Sang Pemburu Siluman

Sang Pemburu Siluman
Chapter 28 : Hal Tak Terduga


__ADS_3

Mereka memutuskan mengunjungi sebuah restoran keluarga yang menyajikan makanan laut, dimana berbagai hidangan seperti kerang, udang, kepiting, gurita dan cumi-cumi ditaruh di depan mereka secara menggunung dengan saos yang dilumuri di atasnya.


Pricil memakan udang dengan wajah senang.


"Ini enak sekali, aku tak bisa berhenti makan."


"Meong, meong," kucingnya mengikuti dengan bahasa yang sulit dimengerti orang lain selain dirinya.


Nina mengulurkan tangannya pada Riki.


"Ini memang enak, terutama cumi ini... Riki buka mulutmu. Kau harus mencobanya?"


"Baiklah."


Luis yang memperhatikan bersama Pricil tampak tersenyum aneh.


"Jangan bilang kalian berdua pacaran?"


Riki menyemburkan makanan dari mulutnya, sementara Pricil menyikut perut Luis, karena kekuatannya yang kuat itu membuat dia mengerang kesakitan.


"Sakit sekali."


"Jangan ganggu momen romantis mereka, lagipula walaupun penampilan Nina kecil dia lebih tua dibandingkan Riki."


"Hah? Kau serius?"


Pricil mengangguk beberapa kali hingga Riki hanya memasang wajah bermasalah.


"Sekarang Riki, suapi aku juga."

__ADS_1


Dia pikir Nina hanya mencoba menggodanya jadi Riki hanya mengikuti apa yang diinginkan Nina walaupun sekarang ia memucat karena Nina tanpa ragu menjilati jari lengannya.


"Enak sekali."


"Sekarang beta yakin dia orang dewasa."


"Benarkan."


Nina berdeham sekali sebelum mengalihkan pandangan ke arah Luis, memang benar bahwa Nina bisa mengetahui siapa saja yang memiliki kekuatan spiritual meski begitu dia tidak bisa yakin dengan pasti kekuatan seperti apa yang mereka miliki karena itu, ia tetap harus menanyakannya secara langsung.


"Ngomong-ngomong Luis, selain bisa melihat tembus pandang apa kau menyembunyikan kekuatanmu yang lain?"


"Sebenarnya beta bisa menggunakan telekenesis."


Luis mengulurkan tangannya membuat sendok di dekatnya melayang lalu membengkokkan dirinya.


"Seperti ini mudahnya," katanya demikian.


"Dengan kekuatanmu kau bisa menjadi seorang pesulap," tambah Pricil setelah pernyataan Nina yang kemudian dilanjutkan oleh Riki.


"Jadi saat di gang itu, kau membuat dirimu terbang."


"Benar, beta jarang menggunakan kekuatan seperti ini karena terkadang jika beta terlalu sering menggunakannya itu membuat kepala beta pusing."


"Ada efek seperti itu juga."


"Dibandingkan itu mata penembusmu lebih berguna."


"Benar kau mengerti juga Riki, aku bisa menebak pakaian dalam wanita manapun yang aku temui."

__ADS_1


Tiba-tiba saja entah Nina atau Pricil meletakkan tangan mereka di bahu Luis dengan tatapan membunuh.


"Aku yakin kau tidak terlalu bodoh untuk melakukannya pada kami bukan," ancam Nina disusul ancaman Pricil yang semakin memperkuat cengkeramannya.


"Yah, belakangan ini aku belum memukul siapapun... kuharap dia tidak akan mati jika aku tanpa sengaja melakukannya."


Sementara Riki tersenyum pahit, Luis tampak gemetaran.


"Beta sudah mengerti tolong duduklah."


Untuk pertama kalinya dia akhirnya belajar tentang sebuah hirarki di mana para gadis selalu berada di atas.


Setelah gilirannya semua orang mulai bergantian menunjukkan masing-masing kekuatannya sebelum akhirnya sebuah keributan membuat mereka mengalihkan pandangan ke luar jendela.


"Tolong."


Seseorang baru saja dijatuhkan oleh seekor siluman singa. Riki menarik pistol di tangannya kemudian menembakan senjatanya hingga makhluk itu segera menutupi wajahnya.


"Bahkan di tempat seperti ini ada siluman."


"Aku juga akan maju."


Pricil berlari menerobos jendela kemudian menghantamkan dirinya ke tubuh singa tersebut yang mana membuatnya terlempar jauh menabrak pembatas jalan.


Melihat bagaimana jendelanya hancur, sudah cukup membuat manajer pemilik restoran memucat sampai Nina dengan keren meletakan gepokan uang di meja


"Jangan khawatir kami akan membayar kerugiannya, Luis kau juga maju."


"Eh, padahal beta baru bergabung."

__ADS_1


Mereka mendekati sosok Pricil dan melihat bagaimana siluman singa itu berusaha bangkit kembali.


__ADS_2