SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Selamat datang kembali


__ADS_3

 


Sani bingung harus memulainya dari mana? Laki-laki itu terus membuatnya kehabisan kata-kata setiap ia melemparkan pertanyaan! Sangat menjengkelkan melihat lawan debatnya menanggapinya dengan santai dan polos.


Terlebih, Sani bisa menangkap kesungguhan di setiap kalimat yang laki-laki ini ucapkan. Tatapan matanya tak pernah menunjukkan bahwa ia tengah membohongi Sani. Sejak awal-pun laki-laki ini tak pernah menyakiti ataupun merugikan dirinya kecuali perlakuan tak sopannya di siang itu.


 


"Jadi, foto itu seperti apa?" laki-laki itu mengulang pertanyaannya.


"Emm... Foto itu berbentuk seperti sebuah lembaran atau kertas yang berisi gambar. Apa kau punya yang seperti itu?" sahut Sani kemudian.


Laki-laki itu manggut-manggut nampak sedang memahami penjelasan Sani. Ia diam sebentar, sebelum kembali melontarkan pertanyaan,


"Ngomong-ngomong, kertas bergambar itu memiliki ukuran besar atau kecil?" tanyanya polos.


"Ummm, bisa berukuran besar dan juga kecil.Yaa... Tergantung pemesanan pelanggan saat mencetaknya." Jelas Sani sesederhana mungkin.


"Di cetak?"


"Iya, di cetak. Kenapa heran begitu?"


Sani melihat laki-laki itu mengernyitkan dahi, nampak bingung dengan penjelasan yang ia berikan.


"Kukira, foto itu di hasilkan dengan gambaran tangan?"


"Tidak. Foto itu di hasilkan dari sebuah alat yang disebut dengan kam... "


"Tunggu, apa foto itu bisa juga seperti sebuah lukisan?" tanya si lelaki yang tiba-tiba saja menyela kalimat Sani.


"Ah, ya... Itu boleh juga! "


"Ada, kita punya satu di ruang tamu." Jawabnya dengan mantap.


"Benarkah? Kalau begitu aku melihatnya sekarang?"


"Tidak boleh!"


"Hah? Kenapa tidak?" sahut Sani dengan suara tinggi.


"Kau boleh melihatnya, namun dengan satu syarat."


"Syarat??"


Sani takut kalau laki-laki itu meminta syarat yang aneh-aneh. Yaa... Mungkin saja syaratnya berupa sebuah ciuman atau sesuatu yang lebih dari sekedar itu?


Otak Sani di penuhi dengan prasangka buruk yang bermacam-macam pada laki-laki yang berdiri di depannya itu. Ia tak bisa melupakan kelakuan kurang ajarnya kemarin.


 


"Bisakah kau meminta syarat yang wajar-wajar saja?"


"Maksudmu?"


"Maksudku, mintalah syarat yang membuatku tak merasa rugi atau benci."


"Hahahahaha.... " Laki-laki itu langsung tertawa keras mendengar pernyataan Sani.


"Jangan tertawa! Cepat katakan apa syaratnya...."


"Ahhahaha, baiklah. Syaratnya adalah, sekarang juga kau harus ...."

__ADS_1


Dada Sani berdegup cepat menunggu laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya. Ia harap-harap cemas menunggu syarat yang akan di berikan padanya nanti.


"Kamu harus habiskan dulu sarapannya!"


Ploooong!


Terasa seperti ada beban yang hilang, saat itu juga. Syukurlah, ternyata dugaannya meleset!


"Oooh... Iiy... Iya, baiklaaaah"


Laki-laki itu tampak senang dan tersenyum menang. Ia berhasil membuat Sani mau menyantap sarapannya sekarang.


"Mas suapi, ya?" tawarnya tanpa ragu.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Baik, kalau begitu cepat makan. Mas mau memeriksa keluar rumah sebentar. Mungkin saja nini tabib sudah ada di depan untuk memeriksamu."


Sssukk.... Sssuk... Tangan besar itu kini mengusap lembut pipi mulus Sani sebelum beranjak pergi. Dan perlakuannya itu berhasil membuat pipi Sani merah kepanasan.


Dalam hati, Sani bergumam;


Bagaimana bisa laki-laki ini melakukan hal yang membuatnya berdebar dengan santai begitu? Padahal saat ini hatinya serasa berdebar tak karuan, setiap laki-laki itu melakukan kontak fisik dengannya.


"Tunggu, " ucap Sani sambil menahan tangan besar yang masih mengusap pipi-nya.


 


"Ada apa? "


"Eemm...." Sani ragu-ragu menyelesaikan kalimatnya.


"Bicaralah. Ada apa? "


Laki-laki itu tersenyum. Cuupp!


Dengan lembut ia mencium pipi Sani yang masih merah.


Kecupan di pipi itu membuat wajah mereka saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Sani bisa melihat dengan jelas pada tiap detil wajah yang tampan itu.


Kini posisi mereka sudah sangat dekat sekali. Sampai-sampai Sani bisa merasakan hangat nafas laki-laki itu di ujung hidungnya.


