Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 70 : Akhir Pertempuran (Tamat)


__ADS_3

Sudut pandang Riki.


Aku merasakan sensasi rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku, baru saja aku diterbangkan oleh sesuatu yang disebut kekuatan, di depanku Riel berdiri dengan santainya sementara disisi lain Mai terlihat kelelahan.


Dia baru saja mengeluarkan seluruh kemampuan berpedangnya namun bagi Riel itu bukanlah ancaman, dia malah tersenyum mengejek.


"Mai, apa kau punya rencana?" tanyaku padanya.


"Aku sudah kehabisan ide, kau sendiri?" Mai balik bertanya.


"Sama."


Mendengar itu Riel tersenyum pahit.


"Kalian seharusnya berbisik-bisik bukan, aku bisa mendengar semuanya."


"Biarlah... kita serang saja bersama," potong Mai.


Mengikuti arahan Mai, aku dengannya menyerang sebisa yang kami lakukan. Mai menebas dari atas mengandalkan gravitasi untuk menambah momen tebasannya.


Tiba-tiba saja tubuhku bertukar posisi dengan Riel, di saat yang sama Mai berteleportasi ke dekat Riel.


"Apa?"


Tebasan Mai memotong lengan kiri Riel.


"Bagaimana kau bisa."


"Aku hanya menebaknya saja, aku yakin kau akan berpindah tempat dengan Riki."


Dalam sekejap dia bisa berpikir seperti itu.


Jangan lengah, musuh masih bisa berdiri.


Menghilangkan pikiran yang menggangguku, aku menembakan pistol di kedua tanganku, mungkin karena terluka empat peluruku berhasil mengenainya.


"Sialan kalian!"


Mai juga tidak berhenti di sana, dia menggunakan teknik rahasianya yang merupakan tarikan pedang.


Sebelum teknik itu mengenai dirinya, Riel sudah berpindah tempat dengan sebuah batu.


Ia kemudian mengeluarkan topeng dari balik kimononya, itu adalah topeng berbentuk rubah.


"Apa yang kau lakukan?"


"Bukannya siluman tidak bisa mengenakan topeng iblis."


"Maafkan aku, tapi sebenarnya aku bukan seutuhnya siluman, aku juga manusia seperti kalian."


Mendengar itu, kami berdua terkejut.


"Bagaimana bisa?" tanyaku.


"Apa maksudnya ini, bukannya kau siluman yang membunuh banyak manusia hingga memiliki tubuh seperti itu."


Riel tertawa.

__ADS_1


"Kalian tahu, aku adalah ilmuwan yang luar biasa ahli genetika, yang selama ini kalian buat adalah hasil buatanku yang menyatukan DNA manusia dan siluman, apa kalian terkejut?"


Kami memang sudah menduganya tapi ini jauh diluar dugaan.


"Aku terus melakukan penelitian hingga akhirnya mereka bermutasi dengan kekuatan luar biasa, hanya anggota Fallen saja yang tidak berubah bentuk dan terlihat seperti manusia. Selama ini yang kalian lawan itu bukan siluman, akan tetapi manusia yang berubah menjadi monster."


Dia berhenti sejenak lalu melanjutkan.


"Satu hal lagi, untuk semua anggota Fallen yang kalian kalahkan, aku sudah mencuci otak mereka dengan membuat mereka berpikir bahwa mereka adalah siluman sesungguhnya...menarik kan."


"Dia membuatku geram," Mai mengatakan hal yang ingin aku katakan juga, Riel berteriak.


"Akan kubuat dunia ini ke bentuk sedia kala."


Aku dan Mai terlihat kebingungan sampai ia melanjutkan.


"Awalnya dunia ini begitu indah, tapi karena tangan-tangan kotor manusia yang tidak bertanggung jawab kini dunia ini mulai terkikis kehancuran, contohnya dengan pemanasan global, penebangan pohon sembarangan, serta polusi lainnya. Jika manusia tidak ada, bukankah bumi ini akan kembali terjaga."


"Bagaimana dengan mahluk yang menempatinya?" tanyaku.


"Mudah saja, aku hanya harus membuat spesies baru untuk mengantikan peran manusia."


