Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 46 : Ketua Fallen


__ADS_3

Mai kembali mengayunkan pedangnya sejajar dengan leher Hexigon, tiba-tiba saja seorang wanita lebih dulu muncul untuk menangkapnya dengan mudah.


Mai yang terkejut, menghilang dan muncul kembali jauh ke belakang.


Hexigon masih memegangi lengan kanannya yang sudah terpotong sementara si wanita yang baru menyelamatkannya tersenyum padanya.


Wanita itu berkulit putih serta memakai kimono putih yang sedikit terbuka, rambutnya berwarna ungu dikepang ke depan dan ada tahi lalat di bawah mata kirinya.


"Kau ceroboh, sudah kukatakan kan.... kau tidak bisa mengalahkannya sekarang, lihat tanganmu jadi seperti itu."


Hexigon hanya mendecapkan lidahnya kesal sebagai balasan.


Kini si wanita mengalihkan pandangannya ke arah Mai.


"Maaf atas ketidaksopanannya jika kau berniat melepaskannya kami akan pergi sekarang juga."


"Itu sangat sulit, pedangku tidak bisa melepaskannya begitu saja," jawab Mai haus darah.


"Hmmm pedang terkutuk ya, pedang yang akan menebas apapun yang dilewatinya tanpa pandang bulu."


"Kau tahu juga rupanya, pedang ini sangat haus darah loh, aku harus terus membunuh jika tidak pedang ini yang akan membunuhku."


Wanita itu tersenyum pahit, jelas yang dikatakan Mai sebagian besar bohong. Pedang hanya bergerak sesuai perintah pemiliknya dan jelas pedang itu terkutuk karena Mai sendiri yang menggunakannya untuk membunuh manusia.


"Teknik rahasia, tebasan pertama," untuk kedua kalinya Mai mengeluarkan tekniknya.


Hanya saja, wanita berbaju kimono itu menjentikkan tangannya selagi satu tangannya menyentuh bahu Hexigon, di saat yang sama tubuh mereka berganti tempat dengan Mai sendiri.


"Apa?"


Untunglah sebelum tebasan mengenai dirinya sendiri Mai sudah lebih dulu berteleportasi.

__ADS_1


"Hampir saja jurusmu membunuh dirimu sendiri."


Selagi menimbang-nimbang batu krikil di tangannya, wanita itu berkata demikian.


Batu menghilang berganti dengan sebuah tangan. Tentu itu tangan Hexigon yang terputus.


Wanita itu tersenyum sesudah memberikan potongan tangan pada Hexigon.


"Namaku Riel, ketua organisasi bernama Fallen," dengan anggun dia memperkenalkan dirinya.


Mai memilih mengabaikan lalu berkata.


"Kemampuanmu sama seperti teleportasi, hanya saja kau perlu objek untuk berpindah.... Ini sangat menarik, mari bertarung."


"Maaf, tapi ini bukan saatnya, aku sedang membuat sebuah pertunjukan untuk kita semua, jika selesai kita bisa saling membunuh satu sama lain nanti."


Tanda tanya besar muncul di pikiran Mai.


"Nanti juga kau akan tahu... Jika saat itu tiba, kau bisa mengalahkanku, aku akan memberikanmu ini."


Di tangan Riel adalah sebuah topeng menyerupai rubah dengan angka 9, tidak hanya Mai, Hexigon pun terlihat sama terkejutnya.


"Ketua, sejak kapan kau memiliki topeng iblis?"


"Sebelum aku membentuk Fallen aku sudah memilikinya.... aku tidak ragu menggunakannya jika waktunya tiba."


Riel mengalihkan pandangannya ke Mai.


"Kami harus pergi sekarang, sampai nanti."


"Tunggu sebentar, ah mereka lolos."

__ADS_1


Mai segera memencet erphone di telinganya saat keduanya berganti tempat menjadi batu.


"Kau bisa melacaknya," tanya Mai demikian.


"Mereka sudah menghilang."


"Bagaimana dengan Riki?"


"Dia akan baik-baik saja aku baru mengirimnya senjata yang dia minta."


"Kalau begitu aku akan kembali ke markas saja"


"Jangan dulu Mai....Apa kau melupakan sesuatu yang penting?"


Mai meletakan jarinya di bibir, berusaha mengingat apa yang dikatakan Nina dan menyerah di waktu yang sama.


"Soal apa?"


"Es krim, es krim.... kau harus menggantinya sebelum datang kemari."


"Kejamnya... aku terluka loh, nanti saja."


"Tidak ada nanti-nanti, harus sekarang."


"Baik, baik," jawab Mai lemas.


"Jangan lupa tiga eskrim tambahannya, sebagai permintaan maaf."


"Dasar rakus."


Nina tersenyum puas selagi menyandarkan dirinya ke punggung kursi sementara itu Albert yang duduk di sofa sedang menyeruput kopinya tampak tenang.

__ADS_1


__ADS_2