainkan Kaede sendiri. k
Kaede menjadikan dirinya sebagai tameng.
"Sampai akhir kau melindungi adikmu."
"Uwaaaaaaaaaa," tangisan yang lebih mirip teriakan itu menggema di udara. Mai terduduk lemas selagi memegangi kakaknya.
"Adikku yang bodoh, jangan menangis."
"O-onee chan."
"Padahal sedikit lagi aku bisa membunuh 1 juta orang, maaf Kaede dari awal aku memang tidak memiliki kekuatan untuk menghidupkan orang tuamu, aku juga tidak berniat meninggalkan dunia ini, yang aku inginkan adalah menghancurkan dunia ini."
"Jadi saat kau bertambah kuat dengan membunuh banyak orang."
"Perkataan itu memang benar, kecuali menghidupkan orang mati aku bisa kembali ke dunia iblis lagi tapi aku tidak berniat melakukannya, untuk sekarang lebih baik aku mencari orang baru yang mau menggunakanku."
Zero hendak melarikan diri namun saat ia berbalik sebuah pistol sudah tertodong tepat di wajahnya.
"Selamat tinggal."
Door.
"Mustahil?" kata zero sebelum dirinya hancur berkeping-keping.
Riki memasukan kembali pistolnya lalu berjalan mendekat ke arah Mai yang sedang menangis memeluk kakaknya.
"Terima kasih untuk itu."
"Berhentilah berbicara, Mai kakakmu masih bisa selamat, mari bawa dia ke rumah sakit."
__ADS_1
"Iya."