SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Jemputan


__ADS_3

Sani berdiri di depan jendela sambil melongokkan kepalanya keluar. Matanya menerawang jauh, memandang pepohonan yang rimbun di sekitar rumah Asih.


Ia tak tahu apakah harus bersyukur, atau harus menyesal karena mendapatkan kesempatan kedua di sini? Apakah kehidupannya di sini lebih berharga, daripada kehidupan yang telah dilaluinya selama ini? Entahlah, ia merasa harus menjalaninya saja dulu.


Sebenarnya di kehidupan ini ia merasa lebih beruntung daripada di kehidupan modern-nya.


Disini ia punya Asih, seorang sahabat yang sangat baik padanya. Dan Juga ada bibik Gandari yang memperlakukannya dengan sangat lembut. Sani jadi merasa memiliki sosok seorang ibu yang selama ini sangat ia idam-idamkan kehadirannya.


Lalu Kerta?


Apa ya? Hanya saja, Sani masih merasa sulit untuk menggambarkan tentang perasaannya pada laki-laki itu.


Disamping sosok seorang suami yang baik, Kerta juga memiliki pesona yang tak dapat di pungkiri sebagai pria yang perfect. Kerta memiliki karakter yang tegas, namun juga romantis secara bersamaan.


Sani sendiri tak pernah tahu bagaimana itu jatuh cinta atau semacamnya. Namun Sani sangat paham, tentang arti sebuah kenyamanan dengan lawan jenis. Alasannya tidak pernah terlibat dalam hubungan asmara selama ini, karena ia sangat tidak nyaman setiap cowok-cowok datang mendekatinya. Ia sendiri juga tak tahu, kenapa perutnya terasa mual setiap berada di dekat mereka.


Namun itu tak berlaku saat ia berada di samping Kerta. Laki-laki itu seperti bisa memberikan rasa aman dan nyaman di sekitarnya. Benar-benar sangat aneh!


"Aahheem...! Kenapa ya, kok sepertinya tiba-tiba saja aku mencium aroma kerinduan di rumah ini?" tiba-tiba saja suara Asih terdengar dari arah belakang, yang seketika langsung membuyarkan lamunannya begitu saja.


"Kau ini! Datang-datang hanya membuat aku kaget saja. Dasar...!" seloroh Sani sambil memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha... Salahmu sendiri melamun siang-siang begini. Ayo katakan, apa yang sedang kau pikirkan, hm?"


"Aku tidak sedang memikirkan apapun, kok. Aku hanya melihat-lihat pemandangan sekitar rumahmu saja."


"Aku sangat tahu saat kau sedang berbohong, bodoh! Kau melamun karena rindu pada Kerta, kan?"


"Tttii... Tidaak kok!"


"Kalau tidak, kenapa wajahmu langsung berubah seperti tomat begitu?" goda Asih sedikit penasaran.


"Mmmm, anu... Aku hanya sedang kepanasan saja. Iya, benar... Hanya panas saja kok!" jawab Sani mengelak.


"Halaaah! Sudahlah kau mengaku saja. Kau sedang memikirkan Kerta, kan?"


"Aaahhh, Asih... Dasar kau ini... "


"Hahahahaha.... Mau mengaku juga akhirnya."


"Bukan begitu Asih. Sejak tadi pagi perasaanku tidak enak. Aku seperti punya firasat buruk pada mas Kerta. "


"Wah Sani.... Itu berarti, " sahut Asih sambil menggantung kalimatnya, untuk membuat Sani penasaran.


"Berarti apa? Kau jangan menakut-nakutiku Asih!"


"Itu berarti kau sudah rindu berat padanya. Hahahaha... "


"Kau jahat sekali. Kau hampir membuat jantungku copot karenanya. Berhenti menggodaku! Sekarang aku sangat lapar, kau tadi masak apa?" kata Sani mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku hanya memasak sisa penjualan sayur tadi pagi. Maaf jika selama kau menginap di rumahku, aku tidak bisa melayanimu dengan baik."


"Kau bicara apa? Justru aku yang merasa sungkan sudah merepotkanmu selama disini."


"Tidak jangan bilang begitu, Sani.Aku sudah sangat senang kau ada disini. Kau bahkan masih mau menemuiku meskipun tahu keadaanku yang masih begini." Jawab Asih dengan nada melas.


"Jangan mengungkit hal itu Asih! Kau seperti ini, itu bukan salahmu." Hibur Sani kemudian.

__ADS_1


"Aahh... Kau benar juga! Ini bukan salahku. Ini salah Kerta yang meninggalkanmu disini tanpa memberikan uang sewa. Coba saja kalau ia mau memberiku upah selama menjagamu disini. Pasti aku bisa mendapatkan setumpuk koin dengan jumlah yang banyak, kan?"


"Hahahahha... Kau ini bisa saja!"


"Hehehehe... Aku hanya bercanda kok. Oh ya, ini hari ketiga kau berada di rumahku, kan?"


Sani mengangguk!


"Itu berarti hari ini kau pulang, ya?"


"Iya, kau benar! Hari ini saatnya mas Kerta menjemputku pulang. Padahal aku masih betah disini denganmu." Jawab Sani dengan lesu.


"Jangan sedih begitu. Aku janji secepatnya akan segera mengumpulkan uang, supaya aku bisa mengunjungimu disana. Tapi bukan berarti aku tak suka kau lama-lama disini. Aku hanya ingin kau menjadi seorang istri yang bertanggung jawab dengan statusmu sekarang. Kau mengerti maksudku, kan?" jelas Asih panjang lebar.


