Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 54 : Akhir Pertarungan


__ADS_3

Srak.


Sebelum pedang mengenai Luis, lima pedang es menembus tubuh Regi dari belakang hingga ia berhenti dan memalingkan pandangannya jauh ke arah lain, di sana tepatnya di depan rumah sakit Claudia telah berada.


"Apa yang kau lakukan? Larilah!" teriak Luis sampai sebuah tendangan kaki menghantam wajahnya. Pelakunya tidak lain adalah Regi.


Menahan rasa sakit Luis berguling-guling di tanah.


"Kau diamlah dulu. Sudah kuduga aku menghabisi orang itu dulu."


"Hentikan."


Luis memohon-mohon di hatinya supaya ada seseorang yang akan muncul membantunya namun tidak ada seorangpun yang datang.


Menargetkan Claudia, Regi menyeret pedangnya. Di hadapkan dengam sensasi rasa takut, tubuh Claudia mulai gemetaran bahkan ia tidak bisa menggerakannya walau sekarang Regi tengah mengangkat pedangnya di udara siap memotong.


"Mati Kau."


Door.


Peluru kaliber 50 menembus kepalanya bersama topeng tersebut. Regi tampak terkejut dengan apa yang telah terjadi, topeng yang dikenakannya hancur dan ia pun mulai jelas menatap seseorang yang menembaknya, seseorang yang dia benci selama ini Riki "Kau," gumamnya sebelum tumbang tak bernyawa.


Riki berjalan selagi menenteng hecatenya.


"Kau baik - baik saja."


"I-iya tapi kakak."


Riki mengalihkan tatapannya pada orang yang dimaksud.


"Dia masih hidup koq."


Claudia hanya diam mengangguk.


Setelah pertarungan itu semua penduduk berkumpul kembali, selagi memberikan tepuk tangan meriah.

__ADS_1


"Kau tampak babak belur," ejek Riki.


"Lama sekali. Beta hampir terbunuh barusan."


"Yah, kau masih hidup, itu yang terpenting."


"Kakak," Claudia memotong, memeluk kakaknya lalu menambahkan.


"Aku kira kakak akan mati."


"Kakakmu ini hanya sedang tidak fit, kalau lagi fit, kakakmu tadi pasti akan menang."


Orang ini banyak ngibul.


Luis diam sesaat sebelum menatap Claudia.


"Bodoh, tadi itu kau ngapain? Kalau bukan karena Riki, kau sendiri....Ahhh."


Luis mengalihkan pandangannya ke Riki.


"Terima kasih ketua, kau sudah datang."


Di tempat lain Mai sedang bertarung dengan siluman, siluman yang sedang ia lawan berjumlah sepuluh, mereka semua memiliki leher panjang serta tubuh orang dewasa dengan rambut panjang menyentuh tanah, sementara taring menghiasi sudut bibirnya.


"Kalian masih tidak menyerah, meski menyerangku secara bersamaan tidak akan berubah, jadi diamlah dan tunggu kematian kalian dengan tenang."


Mendapat intimidasi itu, para siluman menggeram kesal selagi menyerang dengan mulut mereka. Mai hanya menghindar ke kiri, ke kanan seakan menikmatinya, sesekali dia juga bersalto untuk menghindarinya.


Rambutnya yang terurai indah bergoyang tertiup angin, roknya pun terangkat memperlihatkan kaki putihnya.


Mai membalas dengan menebas satu siluman dan selanjutnya sisanya sudah kehilangan kepala mereka.


"Aku sudah selesai di sini bagaimana dengan mereka?"


"Mereka juga sudah selesai," yang menjawab pertanyaan Mai dari seberang telepon adalah Nina.

__ADS_1


Mai kemudian menghilang dan muncul kembali di dekat Nina yang sedang memakan eskrim. Nina juga berada di sana dengan tubuh yang kelelahan dia juga baru menyelesaikan tugasnya.


"Paling tidak muncullah di luar pintu, bukan langsung ada di depanku."


Seakan tidak peduli protes Nina, Mai duduk di sofa lalu mengambil buku yang sering di bacanya.


"Apa Pricil baik-baik saja, dia seperti telah kehilangan energinya."


"Pricil telah bekerja keras," jawab Nina singkat.


Tidak biasa bahwa Mai sedikit perhatian sekarang.


"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan."


"Kucing bisa lelah juga."


"Tentu saja, dan juga aku manusia hanya penampilanku seperti kucing."


Nina menatap monitor mengabaikan keduanya, monitor menampilkan Pricil yang sedang mengendarai skuter dengan kecepatan tinggi, ini hanya rekaman cctv yang sebelumnya Nina dapatkan, terkadang Nina harus bertugas untuk menghapusnya agar tidak memberikan ketakutan pada banyak orang. Terkadang beberapa orang sengaja menaruhnya di media sosial hingga berubah jadi keributan.


Sesampainya Pricil di lokasi satu siluman berkepala kadal langsung menyerangnya dari depan, di luar dugaan hanya dengan sekali pukulan siluman itu hancur berkeping-keping.


"Eh," Nina tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Kenapa?" tanya Mai dari belakang.


"Baru saja, Pricil memukulkannya sekali dan siluman itu hancur."


"Menarik, ternyata penampilannya yang imut bisa membantunya menjadi kuat, aku juga pengen mencobanya deh."


Orang yang dimaksud malah sudah tidur.


"Tolong jangan lakukan itu jika ditambah Mai mungkin orang-orang akan berpikiran aneh pada organisasi kita."


"Aku akan memakai pakaian erotis."

__ADS_1


"Oi."


Mai tertawa atas reaksi tersebut dan Nina mulai menghapus file tersebut.


__ADS_2