Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 39 : Kucing Pahlawan


__ADS_3

Nina kembali ke tempat duduknya di depan komputer, wajahnya cemberut saat ia tahu ekrim miliknya yang di kulkas telah raib.


"Mai, kau menghabiskannya bukan?"


"Maaf soal itu," Mai tersenyum pahit.


"Pastikan untuk menggantinya nanti."


"Aku mengerti," jawab Mai yang sudah kembali duduk di sofa, Riki mengikutinya dan duduk di sampingnya.


"Kau masih membaca buku begituan."


"Kau membuatnya terdengar seperti aku membaca buku sesat."


"Lalu apa yang kau pelajari dari buku ini."


"Ciuman."


Sudah kuduga pikiran orang ini terbalik dengan kepribadiannya, pikir Riki dalam hati.


"Aku juga ingin melakukannya, Riki bantu aku."


"Ogah, mendekat kutembak loh."


Mai membuat pose cemberut. Di saat yang sama Riki merasakan pandangan yang menakutkan hingga bulu kuduknya berdiri.


Rasa dingin itu terasa menjalar di seluruh tubuhnya.


"Aku merasakan perasaan yang aneh."


"Cuma perasaanmu saja," jawab Mai ringan.


Itu bukanlah perasaan melainkan di sudut lain Nina sedang memadang mereka dengan mata menyeramkan seakan leser bisa keluar kapan saja dari matanya.


Mai mengalihkan pandangannya dari buku ke Riki.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong Riki, saat kau pergi aku tidak membunuh satupun manusia sampai sekarang, jadi aku butuh hadiah."


"Kau benar-benar kekanak-kanakan.. hadiah? Aku tidak punya apa yang diminati oleh gadis, bagaimana dengan ini?"


Riki hanya memiliki permen di dalam sakunya.


"Aku dikasih permen. Aku akan memakannya. Lihat Nina aku di kasih permen.... permen loh, permen."


"Bodo amat, jika permen aku juga sering dikasih om-om dan mereka bilang aku imut juga."


Riki pikir orang-orang itu pasti orang-orang berbahaya.


Luis kembali ke markas setelah mengantar adiknya ke rumah sakit, ia menaiki lift dan saat pintu lift terbuka dia berjalan dan mendapati Pricil berdiri di pintu kamarnya bersama kucing melingkar di kakinya.


"Ada apa?" tanya Luis demikian.


Pricil memegangi bajunya.


"Tolong aku.... ada kecoa di dalam sana."


"Masa sudah besar takut kecoa, sini biar beta tumpas semuanya."


Dia ogah untuk meminta tolong padanya namun ada banyak hal yang tidak bisa diatasi oleh para gadis dan salah satunya adalah kecoa.


Keduanya memasuki ruangan yang menjadi kamar Pricil dan seekor kucing mengikuti dari belakang.


"Di mana?"


"Di balik rak."


"Oke.... Bantuin beta geser nih raknya."


Saat rak digeser bukannya satu kecoa melainkan 10 kecoa merayap ke tubuh Luis, ia langsung berguling-guling di lantai tatkala semua kecoa memenuhi tubuhnya hingga masuk ke dalam rambut Afro nya.


"Uwaaaaaaah...... Beta sudah tamat, kalian selamatkan diri kalian," teriaknya mengema di ruangan yang sepi.

__ADS_1


(Nggak usah lebaylah....serahkan semua ini padaku)


Yang melangkah maju itu adalah kucing berbulu oranye bernama Little..


(Tenang saja majikan, jika aku mati tolong bakarin ikan di makamku ya)


"Jangan ngikut lebay deh," ucap Pricil tersenyum pahit.


Little menerkam satu kecoa yang keluar dari tubuh Luis lalu memakannya. Terdengar suara kriuk saat ia memakannya dan Pricil terlihat mual sampai wajahnya memucat.


(Rasanya kayak ayam, majikan)


"Nggak usah ngibul.... Cepat bereskan semuanya."


(Roger)


Little berkata pada Luis, tentu saja dia tidak mengerti, hanya suara meong meong yang keluar darinya.


Luis masih berguling-guling di lantai layaknya cacing kepanasan.


Dan selanjutnya.


Kucing itu mengacak-ngacak rambut Luis dengan cakarnya, saat kecoa keluar ia langsung melahapnya.


"Gile ni kucing bisa-bisa rambut beta botak entar....tunggu , hentikan kucing garong, Oi.... Beta gundulin bulu lo."


"Meong-meong."


"Ngomong Apaan dah nih makhluk?"


Setelah beberapa menit kecoa berhasil di basmi dan dunia kembali damai.


"Syukurlah rambut beta tidak apa-apa," kata Luis meninggalkan ruangan selagi merapikan rambutnya.


Pricil berkata pada Little.

__ADS_1


"Maaf meragukanmu Little, kau pahlawan... aku bakarin ikan deh."


(Aku suka ikan meong)


__ADS_2