
Kaede yang sejak kedatangannya hanya diam kini mulai bergerak, dengan sebilah pedang di tangan serta topeng besi di wajahnya ia dengan mudah menghunuskan pedang ke setiap orang yang di lewatinya. Darah maupun potongan tubuh tertumpah di lantai.
Hanya satu yang bisa di gambarkan darinya.
Dialah iblis sebenarnya.
Dengan cekatan ia membunuh dalam sekali ayunan, korbannya bahkan tidak sempat untuk berteriak. Sekitar 500 narapidana telah kehilangan nyawanya oleh pedang kaede.
Kaede melepas topengnya dan seketika topeng berubah menjadi sosok Zero yang dikenalnya.
"Seperti biasa kau hanya membunuh kriminal saja, membunuh demi keadilan, terkadang aku bingung kau orang baik atau jahat?"
"Aku orang jahat Zero, bagaimana pun membunuh tetaplah membunuh, meski begitu harus ada yang mengambil peran ini dan inilah yang disebut keadilan sejati."
Zero tertawa, sampai tiba-tiba beberapa makhluk mengerumuninya, mereka sama dengannya, bertubuh seperti monster serta memakai topeng.
Mereka topeng iblis lain.
"Five, Six, Seven, Eigth apa yang kalian semua lakukan disini?"
"Akhirnya kami menemukanmu," ucap salah satu perwakilan.
"Ada apa?" tanya Kaede datar.
"Bunuh kami semua, kami sudah tidak ingin berada di dunia ini lagi."
Zero memiringkan kepalanya sementara Kaede masih menatap datar.
"Kalian kehilangan minat akan dunia ini yah."
semua topeng iblis itu mengangguk
"Baiklah, Kaede," panggil zero.
Kilatan pedang menebus mereka semua bagaikan sebuah bilah angin lalu topeng itu hancur seketika bersama tubuh mereka.
"Ayo pergi Kaede."
__ADS_1
"Baiklah," jawabnya datar.
"Kami semua memang sudah hidup di dunia ini terlalu lama, terkadang hal ini sangat membosankan."
"Jadi alasan kau ingin membunuh 1 juta orang," Kaede balik bertanya.
"Aku ingin kembali ke duniaku, dengan membunuh banyak orang kekuatanku akan semakin meningkat, ini juga bisa membantumu bukan."
"Begitu rupanya."
"Masih ada satu topeng iblis lagi, tapi kurasa aku tidak tahu keberadaannya," perkataan Zero berlalu begitu saja.
Di bawah sinar bulan keduanya menghilang dalam kegelapan.
Di markas pusat semua orang berkumpul, Claudia berpenampilan seperti maid dan ia memberikan teh ke setiap orang yang ada di ruangan itu.
Riki sangat terkejut melihatnya dan Luis tentu saja mengagumi penampilan itu.
"Aku ingin mencoba bercosplay, Mai bilang ini pakaian yang banyak dikenakan banyak orang."
"Adikku memang sangat manis."
"Kenapa?"
"Rokmu terlalu pendek."
"Waaah."
"Aku sebenarnya ingin memberikan pakaian yang lebih berani," ucap Mai kecewa kemudian disusul Pricil.
"Tak apa, rok pendek untuk seorang gadis bukan masalah."
"Sesuai yang diharapkan dari veteran rok pendek."
Pricil memukul perut Riki dan Albert hanya tersenyum ragu sebelum menyerahkan penjelasan pada Nina.
Nina menyeruput tehnya.
__ADS_1
"Kemarin malam, semua tahanan di penjara telah dihabisi dan inilah foto pelakunya,"
layar komputer kini berubah menampilkan sosok gadis berambut perak dan di sampingnya topeng iblis besi.
"Gadis itu."
"Gadis yang pernah Riki temui saat mengerjar Mai."
"Onee-chan," mendengar perkataan Mai, semua orang teralihkan padanya.
"Apa dia kakakmu?" Albert mengkonfirmasi kebenaran yang dijawab anggukan dari Mai.
"Biar aku saja yang melawannya, ada yang harus kuselesaikan dengannya."
"Aku mengerti," jawab ringan Nina kemudian layar berubah menjadi denah kota.
"Dia berada di sana."
"Aah, aku akan pergi."
"Tunggu Mai."
Sebelum Mai berteleportasi Riki menyentuh bahunya dan dia pun ikut berpindah.
Mereka muncul di atap gedung perkantoran, angin yang kencang menerpa wajah mereka dan di sanalah gadis itu duduk, di tepi atap selagi memandangi kota, rambut peraknya berayun tertiup angin sementara topengnya ada di tangannya.
"Lama tak bertemu, onee-chan... Mari kita selesaikan semuanya di sini."
"Itu juga keinginanku," kata Kaede yang berdiri menatap keduanya.
"Riki aku punya permintaan, tolong bantu aku menghentikannya... aku akan menggunakan kekuatanku sepenuhnya dan membawanya ke tempat lain," bisik Mai.
"Baiklah, tapi aku juga ikut tentu aku tidak akan ikut pertarunganmu."
Mai mengangguk kecil.
"Kalian sudah selesai, aku yang maju," Kaede memakai topengnya dan bilah pedang tercipta di tangan kanannya.
__ADS_1
Ia menerjang ke depan, mengayunkan pedang dari atas dengan momentum melebihi kecepatan suara. Bagi Riki ia tidak bisa mengikutinya yang ia tahu Mai sudah menahannya dengan pedang miliknya.
Ia menarik kembali pedangnya dan berputar mengayunkan beberapa kali ke Mai yang terus bertahan. Kilatan pedang terlihat dari keduanya.