SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Benar-benar suaminya


__ADS_3

Sani masih bingung dan tak mengerti, mengapa nenek terus menanyakan hal yang sama padanya berulang-ulang? Pertanyaan tentang 'apakah ia tak menyesal seandainya meninggalkan tempat ini', sungguh mengganggu pikirannya sejak tadi.


Sani juga belum bisa menerima sepenuhnya alasan yang di berikan nenek padanya. Sebenarnya, kenapa ia ingin kembali ke tempat ini? Mengapa ia berada di tempat yang tak pernah memiliki kenangan apapun dalam ingatannya?


 


"Tapi kau harus tahu Sani... Begitu kau memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, maka tidak akan ada jalan bagimu untuk kembali! "


Kata-kata itu terus terngiang jelas di telinga Sani. Tubuhnya selalu merinding setiap mengingat mimik wajah nenek yang terlihat serius saat mengucapkannya. Nenek seperti mengucapkan sesuatu yang bersifat sebuah larangan yang fatal untuk di lakukan.


 


Ya, kurang lebih seperti itulah yang bisa ia simpulkan untuk sementara ini. Sekarang yang harus ia lakukan adalah mendapatkan kembali ingatannya dan pergi dari tempat ini.


Ia harus menemukan sesuatu yang bisa memberinya petunjuk tentang semua ingatannya yang hilang. Setelah itu, baru ia bisa membuat keputusan untuk pulang,atau memilih untuk tinggal dan menetap disini! Di tempat yang terasa asing ini!


 


"Sani...., Aku harus pergi! Aku harap kau tidak mengambil keputusan yang salah dengan kekuatan ajaib kalung ini! Pikirkan baik-baik sebelum kau menyesali keputusan yang kau buat... !" pungkas nenek serius di akhir kalimatnya.


Sani tak tahu harus bicara apa untuk menyahuti ucapan nenek padanya. Ia hanya diam dan bermain-main dengan otaknya yang bingung. Pikirannya penuh dengan macam-macam runtutan kejadian yang terjadi secara tak terduga dan sangat tidak masuk akal.


 


Namun saat ini Sani menyadari sebuah kenyataan penting di tempat ini. Bahwa kebenaran tentang perubahan statusnya sebagai seorang istri bukanlah omong kosong!


Kerta yang mengaku sebagai suaminya itu adalah sosok suami yang sangat baik. Dan Kerta juga tidak berbohong tentang status mereka sebagai suami istri. Kerta nampak seperti orang yang bisa di percaya saat ini.


 


"Sani? Apa kau mendengarku?" celetuk nenek membuyarkan lamunan Sani.


Sani terkejut saat menyadari bahwa sejak tadi nenek masih disana untuk menunggu jawabannya. Ia nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan nenek yang terasa penuh beban.


"Iya nek, saya akan mengingat baik-baik pesan nenek. Terimakasih sudah menjelaskan semuanya pada saya." Jawab Sani kemudian.


"Sama-sama!" balas nenek sambil menarik senyumnya yang secepat kilat.


"Nak Kerta, masuklah...! " teriaknya kemudian.


Sani melihat Kerta melangkah masuk ke dalam kamar, begitu mendengar namanya di panggil.


"Iya ni!" sahut Kerta mantap dari balik pintu.

__ADS_1


Laki-laki tampan berkumis tipis itu berjalan pelan dan mendekat ke arah Sani. Kini hatinya berdebar penuh rasa bersalah setelah tahu kebenarannya.


"Nah, sekarang aku sudah selesai memeriksa keadaan istrimu. Kau tidak perlu khawatir lagi dengan kondisi istrimu. Lukanya akan segera sembuh dalam beberapa hari. Untuk itu, kau harus rutin mengganti bobok* obat di atas lukanya dan memberikan ramuan yang aku berikan untuk di minum istrimu nanti! Kau mengerti Kerta?" jelas nenek panjang lebar pada Kerta.


(*bobok: sejenis obat oles tradisional bertekstur seperti pasta yang terbuat dari tumbuh-tumbahan berkhasiat)


"Iya Ni, saya mengerti! Dan..... Mmm, ni?" Kerta nampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa Kerta? Katakanlah!" sahut nenek penasaran.


Kerta masih terlihat ragu untuk menyelesaikan kalimatnya yang masih menggantung. Pandangannya terus di tujukan ke arah Sani dan nenek secara bergantian. Kerta seperti ingin mengucapkan sesuatu, tapi juga terlihat sungkan mengatakannya di depan Sani.


Sani mulai terlihat penasaran menunggu Kerta untuk menyelesaikan kalimatnya. Sebenarnya, apa yang ingin laki-laki itu tanyakan sampai terlihat ragu-ragu begitu? 


"Nak Kerta, aku tidak bisa berlama-lama disini. Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, aku harus pergi sekarang juga! " gertak nenek nampak serius.


