
Sudut pandang Riki.
Saat aku tertidur di ranjang, tiba tiba saja aku merasakan sensasi berat menindihku, kupaksakan untuk membuka mata dan aku melihat seorang gadis sedang duduk di perutku, dia berambut twintail, mengenakan gaun one piece putih dan terkesan seperti seorang dari luar negeri, namun lebih dari itu dia adalah hantu.
Kami sudah tinggal bersama selama seminggu.
Dia menatapku dengan wajah yang hampir menangis.
"Lia," aku memanggil namanya dengan perasaan khawatir biasanya dia adalah hantu yang selalu ceria namun hari ini dia tampak berbeda.
Tanpa menjawab ia lalu menyeka air matanya.
"Terjadi sesuatu?" aku kembali bertanya setelah membetulkan posisiku.
"Apa aku akan mati?"
Perkataan itu membuatku terkejut, sebelum aku memikirkan apa yang harus aku katakan, tubuh Lia begitu saja berubah menjadi transparan dan kembali sedia kala dalam waktu beberapa detik saja.
"Riki, aku, aku, tidak ingin mati dulu."
Ada perasaan sedih menyelimuti wajahnya yang cantik.
Aku segera berdiri, mengganti pakaianku lalu menarik tangan Lia keluar meninggalkan gedung dengan mengendarai motor.
Saat ini Lia duduk di belakangku.
"Rumah sakit mana?" aku bertanya demikian dan ia menjawabnya.
__ADS_1
Selama ini aku terus menanyakan keberadaan tubuhnya namun Lia terus menolak mengatakannya, kurasa ini pertama kalinya aku akan melihatnya.
"Baiklah," aku memacu motorku lebih cepat dari seharusnya walau begitu aku tak ingin memikirkan apa yang terjadi nantinya.
Aku memiliki firasat buruk tentang Lia dan itu lebih penting.
Jika pun polisi menangkapku, aku akan menerima hukuman tersebut, itulah keputusan yang aku buat.
Masuk ke dalam perempatan jalan sesuai dugaan beberapa polisi menghentikan motorku.
"Selamat pagi... boleh lihat surat-suratnya."
"Maaf, bisakah aku lewat dulu, aku sekarang buru-buru," kujawab demikian.
"Memangnya ada apa?"
Aku merogoh sakuku lalu menunjukan Id Card yang diberikan pak Albert, seketika itu wajah pak polisi menegang, ia segera memberi hormat padaku.
"Siap pak! jika berkenan kami bisa mengawal Anda ke rumah sakit."
"Saya sangat berterima kasih."
Di bawah kawalan sirine polisi, aku tiba lebih cepat dari yang kubayangkan, aku berterima kasih sekali lagi pada para polisi sebelum berpisah di depan rumah sakit.
Aku berlari ke meja resepsionis lalu menanyakan nama Revalia.
Setelah memeriksanya aku diberitahukan ruangannya, aku kembali berlari ke tempat yang dikatakan resepsionis dan Lia masih terbang di sampingku.
__ADS_1
Tadinya aku ingin menanyakan keberadaannya lewat orangnya namun sejak dari gedung, Lia terlihat shock.
Itu adalah sebuah ruang ICU VIP, kulihat tubuh Lia sedang terbaring di ranjang.
Berbeda dengan penampilannya saat ini tubuhnya hanya dibalut pakaian pasien.
"Maaf, Anda siapa?" seorang wanita dan pria masuk ke dalam ruangan setelahku, mereka terlihat seperti orang eropa namun bahasa Indonesianya sangat fasih.
"Aku teman Lia... Maksudku Revalia."
Kedua orang itu tampak terkejut saat aku memanggil nama panggilannya, melihat ke arahku mereka tampak sedih.
"Maaf, kami hanya terkejut baru kali ini ada orang lain yang menyebut anak kami temannya," ucap sang ibu.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi, jangan-jangan selama ini Lia tidak memiliki teman, sebagai gantinya aku bertanya hal lain.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih sama seperti dua tahun yang lalu, dia masih koma."
Akibat kecelakaan Lia terkena geger otak sampai tak sadarkan diri sampai sekarang, aku menatap wajah cantiknya sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan, wajah yang cantik itu tersenyum bahagia seakan rasa sakit tidak diterima olehnya padahal sekarang ia tengah diinfus serta dibantu oleh alat pernapasan.
Melihatnya membuatku sedih, terutama orangnya ada di sampingku yang tak henti hentinya menangis.
"Riki Bagaimana ini, aku mungkin akan.."
"Tenanglah Lia, walaupun kau menolaknya kamu tidak bisa merubah takdir, semua mahluk hidup pasti akan mengalami kematian, walau begitu kamu sudah bekerja keras sampai sekarang."
__ADS_1