SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Resiko


__ADS_3

Hari ini Sani bangun lebih awal dan menunggu bibik membawakan sarapannya seperti biasa. Namun pagi ini bibik tak membawakan makanannya ke dalam kamar.


Bibik justru menawarkan untuk membantunya mandi, setelah melihat luka di kaki Sani mulai mengering.


"Eh, tapi bik... Saya bisa mandi sendiri nanti."


"Tidak boleh begitu den putri.... Ini sudah menjadi tugas saya. Nanti kalau den putri tidak mengizinkan saya membantu, justru bibik-lah yang akan mendapat masalah! "


"Apa? Mendapat masalah?"


"Betul, den putri... "


"Siapa orangnya yang berani memberikan bibik masalah? Masa hanya karena tak membantu saya mandi bisa menjadi masalah? Apakah orang itu adalah Kerta?"


"Bukan den ayu... Den Kerta tidak akan berbuat seperti itu."


"Lalu siapa bik? Nanti biar saya tegur dia... "


"Benar, den putri mau tegur orangnya?"


"Tentu saja. Kenapa harus menghukum seseorang karena alasan sepele begitu?"


"Termasuk paduka raja sekalipun?"


"Hah? Ppa... Paduka siapa bibik bilang?


.


.


.


.


.


🍀🍀🍀🍀🍀


Sani duduk dengan santai di atas *amben kecil yang letakkan di samping gentong air.


*(Amben: semacam ranjang berbentuk persegi panjang yang di buat dari bambu)


Bibik yang berdiri di belakangnya, tengah menggosok lembut punggung Sani dengan potongan jeruk kecil yang aromanya sangat segar.


Di tempat ini ia tak menemukan shower atau sabun untuk mandi. Kata bibik, orang-orang biasa menggunakan potongan jeruk nipis untuk membersihkan diri, lalu memakai racikan wewangian yang terbuat dari berbagai bunga.


Sambil menggosok punggung Sani yang mulus, bibik sesekali memberi pijatan untuk merileksasi.


"Bagaimana den ayu? Apa den ayu menyukai pijatan saya?" ucap bibik di tengah kenikmatan pijatan tangannya.


"Hm, iya bik. Saya sangat menyukai pijatan bibik. Rasanya enak sekali, terimakasih ya?"


"Sama-sama den putri. Tapi lain kali den putri tidak perlu berterimakasih seperti itu pada saya ya?"


"Memangnya kenapa, bik? Apa paduka raja juga melarang hal semacam itu?"

__ADS_1


"Hehehe, tentu tidak den putri! Paduka juga tidak akan mengeluarkan peraturan sampai seperti itu juga. Hanya saja, bibik merasa sungkan setiap mendengar den putri mengucapkan 'terimakasih' pada saya. Rasanya.... "


"Ah, bibik ini ada-ada saja!" potong Sani lega. Ia merasa lega setelah tahu tentang ucapan terimakasih yang tak di larang di sini. Apa jadinya jika hal itu juga di larang?


"Emm bik... Ngomong-ngomong, pagi ini kok saya belum ketemu dia?"


"Dia siapa? Maksudnya den Kerta?" tebak bibik cepat.


"Ah, iya.... Orang itu"


"Den putri lucu sekali. Masa suami sendiri di panggil orang itu?"


"Hehehe, soalnya saya tak tahu harus memanggilnya apa, bik?" sahut Sani malu-malu.


"Kan, den putri biasanya memanggil mas pada den Kerta?"


"Ah,baik-baik... Nanti saya akan panggil dia begitu."


"Loh, ya jangan nanti. Ayo, sekarang di depan bibik"


"Aduh, bibik... "


Sani malu-malu menyebut panggilan untuk orang asing yang di sebut sebagai suaminya. Lidahnya terasa geli sebelum mengucapkannya. Ya begitulah... masih belum terbiasa.


"Emm, anu bik.... Mmmaa... Mas kemana?" Dengan terbata-bata akhirnya Sani berhasil menyebutkan panggilan itu.


"Nah, begitu kan enak... Hehehe. Den putri sudah kangen ya, baru sebentar di tinggal sudah menanyakan den Kerta?"


"Bbu... Bukan begitu bik. Saya bertanya karena biasanya setiap pagi saat saya bangun tidur, dia sudah menunggui di samping saya... "


"Iya iya... Mas"


"Ah iya maaf, saya lupa bilang. Tadi pagi-pagi sekali den Kerta sudah berangkat ke padepokan pusat."


"Ada apa di sana bik?"


