Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 43 : Sebuah Pohon Raksasa


__ADS_3

"Paling tidak kursinya cukup untuk semua," apa yang dikatakan Claudia.


Riki bertugas sebagai supir sedangkan Mai duduk di sampingnya dengan bersemangat, sementara untuk Pricil, Claudia dan Luis duduk di belakang tampak santai. Walau desainnya seperti ini tetap saja itu kendaraan yang nyaman.


"Jadi ini kenyamanan yang selalu dirasakan orang kaya itu."


Mengabaikan halusinasi Luis soal mobil, Riki memilih melakukan pembicaraan kembali dengan Nina selagi menjalankan mesin mobil.


"Jadi siluman seperti apa yang akan kami lawan?"


"Aku tidak tahu harus bilang ini siluman atau bukan, yang jelas itu sebuah pohon."


"Pohon toh, nembosankan," jawab Mai yang diam-diam mendengar.


"Pohon itu tidak menyerang manusia hanya saja ia menyerap semua air yang ada di kota ini."


"Tak menyerang manusia tetap tetap cukup membuat masalah, apa kamu punya ide?"


"Tidak, untuk urusan di lapangan aku serahkan pada kalian, aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan kalian.. semoga beruntung."


Telepon terputus.


Itu jelas tidak membantu.


Mobil melaju dengan kecepatan stabil. Dari tempatnya berada Riki mulai bisa melihat batang pohon raksasa dan ukurannya semakin lama semakin tinggi bahkan akar-akarnya mulai merusak jalan aspal di bawahnya.


"Ya ampun itu akan tumbuh sebesar apa?" ucap Pricil demikian.

__ADS_1


"Paling tidak sekarang sudah setara dengan Monas."


Daun-daun di setiap dahan pohon tumbuh dengan kecepatan tidak masuk akal hingga seluruh wilayah dibawahnya telah tertutup bayangan gelap.


Suara Mai membawa semua orang ke dalam kenyataan.


"Kita kedatangan tamu."


Saat ini semua orang bisa melihat ada seorang pria tengah berdiri di jalan mereka berusaha menghadang laju kendaraan.


"Apa kita harus mengalahkannya dulu?" tanya Pricil.


"Kurasa tidak usah, biar aku yang menghadapinya, kalian terus saja maju," ucap Mai demikian selagi mengalihkan pandangannya ke Riki untuk meminta konfirmasi darinya.


Biasanya Riki akan menolak, ia tahu dalam pertempuran jangan pernah sekali pun meremehkan musuh bahkan jika itu seorang anak kecil.


Sembari menghela nafas, Riki menyerahkan pria yang berdiri itu pada Mai.


"Aku mengerti."


Mai menghilang dan muncul kembali di depan pria itu dalam sekejap mata, sedangkan mobil melewati keduanya tanpa kerusakan. Embusan angin dari mobil mengibarkan rambut hitamnya, matanya yang seolah memancarkan warna merah darah menatap musuh di depannya dengan niat membunuh.


"Kita serahkan pada Mai, kita juga tidak boleh lengah."


Semua orang mengangguk mengiyakan.


Mobil melewati lampu lalu lintas, berbelok di persimpangan lalu melaju lurus dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Setibanya di lokasi, ketiganya turun dari mobil. Mata Luis terbelalak kaget walau dia tinggal di mana kawasan hutan lebih luas di banding penduduknya, baru pertama kali ia melihat pohon sebesar itu dari jarak yang begitu dekat.


Tingginya sudah naik 10 meter dan sudah jelas keberadaannya sudah menghancurkan bangunan di dekatnya.


"Sekarang bagaimana, bahkan cakar kusendiri tidak akan sanggup memotongnya," orang yang bertanya itu adalah Pricil yang telah memasang senjata yang diberikan Nina sebelumnya.


Awalnya Riki ingin menggunakan kemampuan Pricil untuk memotongnya menggantikan Mai, namun saat melihat keberadaan pohon tersebut, hanya kata mustahil yang ada dibenaknya.


Riki mulai memutar otaknya, di depannya adalah sebuah pohon, ukurannya memang besar tapi pohon tetaplah pohon, mereka hanyalah sebuah kayu yang mudah terbakar.


"Jika tidak bisa dipotong, kita hanya harus membakarnya."


"Jika dilakukan kota ini bisa terbakar loh."


Yang dikatakan Pricil memang benar, jika Riki membakar pohon tersebut otomatis kota juga akan ikut terbakar, Riki setuju dengan hal itu. Namun berbeda jika dikelompoknya ada seorang berkemampuan telekenesis.


Riki menunjuk orang tersebut yang tak salah lagi adalah Luis.


"Pindahkan pohon itu ke tempat lain atau buat dia melayang sampai habis terbakar."


"Buset dah... Baru mulai udah disuruh tugas yang berat, bagaimana jika beta lemparkan saja ke laut."


Suara Nina memotong.


"Kalian tidak boleh melakukannya, jika pohon itu meminum air ia akan semakin besar, aku sudah menganalisanya dari markas dan begitulah kenapa pohon ini tumbuh dengan cepat."


Semua orang mengerenyitkan alisnya, paling tidak informasi seperti itu harus dikatakan sejak awal.

__ADS_1


__ADS_2