Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 32 : Kemunculan Topeng Iblis


__ADS_3

Tidak hanya dokter yang terkejut, Luis pun ikut terheran-heran, jika ada serangga lewat di dekat wajahnya Riki yakin dia akan memakannya, begitulah ekpresinya sekarang.


"Kau ini sebenarnya siapa?"


"Aku hanya warga Indonesia biasa," jawab Riki tersenyum pahit.


"Tidak, tidak, beta merasa ada yang aneh barusan."


"Aku juga berfikiran sama, kartu ini sangat praktis."


Setelah adik Luis melewati masa kritisnya. Luis masih ingin terus mencari tahu tentang Riki namun di samping itu, Luis memilih untuk segera menundukkan kepalanya padanya.


"Terima kasih banyak, suatu hari aku akan membayarnya."


"Kurasa tidak usah, lagipula pak Albert sudah bilang akan mengurus biayanya, aku tinggal minta padanya nanti. Kalau begitu aku harus mengabari hal ini pada Nina dan Pricil."


Riki hanya berjalan meninggalkan tempat itu dengan lambaian tangan tanpa melihat Luis di belakangnya.


Karena jarak antara pantai dengan rumah sakit tidak terlalu jauh, Riki tiba di sana dalam waktu beberapa menit saja.

__ADS_1


Namun..


Seketika keputusasaan muncul di wajah Riki, tempat yang indah dimana semua orang tertawa bahagia kini menjadi sebuah bencana.


Pohon-pohon yang berdiri tegak kini telah tumbang ditambah puing-puing lapak yang berserakan, beberapa mayat ditemukan hingga pasir pantai yang semula putih kini berwarna merah.


Selagi berlari tak tentu arah, Riki terus mencari keberadaan Pricil dan Nina namun ia tidak bisa menemukannya hingga.


"Tolong."


Saat itulah, ia melihat seorang wanita sedang dikejar seorang pria menggunakan topeng aneh dengan mata berwarna merah seakan dia tidak memiliki jiwa. Di tangannya dia memegang sebuah sabit.


"Apa yang terjadi?" tanpa memikirkannya lagi, Riki langsung berdiri di depan wanita itu selagi menembakan pistolnya namun tubuh si pembawa sabit tidak kesakitan sedikitpun seolah tidak mempan.


Ia memberikan tebasan yang mana ditahan dengan baik, dengan topeng di wajahnya orang di depan Riki mampu dengan baik menggunakan sabitnya.


Sabit terayun dari atas, karena tidak bisa menghindarinya Riki memilih untuk menahannya hingga dentuman keras terdengar hingga memekakkan telinga, tak tinggal diam dia melangkah maju lalu menyelinap ke belakang orang tersebut untuk menjepit pundak si makhluk bertopeng. Dengan momentum itu, Riki memegangi kepalanya dan langsung memutarnya penuh.


Terdengar bunyi aneh saat ia melakukannya namun Riki tidak peduli. Ia lalu melompat ke belakang saat tubuh itu terjatuh tak berdaya di pasir.

__ADS_1


"Lumayan bocah, tapi perlu diperlukan lebih dari itu untuk membunuhku."


Di luar dugaan sosok itu masih berbicara, tak lama kemudian dia berdiri kembali lalu memutar kepalanya sedia kala seakan kejadian barusan tidak pernah terjadi.


Riki hanya bisa tertegun melihatnya.


"Bagaimana bisa kau, barusan aku sudah mematahkan lehermu?"


"Hahaha kau tidak bisa membunuhku, walau kau menembakiku sekaligus."


Riki mencoba untuk menembaki seluruh tubuhnya, seperti yang dia katakan, itu sama sekali tak bekerja.


Riki bertanya.


"Siapa kau?"


"Siapa? Bukannya kita sudah pernah bertemu bocah, saat itu kau bersama temanmu."


Riki diam memikirkannya sejenak tentang sebuah nama dan akhirnya dia mengetahui dalam waktu singkat.

__ADS_1


"Kau, King?"


"Tepat sekali, bagaimana kekuatanku... luar biasa bukan? Sekarang aku sudah tak terkalahkan lagi. Siapapun yang mengejekku mereka akan tahu seberapa menyedihkan mereka."


__ADS_2