"Maksudmu dengan monster-monster itu."


"Tepat sekali..... nah, sekarang aku akan membunuh kalian berdua."


Riel memakai topengnya bersamaan itu tubuhnya telah pulih dari semua luka seperti kemampuan beregenerasi, tak lama sebuah pedang muncul di tangannya.


Matanya yang merah menatap kami berdua.


"Topeng Iblis ke 9, Iblis dari neraka," Riel berkata demikian sebelum melesat ke arah kami.


Tubuhnya tak terlihat.


"Srak"


"Di mana dia?"


Semua badan kami berdua tergores pedangnya, bahkan untuk Mai sendiri dia tidak bisa mengikutinya.


"Mati kalian."


Sebelum Riel melancarkan kekuatan terakhirnya sebuah dinding tak terlihat menghalanginya, dan orang yang melakukannya.


"Luis," aku berteriak padanya.


"Cepatlah, habisi dia."


"Apa?"


Dengan telekenesisnya Luis mampu menahan Riel beberapa detik, bersamaan dengan itu bunyi aneh terdengar saat bilah katana Mai memotong tubuhnya dari kepala menjadi dua bagian, topeng itu pun ikut terbelah dan hancur.


Mai menyarungkan katananya kembali lalu mengikutiku dan Luis dari belakang.


Aku dengan panik melihat ikatan yang mengikat ke tiga orang tersebut, itu semua terbuat dari bom.


"Bagaimana menghentikannya, percuma waktunya tidak akan cukup," jawab Nina.

__ADS_1


"Biar aku saja," suara itu berasal dari Luis.


"Baiklah."


Setelah memotong bagian talinya, Luis mengangkat seluruh bom dari permukaan tanah ke atas, jaraknya sudah melebihi patung Monas itu sendiri.


"Cepatlah, tinggal 10 detik lagi," teriak Nina


"Aku tahu, aku berusaha."


Dan selanjutnya.


Bom itu meledak dengan dahsyat tanpa mengenai siapapun.


Semenjak kami mengalahkan Fallen semua monster kini berkurang, bahkan setelah satu tahun monster sudah tidak ada lagi termasuk untuk wilayah WIT dan WITA.


Selagi memikirkan itu aku duduk di taman selagi memandang langit.


"Memikirkan sesuatu," Nina yang duduk di sampingku berkata demikian.


"Luis ternyata benar-benar bisa diandalkan di detik akhir."


"Aku sudah tahu itu dari awal, kekuatannya tidak terlalu kuat tapi cukup efektif."


Karena siluman sudah tidak muncul lagi, kini badan penanggulangan serangan gaib telah dibubarkan, tapi jangan khawatir setiap anggotanya mendapatkan kompensasi yang sangat banyak atas jasanya.


Albert memutuskan untuk kembali ke negaranya dan hidup damai di sana. Selama ini dia banyak tertekan karena pekerjaannya.


Luis dan Claudia memutuskan untuk memulai bisnis restoran bersama. Untuk Pricil dia memutuskan untuk kembali ke bandung setelah lulus sekolah dan membuka toko hewan di sana.


Mai dan kakaknya Kaede membuka perpustakaan umum yang besar di tengah kota, mereka berdua sama-sama suka membaca buku.


Sedangkan Nina membuka cafe es krim yang dijalankan aku dan dengannya. Kami masih punya bisnis sepulang sekolah.


Kami semua kini bisa menjalani hidup seperti orang normal lakukan.


Aku berkata pada Nina setelah keheningan muncul diantara kami.


"Ngomong-ngomong Nina, selama ini kita terus disibukan oleh pekerjaan bagaimana kalau besok kita pergi jalan-jalan?"


"Boleh juga."


"Tentu bukan sebagai teman, melainkan kekasih."


Angin lembut membelai rambut Nina. Ia terdiam sesaat sebelum menjawabku.


"Tidak, bukan sebagai kekasih melainkan seorang istri."


"Yah, kalau begitu. Maukah kamu menikah denganku?"


"Dengan senang hati."


"Tapi setelah kelulusan selesai."


"Oke."


Udara kini semakin dingin dan di bawah langit senja kami saling berpegangan tangan lalu meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Tamat.


__ADS_2