
Walau demikian dia tidak menyerah.
"Tolonglah! terima aku, aku bisa memijat pundakmu atau lain sebagainya."
"Tidak."
Dan selanjutnya Nina memotong percakapan.
"Riki? Kamu sedang bicara dengan siapa?"
"Ah maaf Nina, ada hantu usil yang sedang menggangguku."
"Ha-hantu."
"Tenang saja, dia sepertinya bukan hantu jahat koq."
"Benar sekali, aku juga ahli dalam berbagai hal," ucap si hantu dan hanya Riki yang bisa mendengarnya.
"Itu terdengar menakutkan tapi keren."
Setibanya di lokasi Riki menarik dua pistol ke tangannya.
"Kau ingin melawannya dengan itu."
"Inilah senjata yang ampuh bagi siluman, hantu bergaun putih."
"Jangan memanggilku begitu, namaku Revalia, panggil saja Lia... namamu?"
"Riki."
Beberapa serigala muncul di sekeliling Riki siap menyergapnya mereka tidak seperti serigala pada umumnya, mereka memiliki mata merah serta haus akan darah.
Riki memutar tubuhnya selagi menembakan senjatanya, namun sepuluh serigala itu bisa menghindarinya dengan baik. Tidak hanya gesit mereka memiliki kekuatan luar biasa, tak hanya itu mereka bisa menggigit apapun bahkan tiang listrik hancur olehnya.
Riki melemparkan granat cahaya dan berhasil membunuh delapan dari sepuluh.
Seekor bergerak dengan cepat dari belakang, berhasil menerkam satu tangannya, sementara satu lagi melompat untuk mengincar leher.
Riki membuang pistol lalu menggantinya dengan belati, ia dengan cepat memenggal satu serigala yang mengincar lehernya lalu menusuk satu lagi yang menggigitnya.
__ADS_1
"Kau baik baik saja?" tanya Lia.
"Tak masalah, ini cuma luka kecil."
"Tapi terlihat sangat parah."
Riki tertawa kecil sebelum mengalihkan percakapan ke ponselnya.
"Nina apa masih ada lagi yang muncul?"
"Semuanya sudah selesai, Mai, Pricil juga sudah juga."
"Baiklah, berarti serigala barusan tak hanya muncul di sini rupanya."
Riki berjalan pergi sementara Lia berteriak ke arahnya.
"Tunggu jangan tinggalkan aku."
"Jangan mengikutiku, menjauhlah dariku."
"Tidak mau."
"Hantu usilnya masih menggangguku, tolong aku Nina."
"Itu bukan keahlianku."
Nina tertawa kecil lalu menutup komunikasinya.
Dengan senyum pahit, Riki pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya membiarkan hantu itu mengikutinya. Hari damainya mungkin kini telah berakhir.
***
Di dalam ruangan yang tenang, tanpa terduga seorang dengan perban masuk menerobos, ia memiliki rambut Afro serta berpakaian cutbray yang di dukung dengan kulit coklatnya---Luis.
Luis menatap Nina.
"Musuh yang beta lawan sangat sulit diatasi bahkan dengan senjata Beta pun tidak berfungsi."
"Pada dasarnya senjata yang aku buat adalah sesuatu yang menyerap energi spiritual pemakaiannya tidak ada kesalahan akan hal itu."
__ADS_1
"Tapi kenapa beta tidak bisa melukainya?"
"Itu mungkin karena kemampuanmu yang masih kurang."
"Terkadang kata katamu terlalu kejam, ke mana perginya Nina yang manis dan pemalu itu?"
Atas pernyataan Luis, Nina tersenyum pahit, sedangkan Riki dan Albert mengangguk mengiyakan.
Nina terkadang memasang wajah seperti itu terlebih saat dia memakan es krim.
Luis akhirnya menyerah terhadap Nina, sebagai gantinya dia kembali bertanya.
"Lalu apa yang harus beta lakukan untuk memperkuat kemampuan beta?"
"Mudah koq, kau hanya harus belajar bagaimana memasukan energi spiritual lebih banyak pada setiap benda yang kau gerakan dengan begitu kau mungkin akan menjadi lebih kuat."
"Akan beta lakukan," setelah mengatakan itu, Luis meninggalkan ruangan.
"Padahal masih terluka, apa mau di biarkan begitu saja "
Suara khawatir itu berasal dari Pricil yang duduk selagi mengelus kucing di pangkuannya.
"Biarkan saja, setidaknya dia tidak akan ikut pertempuran dulu melawan siluman, kuharap Luis akan menyibukkan dirinya dalam berlatih sampai kondisinya pulih," yang menjawab pertanyaan Pricil adalah Albert.
Riki mengangkat tangannya untuk memintanya semua perhatian padanya.
Mai yang duduk di sofa seperti biasanya juga turut melirik padanya.
"Dari kalian semua apa ada yang bisa membantuku, hantu ini terus saja menggangguku."
"Apa maksudmu mengganggu, aku tidak melakukan apapun," Lia memprotes.
"Ketika aku mandi kau selalu muncul dan bilang ingin membasuh punggungku, ketika aku makan kau berusaha mengecek makananku, apa itu tidak mengganggu."
"Tidak sopan, aku cuma ingin membantu, terlebih makanan itu bisa saja mengandung racun, aku hanya memastikannya saja."
Itu jelas berlebihan.
Semua orang hanya mendengar percakapan searah dari Riki tanpa bisa melihat lawan bicaranya, jelas tidak ada yang bisa membantunya untuk itu.
__ADS_1