Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 34 : Setelahnya


__ADS_3

Walau Riki berhasil mengalahkan orang yang melakukan kekejam di sekelilingnya, ia tidak merasa senang. Baginya hal ini sangat mengerikan, di saat ia berusaha ingin melindungi banyak orang harapan itu segera hancur dengan mudahnya. Sudah berapa banyak mayat yang ia lihat bahkan berbanding jauh dengan apa yang ingin dia raih.


Riki terduduk di atas pasir pantai seakan dia kehilangan jiwanya. Tak lama beberapa orang anak buah Mei Ling bermunculan untuk mengurus semuanya.


"Kau tak apa Riki?"


"Tidak apa, biarkan aku beristirahat sebentar."


"Baiklah, serahkan sisanya pada kami," ucap Mei Ling dan bergegas untuk memberikan arahan pada anak buahnya.


Riki mulai meledek dirinya, sebagai seorang yang hanya menghibur dirinya dengan mengatakan akan menyelamatkan orang-orang namun kenyataannya, dia hanya membiarkan orang-orang terbunuh.


Ia sempat berpikir, jika saja dia mempunyai kekuatan untuk kembali ke sehari sebelumnya ia pasti akan berjuang menyelamatkan semuanya.


Harapan yang terdengar bodoh untuk dirinya.


Menggelengkan kepala atas pemikirannya sendiri keputusasaan membanjiri isi kepala Riki, Namun tiba-tiba sebuah tangan kecil melingkar di lehernya, tangan itu seputih salju namun sehangat mentari di pagi hari.


Tangan itu adalah tangan milik Nina, Sedangkan Pricil berdiri di belakang keduanya.


"Kamu sudah berjuang keras.. Jangan menyalahkan dirimu," suara itu terdengar sedih dan juga terdengar khawatir. Pricil memotong. "Ini salah kami, harusnya kami berada di sini lebih lama."


Riki hanya diam, lalu berdiri ia hendak berjalan pergi, namun, Nina memegang lengan bajunya untuk sesaat.

__ADS_1


"Tak apa aku hanya ingin menenangkan diri."


"Kami mengerti."


Nina dan Pricil tanpa sengaja bertemu dengan Mei Ling saat kepergian Riki, mereka diajak untuk membasmi siluman di tempat lain namun sayangnya hal seperti ini malah terjadi.


Polisi maupun ambulan kini membanjiri setiap penjuru pantai. Mereka mulai bertahap memindah mayat dari lokasi. Jumlahnya yang terlalu banyak membuat evakuasi berjalan lambat terlebih ditambah wartawan maupun orang-orang ikut melihat bencana tersebut membuat tim petugas kewalahan.


Nina dan Pricil duduk di kursi panjang mengawasi. Nina menekan tombol di ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Pak Albert, sepertinya kami akan tinggal beberapa hari lagi, sesuatu yang mengerikan terjadi di sini dan Riki perlu waktu untuk menenangkan dirinya."


"Aku mengerti, tak masalah Mai juga tidak keberatan koq."


"Iya."


"Apa dia akan baik-baik saja?" Pricil bertanya.


"Tenang saja... Aku yakin Riki akan kembali seperti biasanya."


"Kuharap demikian."


Tak lama kemudian seseorang datang menghampiri keduanya, nafasnya masih tersengal-sengal karena berlarian.

__ADS_1


"Kalian berdua tidak apa-apa, beta baru saja lihat berita dan langsung datang kemari, dimana Riki, dia baik baik saja?"


"Untuk saat ini begitu hanya saja..."


Perkataannya tertahan.


"Dia menyalahkan dirinya sendiri kan."


"Darimana kau tahu?" Tanya Nina.


"Ini terdengar so kenal tapi rasanya beta sedikit mengerti tentangnya.. dia juga baru menyelamatkan adikku, ini salahku kalau saja aku melarangnya ikut ke rumah sakit, Riki pasti bisa meyelamatkan semua orang ini."


"Dan membiarkan adikmu mati.... Kenapa kalian berdua ini, dengar, ini bukan salah siapapun, kita tidak bisa menghentikan sesuatu yang harus terjadi, jika harus menyalahkan.... pelakunya yang bersalah!"


Pricil berteriak demikian, membuat keduanya berhenti sejenak.


"Apapun yang terjadi, kita harus kembali ke sikap biasanya dengan begitu Riki juga akan kembali seperti sedia kala, kalian paham."


Keduanya mengangguk kecil.


"Lebih baik kita juga beristirahat, ayo Nina."


"Ah..iya."

__ADS_1


Luis hanya bisa melihat kepergian keduanya dari kejauhan.


Setelah pembicaraan itu Luis kembali ke rumah sakit yang mana hari sudah gelap saat ia tiba di sana.


__ADS_2