Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 68 : Memulai Pertempuran


__ADS_3

Di markas pusat, semua orang terdiam melihat layar yang kini memperlihatkan sosok wanita menggenakan kimono, dia berkata soal bom dan menghilang setelahnya.


Nina mulai mengetik sesuatu di keyboardnya lalu layar berubah menjadi denah seluruh kota, terdapat 4 titik merah di sana yang merupakan tempat penempatan bom.


Tanpa dijelaskan semua orang sudah mengerti, mereka semua harus berpencar untuk menghentikan peledakan.


Di bawah arahan Nina mereka pergi ke tempat yang sudah ditentukan, dengan Mai dipihak mereka ia dengan cepat berteleportasi ke satu titik lalu berpisah menuju tempat titik bom. Riki ke timur, Mai ke barat, Luis ke selatan dan Pricil ke Utara. Sementara Claudia akan terus berjaga di markas, tidak ada yang tahu pasti bahwa markas akan aman.


Begitulah rencananya.


Pricil tiba lebih cepat dari yang lainnya. Di depannya berdiri seorang pria gemuk, membawa palu lebih besar darinya, ia mengayunkan sekali ke bawah, membuat tanah menyeruak bagaikan ombak terarah padanya.


Pricil melompat ke samping hingga serangan itu hanya sedikit mengenai gaun miliknya.


"Aaah kau merusaknya, gaun kesayanganku."


si pria gemuk tertawa membalas.


"Namaku Jack, aku siluman tingkat atas yang akan menghancurkan manusia dengan palu penghakiman, untuk gaunmu jangan khawatir aku akan merusaknya hingga tidak bisa dipakai lagi tentunya dengan tubuh yang sudah tercabik-cabik."


"Akulah yang mecabik-cabikmu," Pricil membalas demikian selagi mengenakan sarung cakarnya.


Ia melangkah maju dengan cakar ke depan. Jack menahan dengan palu sesaat sebelum Pricil beralih dari samping sambil menendang dengan jurus andalannya.


Keras sekali, itulah yang bisa digambarkan dari situasinya sekarang, tak hanya palunya yang terbuat dari baja ternyata tubuh Jack pun sekeras senjatanya.


Pricil melompat ke belakang menjaga jarak, tinggal 15 menit lagi sampai bom itu meledak kendati demikian akankah dia bisa mengalahkan musuh di depannya, selagi memikirkan itu balasan serangan dilakukan Jack.


Dia masih berdiri di tempatnya selagi menerbangkan puing-puing batuan ke arah Pricil melalui palunya.


"Ugh, kau merepotkan sekali," ucap Pricil tak mendapat jawaban.

__ADS_1


Jack terus memukul-mukul palunya hingga Pricil tak bisa mendekatinya.


"Apa boleh buat akan kutunjukan 100 persen kekuatanku."


Pricil merubah dirinya menjadi seekor kucing yang gesit yang mampu menghindar dari puing-puing yang dilemparkan jack.


Ketika jaraknya dekat ia merubah dirinya kembali ke sedia kala sambil mengirimkan pukulan ke depan.


Jack menahan dengan palunya akan tetapi palu itu hancur berkeping-keping.


"Pukulan Seribu," begitulah nama jurus yang diteriakkan Pricil.


Pricil degan seluruh kemampuannya memukul bagaikan sebuah peluru, kedua tangannya bergerak seakan jumlahnya terlihat banyak.


Jack hanya bisa menerimanya pasrah.


''Apa-apaan ini?"


"Aku menemukan bomnya, apa yang harus kulakukan."


"Putuskan kabel birunya."


Mengikuti arahan Nina bom berhasil dimatikan.


"Aku sangat lelah, aku ingin istirahat dulu sebentar di sini, tak apa kan."


"Tentu, kerja bagus Pricil," ucap Nina dari seberang panggilan lalu komunikasi keduanya terputus.


Nina menyandarkan tubuhnya di kursi miliknya.


"Tinggal tiga lagi, berjuanglah kalian."

__ADS_1


Luis mengangkat tubuh musuhnya dengan kekuatan telekenesisnya hanya saja orang yang dihadapinya terlihat tenang-tenang saja.


Ia pria dengan rantai di tangannya-- Hexigon


"Apa segitu kekuatanmu rambut Afro!"


"Sial."


Hexigon balik menyerang, ia mengeluarkan rantai dari seluruh tubuhnya mengarah ke Luis.


Luis menahannya dengan telekenis lalu menyambungkannya dengan hentakan tangan yang membuat Hexigon terseret lalu menabrak buldozer.


Itu adalah tempat yang sedang dalam pembangunan konstruksi.


Hexigon berdiri, mengikat satu rantai ke mobil lalu memutar-mutarnya di udara seakan benda itu ringan sebelum melesatkannya tertuju pada Luis yang terbang di udara.


Luis menahannya dengan telekenis lalu melemparkannya kembali.


Sebelum Hexigon menghindar Luis menghentikan pergerakan kakinya hingga mobil itu menghantamnya dari depan lalu meledak dahsyat.


"Sialan.... Aaaaaa."


Tubuh Hexigon terbakar hangus.


"Di sini sudah selesai, aku akan mematikan bomnya."


"Dimengerti," kata Nina yang masih mengawasi di depan layar.


"Tinggal dua lagi."


Sebelum semua bom dimatikan mereka masihlah belum merasa lega.

__ADS_1


__ADS_2