"Ttu.. Ttunggu ni,..."


"Ya? "


"Anu, ini tentang istri saya. Mmm... Apakah istri saya... " Ucap Kerta pelan dengan kalimat yang masih menggantung.


Sani semakin gemas dan penasaran di buatnya! Lagi-lagi Kerta menggantung kalimatnya dan membuat rasa ingin tahu dalam hatinya meningkat!


"Kenapa dengan istrimu?" celetuk nenek tak sabar.


"Lanjutkan nak Kerta! " seru nenek tegas saat ia lihat keraguan di dalam mata Kerta.


"Maaf sebelumnya! Namun yang paling aneh dari sikapnya adalah, saat ia terus-terusan menanyakan apakah saya ini memang benar-benar suaminya atau bukan? Saya sangat khawatir dengan keadaannya ni!" pungkas Kerta melengkapi kalimat panjangnya.


Namun nenek hanya membalas semua keluh kesah dan gelisah Kerta dengan senyuman saja. Nampaknya nenek sudah bisa menyimpulkan dan mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Kau lihat Sani? Betapa suamimu sangat menghawatirkan keadaanmu? Bersikaplah dengan baik padanya meski kau belum yakin dengan semua ucapanku!" seru nenek mengagetkan.


Sani hanya bisa menundukkan kepalanya, sekarang!


"Selama yang aku tahu, Kerta adalah suami yang sangat baik. Jadi tak mungkin jika ia sampai melakukan sesuatu yang nantinya akan menyakitimu. Suamimu hanya harus tahu tentang kondisimu saat ini."


Sani merasa menyesal betapa ia sudah menuduh Kerta sebagai laki-laki yang kurang ajar! Ia juga sudah memperlakukan Kerta dengan buruk beberapa waktu lalu.


 


"Kenapa dengan kondisi istri saya ni? Apa sesuatu yang buruk terjadi padanya?" tanya Kerta memburu begitu mendengar kalimat terakhir nenek.

__ADS_1


"Tenanglah Kerta, semua tidak seburuk yang kau bayangkan. Istrimu baik-baik saja saat ini". Jawab nenek mencoba menenangkan.


"Benarkah?"


"Aku selalu mengucapkan hal yang benar, nak Kerta. Istrimu baik-baik saja dan justru sekarang keadaannya amat sangat baik dari biasanya. Kau harus bersyukur, kini istrimu tak akan lagi merasa lemah dan sakit pada seluruh badannya seperti biasa. Tubuhnya sudah sembuh sekarang!" jelas nenek panjang lebar.


"Tunggu! Apa tadi nenek bilang bahwa kondisi tubuh saya sebelumnya lemah? Apakah sebelumnya tubuh saya sedang sakit atau?" Sani segera memotong penjelasan nenek begitu ia dengar kondisi tubuhnya sebelum ini.


"Kau tidak ingat San? Kau bisa tiba-tiba ambruk tak sadarkan diri karena kondisi tubuhmu yang kurang sehat! Tubuhmu sangat rapuh Sani." Jawab Kerta cepat


"Apa? " pekik Sani kaget.


"Entah mengapa badanmu seakan terlihat lemas setiap hari. Bahkan kau tidak bisa melakukan banyak pekerjaan karena kondisimu itu. Kau tidak mengingatnya?"


"Hah? Benarkah? "


Sani merasa baik-baik saja selama ini. Ia adalah tipe seorang workholic yang jarang sekali sakit.


Sani terbiasa mengurus butiknya sendirian tanpa asisten. Lin, pegawai satu\-satunya yang ia pekerjakan-pun hanya melakukan pekerjaan yang jumlahnya terbatas. Ia sudah terbiasa melakukan semua pekerjaannya sendiri.


 


Tapi, apa itu tadi? Sebelum ini ia penyakitan?


Huh, yang benar saja!


 


Nenek tampak bisa membaca pikiran Sani.Ia mengerlingkan matanya pada Sani, nampak sedang memberi isyarat padanya.


Seperti paham maksudnya, Sani mengangguk dan kembali melanjutkan untuk menyimak percakapan nenek dengan Kerta.


"Jika istri saya sudah sembuh, lalu mengapa istri saya bersikap sangat aneh ni? " tanya Kerta menyusul.


"Nak Kerta, kau harus tahu! Memang benar istrimu sudah sembuh sekarang. Ia tak akan lagi merasakan sakit atau mempunyai keluhan tentang kondisi tubuhnya sekarang. Hanya saja, saat ini ia kehilangan ingatannya!"


"Aapp... Apa? Istri saya kehilangan apa?"


?????


🍀🍀🍀🍀🍀


Terimakasih sudah mampir!

__ADS_1


Jangan lupa Tinggalkan jejak kalian di bawah ya?


Tap like, favorite, dan tinggalkan komen. 😘😘😘


__ADS_2