Tanpa berfikir panjang, Sani segera memejamkan matanya seakan menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.


Entah siapa yang memulai, namun kini bibir mereka mulai menyatu dan saling berpagut dengan ritme yang halus dan pelan. Keduanya tampak memejamkan mata, saling menikmati cumbuan demi cumbuan yang mereka ciptakan.


Tanpa penolakan, Sani turut bereaksi membalas ciuman itu dengan memainkan lidahnya di dalam sana. Sama-sama saling menyesap, mereka membuat ciuman menjadi semakin panas dan bergairah.


Sani tak tahu persaan aneh apakah ini? Ia hanya merasakan geli di dalam perutnya seolah kupu-kupu saling berterbangan di dalam sana.


Ia suka situasi ini, dan ia tak bisa menghentikan perasaan senang, sekaligus bahagia yang meluap-luap di dalam hatinya kini. Ternyata berciuman itu rasanya seperti ini? Sangat Basah dan.....


"Den Kerta, ini tabibnya sudah datang... "


Hhwwik!


Mereka langsung menyudahi ciuman yang berlangsung cukup lama itu, begitu terdengar seruan dari arah luar. Suara bibik berhasil menghentikan sesi saling cumbu mereka yang mulai memanas.


"Eehm...hhem. " Laki-laki itu berdehem untuk mengatur intonasi suaranya sebentar.


"Tolong di suruh masuk, bik... " Ucapnya, setelah berhasil mengatur suaranya kembali.

__ADS_1


Sedangkan Sani, ia sama sekali tak bisa mengangkat kepalanya meski sebentar. Sani merasa malu mengetahui dirinya yang tak menolak ciuman itu. Kepalanya hanya menunduk ke bawah, menyembunyikan pipinya yang semakin kepanasan.


"Selamat pagi, ni." sapa laki-laki itu di ikuti dengan suara langkah kaki mendekati mereka berdua.


Laki-laki itu segera mengambil posisi berdiri, setelah meletakkan kembali makanan Sani di atas meja.


"Pagi!" sahut suara serak dari sosok yang baru datang itu.


Entah mengapa Sani merasa tak asing mendengar suara ini. Suaranya terdengar seperti suara seorang perempuan tua yang....


"Ah tidak, lupakan!" gumamnya dalam hati.


"Silahkan duduk sebentar. Saya akan minta tolong bibik untuk membuatkan minum untuk nini!"


"Tidak perlu repot-repot nak Kerta, saya hanya mampir sebentar untuk memeriksa keadaan istrimu."


"Tapi Nini pasti haus setelah menempuh perjalanan jauh? Nini tunggu saja sebentar, saya akan kembali setelah mengambil minuman untuk nini!"


"Tidak perlu, terimakasih! Tapi sebaiknya Nak Kerta sekarang keluar saja, biar saya bisa cepat melihat dan memeriksa keadaan istrimu!" jawab tegas suara serak perempuan yang di panggil nini tersebut.


Laki-laki itu diam beberapa saat, tampak sedang mempertimbangkan sesuatu.


"Baiklah kalau begitu, saya akan keluar. " Ucap-nya kemudian. Di ikuti dengan langkahnya berjalan menghampiri Sani sebelum keluar.


"Mas keluar dulu ya? " bisik laki-laki itu sambil mengusap punggung tangan Sani.


Sani mengangguk, setelah Kerta mengusuk halus rambutnya lalu menghilang di balik pintu.


Tanpa basa-basi lagi, perempuan itu langsung menghampiri Sani dan mengambil tempat untuk duduk di sisi Sani.


Secara refleks, Sani mengangkat kepalanya dan melihat perempuan dengan wajah keriput itu sudah ada di hadapannya. Perempuan tua yang rambutnya hampir putih semua itu tengah tersenyum kepadanya.


 


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sani penasaran.


Sani seperti pernah bertemu dengan perempuan tua itu sebelumnya. Ia merasa tak asing dengan wajah tegasnya.


"Apa kau lupa denganku?" sahut perempuan tua itu kemudian.


"Maaf, bahkan aku tak yakin bahwa kita pernah bertemu sebelumnya."


"Aku tahu apa yang akan membuatmu mengingat tentang pertemuan kita."


Perempuan tua itu lalu memasang wajah misterius yang nampak khas di mata Sani. Ia mendekatkan wajahnya pada Sani sambil membisikkan sesuatu di telinganya.


 


"Selamat datang kembali, akhirnya kamu pulang."


"Pulang?" Sani mengulang kata terakhir itu bingung.


"Aku sudah bilang bukan? Pakailah benda di tanganmu dan pulanglah bersama denganku."


Hah!


Sani menutup mulutnya, menahan supaya tidak menjerit dan berteriak saat itu juga. Perlahan ia menangkap sebuah ingatan di kepalanya dan menyadari siapa sosok yang sedang duduk di depannya sekarang.


 


"Nenek?"

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀🍀


__ADS_2