
Riki menembakan senjatanya meski begitu dengan baik dihindari oleh musuhnya yang kemudian musuhnya melesat maju.
Dia menarik pisau belati untuk menahan tebasan tersebut kemudian menembakan peluru dari tangan lain yang masih bisa dihindari kembali.
"Gwahaha, jika cuma seperti itu tidak akan berpengaruh padaku."
Tubuh Riki ditendang mundur hingga punggungnya menabrak mobil yang terparkir di bahu jalan, dia berguling saat tebasan berbentuk bulan sabit tertuju padanya yang mana memotong mobil tersebut dua bagian sebelum meledak dahsyat.
Tak ingin menjadi orang yang hanya bisa diserang. Riki mengambil inisiatif untuk bergerak lebih dulu. Dia berlari dengan sedikit membungkukkan badannya dan kemudian mengirimkan tebasan melalui bilah belatinya, itu menciptakan sedikit kilatan cahaya yang menandakan bahwa senjatanya telah dialiri semacam energi spiritual.
Topeng iblis ke dua menghindar akan tetapi tanpa sepengetahuannya Riki menembak perutnya dari celah tak terlihat.
Lima tembakan melubangi tubuhnya.
"Kau?"
Riki menendang wajahnya dan kini giliran musuhnya yang diterbangkan menabrak jendela toko.
Percuma saja, jika aku tidak bisa menghancurkan topengnya sulit untuk mengakhiri pertarungan ini, pikirnya dalam hati.
Walau manusia yang menggunakan topeng itu mati, topengnya masih akan mengendalikannya seperti yang terjadi kali pada King, satu hal yang bisa dilakukan hanyalah membunuh keduanya.
"Sakit sekali sialan, siapa kau berani melakukan ini, manusia hanya akan mati!" teriaknya.
Tebasan bulan sabit yang jauh lebih banyak terkirim terarah pada Riki, dia sebisa mungkin untuk menghindarinya namun sayangnya sosok topeng iblis ke dua telah muncul di depannya, dia mengayun pedangnya dari atas ke bawah, dengan sekuat tenaga berhasil ditahan meski begitu tubuh Riki masih terlempar sejajar dengan aspal.
"Hanya sampai ini, matilah."
__ADS_1
Tepat saat pedang akan menebasnya, letupan senjata terdengar. Itu bukan berasal dari Riki melainkan Nina yang sedang terkurap di trotoar dengan Hecate di tangannya.
Topeng iblis itu menjatuhkan pedangnya sebelum terhuyung dan roboh ke depan.
"Ni-na?"
"Tepat sasaran, bukannya aku hebat."
Di luar dugaan bahwa ia mampu menembak seperti itu.
Riki tersenyum ke arahnya, dia jelas baru saja menyematkannya.
Sementara di tempat lain Pricil dan Mei Ling berhadapan dengan topeng iblis tiga, dia mengayunkan pedangnya namun bisa diimbangi dengan permainan pedang milik Mei Ling.
Setiap kedua senjata itu bertubrukan, ledakan angin tercipta yang mana menghancurkan sekeliling bersama kaca-kaca jendela yang pecah berserakan. Pricil yang memperhatikan dari samping menutupi wajahnya saat angin menerpa kencang ke arahnya.
"Sekarang aku yakin bahwa Mei Ling sendiri bisa mengatasi siluman di wilayahnya," katanya demikian.
Mereka berdua saling tertahan satu sama lain hingga pijakan mereka merebas ke dalam tanah.
"Mustahil? Bagaimana bisa manusia menyamai kekuatanku."
"Menyamai? Kami lebih kuat dibandingkan kalian... bahkan jika kau ini topeng iblis."
Tubuh manusia yang digunakan topeng tersebut telah mati dengan lubang besar berada di jantungnya, kini mereka hanya harus menghancurkan topengnya.
Keduanya mendorong diri mereka sendiri hingga terpental ke belakang.
__ADS_1
Mei Ling tersenyum saat posisinya telah digantikan oleh Pricil yang melesat maju.
"Kuserahkan padamu."
Dia memberikan beberapa pukulan untuk menghancurkan persendian topeng iblis tiga kemudian membuatnya terbang ke atas.
"Mustahil?"
Pricil melompat lebih jauh darinya memberikan tendangan gunting untuk menjatuhkannya ke tanah, sebagai sentuhan akhir dia meninju topeng itu hingga meledak dahsyat menciptakan lubang besar berdiameter 50 meter.
"Sepertinya aku berlebihan," katanya demikian namun Mei Ling hanya membiarkan itu berlalu untuk menjawab panggilan dari Nina.
"Sepertinya di sana juga sudah selesai, kita kembali."
"Oke."
Di pusat kota seperti biasanya Ayumi Kaede duduk di pinggir atap gedung selagi memakan roti lapis, ekspresinya masih seperti biasanya.
Dan yang tak terlihat, Zero sedang melayang-layang di sampingnya.
"Ada apa Zero?" satu matanya yang bersinar terang menatap Kaede.
"Topeng Iblis One, Two, dan Three, sudah lenyap."
"Aku tidak tahu ada topeng selain dirimu?" balas Kaede datar.
"Sebenarnya semuanya ada 10 dan aku kebetulan berada di peringkat pertama dari angka nol. Karena itulah namaku Zero."
__ADS_1
"Begitu."
Tidak ada simpati ataupun rasa sedih keduanya pun hanya diam memakan roti lapis masing-masing.