
"Mari pergi."
Setelah Riki berkata demikian ketiganya meninggalkan tempat itu.
"Good job," suara itu berasal dari Nina yang terlihat puas, di sampingnya Pricil berulang kali menarik udara ke dalam paru parunya tanpa melepaskan Little yang berada di pelukannya.
"Ah... Bikin tegang saja"
"Bagaimanapun kita tidak bisa bekerja dengan orang seperti itu, apa boleh buat kita kembali saja," suara Riki terdengar kecewa namun sesaat hendak pergi, Nina menghentikan dengan memanggil namanya.
"Riki, aku merasakan energi spiritual lainnya walau tidak besar, kurasa dia bisa membantu kita."
"Mari lihat seperti apa orangnya, kalau seperti yang barusan aku akan langsung pergi," Pricil mengutarakan pendapatnya di saat Riki mengangguk setuju.
Hanya berjalan beberapa blok dari tempat sebelumnya. Riki mendapati seseorang berkulit coklat sedang menari di pinggir trotoar, menurut Nina dialah pemilik kekuatan spiritual tersebut. Ia mengenakan pakaian cutbray dengan rambut apro matanya tertutup kacamata hitam terkesan mencari perhatian.
"Orang aneh lagi."
"Siapa yang bilang Beta aneh, ini sangat modis," si pria mengutarakan kekesalannya terhadap Pricil yang hanya bisa mengangkat bahunya.
"Beta tak tahu siapa kaka-kaka ini, jika berniat mengganggu pekerjaan Beta silahkan angkat kaki sono," katanya mendesak.
"Memangnya kau sedang ngapain?" tanya Riki
"Tak lihat, aku sedang nyari duit."
__ADS_1
Pria itu kemudian mengangkat satu tangannya sambil berpose.
"Aneh."
"Sudah Beta bilang ini modis. Dasar bocah kecil."
"Umurnya lebih tua dari yang terlihat."
"Yang bener, kenapa kecil banget."
"Entah kenapa, aku sangat kesal mendengarnya."
Mengabaikan kekesalan Nina, Riki langsung masuk pada intinya.
"Apa kau mau bergabung dengan organisasi kami?"
"Kenapa kau berpikir kami orang jahat?" Nina jelas masih kesal.
"Memangnya apa lagi, yang kaka bawa itu senapan kan."
Setelah mendengarnya Riki akhirnya mengetahui kekuatan pria ini, pria ini mempunyai kekuatan melihat benda tembus pandang.
"Jadi itu kekuatanmu," seakan mengetahui maksud perkataan Riki, si pria afro membalas dengan senyuman.
"Kaka juga pengguna kekuatan spiritual kan...walau begitu, kekuatanku lah yang paling hebat.....aku bisa melihat apapun, bahkan menembus pakaian wanita."
__ADS_1
"Bukannya kau terdengar seperti orang mesum," mendengar hal itu Nina dan Pricil secara Reflek bersembunyi di punggung Riki.
"Tenang saja aku bukan orang yang menyalah gunakan kekuatanku. Demi menyegel kekuatanku, aku menggunakan kacamata hitam ini."
Nina mengerenyitkan alisnya berfikir ada yang aneh dalam pernyataannya.
"Tadi kau bilang Riki membawa senapan kan? Bukannya hal itu menandakan kau sedang menggunakan kekuatanmu, aku bahkan tidak melihatmu melepas kacamata."
"Benar, aku juga berpikiran sama," Pricil setuju atas pendapat yang dilontarkan Nina lalu melanjutkan.
"Boleh aku hajar orang ini."
"Kalau dia berkata yang aneh-aneh kau boleh menghajarnya."
"Tolong jangan sakiti beta... beta sekarang sedang sakit, jika beta dipukul, beta bisa is dead, alasan aku tahu karena aku melihat kalian sebelumnya. Ngomong-ngomong nama beta, Luis."
"Luis?
Riki melanjutkan dengan sebuah pertanyaan.
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan kami mengalahkan siluman?"
"Siluman, kau bercanda, beta bisa mati."
"Mati, mati, dari tadi kau bilang mati, akan kubuat kau mati beneran."
__ADS_1
"Tenanglah Pricil, semua orang punya ketakutannya sendiri kita tidak bisa memaksa orang untuk bertarung.... Kami mengerti, kami tidak akan mengganggumu lagi."
Nina berjalan meninggalkan tempat itu, disusul Pricil sementara Riki tetap berada di sana berbicara dengan Luis.