Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 30 : Duel Dan Sebuah Insiden


__ADS_3

Markas milik Mei Ling tidak jauh berbeda seperti markas Albert, itu adalah sebuah gedung dengan beberapa lantai di dalamnya, di salah satunya adalah ruangan khusus untuk latihan di mana kini Riki dan Mei Ling saling berhadapan untuk melakukan duel.


Yang lain juga muncul sebagai penonton bersama pasukan organisasi dari cabang WITA.


Mereka hanya menyaksikan pertarungan dari dalam sebuah dinding kaca.


"Seperti yang Nina katakan lebih baik kita bertaruh juga, jika aku menang kau akan bergabung dengan kelompokku bagaimana?" ucap Mei Ling tersenyum lebar.


Itu taruhan besar akan tetapi Riki tidak mungkin bisa mundur karena sejauh ini, dia memutuskan untuk mengambil keuntungan juga.


"Jika aku menang biarkan kami menginap selama yang kami mau di sini."


"Itu tidak terlalu sulit."


Riki dan Mei Ling akan bertarung menggunakan pedang Light Saber, kekuatannya sudah dikurangi hingga tak mungkin bisa memotong dan hanya akan terkena setrum sampai pingsan jika menyentuhnya secara langsung.


Ketika bel berbunyi keduanya melangkah maju.


Keduanya menebaskan pedangnya dari samping hingga terdengar suara petir saat kedua senjata itu bertubrukan di udara, Riki melompat mundur saat Mei Ling memburunya dengan tebasan cepat.


Dia harus menggunakan dua tangan untuk memblokir serangan wanita ganas ini, yang jelas dia sangatlah kuat.


Setelah memantulkan senjatanya ke samping, Riki memberikan sebuah tusukan yang dihindari setipis rambut.


"Menarik, kau terlihat terbiasa bertarung sayangnya masih belum cukup mengalahkanku."


"Guakh."


Sebuah tendangan menghantam perut Riki membuatnya terkirim ke belakang menabrak dinding kaca sebelum berusaha bangkit kembali.


"Aku yakin itu tidak akan cukup mengalahkanmu bukan."


"Yang barusan cuma pemanasan," balas Riki demikian.


"Itu baru namanya semangat."

__ADS_1


Riki bergerak maju, awalnya dia menggunakan tangan kanan untuk memegang pedang sekarang dia alihkan ke tangan kiri sementara tangan sebelumnya mengambil pistol.


Pistol ditembakan yang mana pelurunya sendiri terbuat dari karet, walaupun tetap saja jika mengenai tubuh rasanya jauh menyakitkan. Mei Ling melindungi wajahnya dengan pedang, saat sebuah sepatu terbang ke arahnya, itu mengenai bagian samping perutnya yang mana membuatnya terlempar seperti apa yang dirasakan Riki sebelumnya.


"Lumayan, kini aku mulai serius."


"Tentu."


Mereka terus membenturkan pedang satu sama lain, walau Riki tidak sepandai Mai dalam menggunakan pedang, dia masih mampu mengimbangi kekuatan musuhnya hingga pada akhirnya pedang Mei Ling terlempar darinya dan Riki meletakan ujung pedangnya sangat dengan wajahnya.


"Aku menang."


Mei Ling mengangkat kedua tangannya.


Riki mengalihkan pandangan ke luar dinding jendela di mana rekannya tampak terlihat senang khususnya Nina.


Pertarungan barusan memakan waktu satu jam, jika stamina Riki tidak unggul dia pastilah yang kalah.


"Sudah kuduga stamina wanita tidak bisa mengungguli pria apalagi seorang pemuda."


"Haha begitu, kalah tetaplah kalah, jadi kuizinkan kalian tinggal di sini sementara waktu. Riki."


Keduanya saling berjabat tangan.


Di dalam ruangan itu seorang yang dianggap kuat berdiri menatap kaca. Darah merebes dari setiap ujung jarinya setelah menghancurkan bayangan dirinya, yang jelas tatapannya penuh kemarahan.


Ia barusan kalah bertinju dan mengalami kekalahan banyak.


"Sial..sial.... Akan kubunuh orang itu....kubunuh....bunuh... bunuh...bunuh," dia mengatakannya seakan itu sebuah kutukan, dan namanya kutukan jelas akan terdengar oleh iblis.


Dari cermin yang hancur itu menyeruak sosok makhluk bertopeng dengan tiga lubang membentuk mata serta mulut, di keningnya bertuliskan angka 1. Ketiga lubang itu bersinar merah layaknya sebuah darah segar.


Tubuhnya tidak terlalu besar maupun kecil akan tetapi dari ujung rambut sampai kaki semuanya terlilit rantai yang mana membuat pria itu terkejut dan mundur karena panik.


"Siapa kau?" tanyanya memaksakan diri.

__ADS_1


"Namaku One, Namamu King kan? Seorang petinju yang kalah. Biar aku katakan kau kalah karena dicurangi musuhmu, dengan meletakkan racun di dalam minumannya."


"Jadi begitu pantas saja ada yang salah."


Sosok topeng dengan tubuh hitam itu muncul di belakangnya dan berbisik.


"Apa kau butuh kekuatan, aku bisa meminjamkannya loh... kau bahkan bis jadi yang terkuat."


"Kau serius?"


"Tentu saja, syaratnya sangat mudah bunuhlah satu juta manusia... bukannya itu tidak sulit, kau akan akan jadi penguasa jadi ini bukan tawaran sulit, mereka hanya harus patuh padamu dengan kekuatanmu yang tak tertandingi."


"Benar, aku adalah penguasa."


Makhluk bertopeng itu tertawa terbahak bahak


"Bagaimana?"


"Aku sepakat."


"Pilihan bijak."


Tubuh One berubah menjadi asap lalu menyerap masuk ke dalam topeng yang sebelumnya dia kenakan, Saat King memakainya sebuah sabit tercipta di kedua tangannya.


"Aku bisa merasakannya, kekuatan ini... kekuatan ini.... Luar biasa."


Tak lama sebuah suara pria muncul dari pintu ruangannya selagi menggedor pintu.


"King, kau ada di dalam... keluarlah kau masih berhutang padaku."


Pintu terbuka dan saat pria itu masuk tubuhnya terbelah dua bagian.


"Di luar masih ramai, akan kubunuh semuanya."


Malam itu kini berubah menjadi malam pembantaian.

__ADS_1


__ADS_2