"Iya, aku mengerti. Kau memang yang terbaik Asih, terimakasih!"


"Hahahha, sudahlah... Kau jangan memujiku terus. Bukankah aku memang selalu jadi yang terbaik sejak dulu, hm?"


"Sumpah! Kau adalah perempuan ter'unik' yang pernah ku kenal! Dasar kepala besar!" Sahut Sani sambil terikik geli.


"Terserah, yang penting sekarang kau harus makan ya? Aku tahu, kau pasti sudah menahan lapar sejak tadi, kan?"


"Baguslah kalau kau tahu."


"Hahahaha... Ya sudah! Ayo!"


.


.


.


.


.


Di atas meja makan sudah tersaji dua kepal *nasi empok dan sepiring sayur rebus lengkap dengan sambalnya. Sani dan Asih sudah duduk di masing-masing teluan meja, bersiap untuk menyerbu menu makanan mereka hari ini.


*Nasi empok: Nasi dengan campuran biji jagung yang telah di giling atau di ditumbuk sehalus mungkin.


Mereka berdua makan dengan lahap tanpa banyak berbincang satu sama lain. Baik Sani maupun Asih, nampak sangat menikmati makanan mereka hingga yang tersisa hanyalah piring kotor yang hampir bersih.


"Wah, rasanya sudah lama sekali aku tidak makan nasi empok. Rasanya enak sekali! Sangat cocok dengan sambal dan sayur yang kau sajikan." Puji Sani pada masakan Asih.


"Syukurlah kalau kau suka. Aku tadi sempat ragu, untuk menyajikannya padamu! Aku takut kau sudah tak mau makan dengan menu seadanya begini." Jawab Asih kemudian.


"Ah, kau ini bicara apa? Mana mungkin aku menolak makanan yang lezat ini? Apalagi kalau itu adalah masakanmu?"


"Hahahaha. Kau ini memang paling bisa, ya?"


"Hehehe. Oh ya Asih... Apa kau ingat? Saat dulu kita pernah menjadi kuli penumbuk biji jagung para warga? Kita sampai menawarkan jasa menumbuk jagung untuk dijadikan empok, supaya kita bisa makan."


"Ya, aku ingat. Orang-orang membayar upah kita dengan memberi tiga buah singkong untuk satu karungnya. Miris sekali ya?"


"Iya. Tangan kita sampai melepuh setiap kali selesai mengerjakannya."


"Yaaa... Memang dasar sudah jadi nasib kita hidup seperti ini. Setiap hari harus berfikir dan siap melakukan apa saja supaya bisa makan. Coba saja kalau kita beruntung bisa lahir dari keluarga bangsawan, ya?"

__ADS_1


"Asih, jangan bicara begitu. Kalau kau lahir menjadi seorang putri bangsawan, kita pasti tidak akan bertemu. Dan kalau kita tidak bertemu, maka aku tidak akan pernah memiliki seorang sahabat yang baik sepertimu."


"Tidak Sani! Aku dan kau tetap akan bertemu meski aku seorang bangsawan. Kita berdua akan tetap bersahabat meski aku adalah putri raja sekalipun. Kau tahu kenapa?"


Sani menggeleng!


"Karena aku seorang pemimpi yang abadi. Hahahahha... Aku bercanda! Kau jangan memasang wajah serius begitu."


"Dasar kau!"


Sani mencubit cepat pipi Asih yang menul-menul mengemaskan! Asih harus di beri pelajaran karena sudah mempermainkannya sejak tadi.


"Hahahaha... Ampun, ampun! Aku benar-benar minta maaf... "


"Ini balasan karena kau suka mempermainkan aku, heh? Kemari kau...!"


Tok... Tok... Tok!


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Asih dan Sani segera menghentikan permainan mereka, bergegas keluar untuk membukakan pintu.


"Sani, kau pergi siap-siap saja sana! Paling-paling itu hanyalah Kerta yang datang untuk menjemputmu."


"Kau benar juga! Baiklah... Kalau begitu aku pergi untuk bersiap-siap dulu ya?"


"Ya... Pergilah!" jawab Asih sambil mengangguk mantap.


Sani segera masuk ke kamar sementara Asih keluar untuk membuka pintu. Dengan cepat, Sani segera mengganti bajunya supaya nanti Kerta tidak menunggunya terlalu lama.


Entah mengapa ia merasa tak sabar untuk bertemu dengan laki-laki itu. Apakah benar, ia sudah merindukan Kerta?


"Itu tidak mungkin! Pasti aku hanya rindu dengan masakan bibik." Gumamnya, berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak.


Tak beberapa lama kemudian Sani sudah siap dengan penampilan yang rapi dan cantik seperti biasa. Ia segera keluar dengan penuh percaya diri, untuk membuat Kerta terpesona seperti biasa.


Tiba-tiba saja Asih masuk dan mengagetkannya sebelum Sani sampai di teras rumah. Sani melihat wajah Asih terlihat tegang, seperti orang panik.


"Sani, kau harus segera pulang sekarang juga!" ucapnya kemudian.


"Ada apa, Asih? Kenapa wajahmu tegang begitu? Dimana mas Kerta?"


"Dia...! Eeeem,,, Suamimu,"


"Jangan bercanda Asih. Ini sudah tidak lucu."


"Sani, suamimu tidak bisa menjemputmu. Di depan hanya ada abdi ndalemnya yang menjemputmu pulang dengan kereta kuda. Kerta mendapatkan serangan saat sedang bertugas. Sekarang dia... "


"Apa? Itu tidak mungkin.... "


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2