"Katanya ada rapat mendadak yang penting dengan tuan senopati. Den Kerta tidak sempat berpamitan pada den putri karena, tadi den putri sedang tidur lelap sekali. Takut mengganggu! "


"Pulangnya masih lama nggak, bik?"


"Kata den Kerta tadi, begitu urusan di sana selesai langsung pulang."


"Kenapa cemberut begitu? Hayo, den putri sudah kangen ya? "


"Ah bibik ini. Siapa juga yang cemberut? Saya hanya mencerna kalimat bibik saja kok." Elak Sani gengsi.


Bibik sudah selesai menggosok punggung Sani. Kini tangan bibik dengan cepat sudah berpindah memijat kepala Sani.


"Bik... Kalau saya boleh tanya, den Kerta itu orang-nya seperti apa?"


"Saya sudah mendengar dari den Kerta, kalau saat ini sedang ada masalah dengan ingatan den putri. Tapi saya tidak menyangka akan separah itu... "


"Maaf bik, hehehe.... Tidak masalah kalau bibik tak mau memberitahu saya"


"Ah, bukan begitu maksud saya. Bibik hanya merasa prihatin saja dengan kondisi den putri saat ini. Sampai-sampai den putri lupa tentang suami sendiri?"

__ADS_1


"Hehehe iya bik. Saya hanya merasa aneh saja tinggal dengan orang yang belum saya ketahui kepribadiannya."


"Wah... Bagaimana ya, cara saya menjelaskannya? Den Kerta itu orang yang sangat terpandang di daerah ini. Jabatannya sebagai pemimpin para pasukan khusus kerajaan membuat den Kerta terkesan sangat berwibawa"


"Apa itu pasukan khusus? Dari tadi saya dengar bibik menyebut-nyebut pasukan khusus, tanpa saya mengerti maksudnya."


"Pasukan khusus itu adalah, pasukan yang dipilih langsung oleh senopati kerajaan dengan mempertimbangkan banyak hal. Seperti tingkat ketangkasan yang tinggi, lalu keahlian menggunakan senjata, dan masih banyak seleksi lain untuk pertimbangannya"


"Lalu, tugas mereka nanti apa bik? "


"Oh... Banyak. Pasukan khusus selalu menjadi bagian utama yang sangat di andalkan oleh kerajaan setiap ada masalah, den putri... Mereka sangat terlatih dan bisa di andalkan. "


"Oooh... Begitu rupanya"


"Dan hebatnya, den Kerta adalah pemimpin dari pasukan yang istimewa itu. Jadi, tak heran jika banyak orang yang menghormati dan menyukai den Kerta, bahkan para perempuan-perempuan tak tahu malu itu. "


"Maksud bibik? "


"Ah, bukan apa-apa kok. Bibik sudah terlalu banyak bicara dari tadi.... "


"Tidak tidak, tolong bibik jelaskan maksud dari ucapan yang terakhir tadi."


"Saya rasa itu bukan hal yang penting untuk den putri ingat"


"Tapi saya hanya ingin tau semua hal tentang suami saya, bik! "


Bibik nampak ragu-ragu untuk menyelesaikan penjelasannya pada Sani.


"Ayolah bik, Saya yang minta loh..."


"Tapi..."


"Nggak papa bik. Saya cuma ingin tahu semua hal tentang suami saya saja kok"


"Hhm... Baiklah kalau den putri memaksa"


Bibik nampak menghela nafas panjang sebelum mulai menceritakan tentang sosok Kerta, suaminya.


"Den Kerta itu selain punya pesona yang rupawan, beliau juga sosok yang sangat baik dan suka sekali jika bisa membantu banyak orang. Itulah mengapa banyak orang yang salah mengartikan kebaikan dari den Kerta sebagai bentuk rasa suka yang lain"


"Jadi, para perempuan itu....? "


"Ya, para perempuan yang tak tahu malu itu adalah mereka yang suka sekali mencari perhatian di depan den Kerta. Mereka memanfaatkan kebaikan den Kerta untuk menggoda beliau di setiap kesempatan. "


'Oh... Resiko orang tampan rupanya?' batin Sani memberikan komentar.


"Namun semenjak den Kerta menikahi den putri, para perempuan itu satu per-satu mundur dan tidak ada lagi yang menggoda den Kerta keculai...."


"Kecuali siapa bik?"


🍀🍀🍀🍀🍀


Kecuali siapa ya?.... Hehehhe.


Kalau penasaran, kasih like dan coment dulu dong?

__ADS_1


Author bakal seneng dan tambah semangat buat nulis loo


__ADS_2