
Sani mengendap-endap keluar dari persembunyiannya di balik gapura padepokan yang tinggi. Hati-hati ia menyelinap masuk ke dalam pekarangan padepokan yang terhubung langsung ke halaman rumah senopati.
Sani berjalan di bawah bayangan gelap pagar panjang padepokan untuk menghindari sorot rembulan yang bisa menampakkan sosoknya. Sebisa mungkin ia melangkah tanpa suara untuk menghindari kecurigaan para penjaga yang nampak asik bermain dadu di aula padepokan yang luas. Sesekali terdengar gelak tawa mereka saling bersahutan di kesunyian malam yang semakin larut.
Sani harus bergegas melaksanakan tugasnya dengan baik dan cepat. Kata Sena, keberhasilan misi yang dilakukannya sekarang adalah penentu kesuksesan dari rencana yang sudah mereka rancang. Ia tidak boleh gagal malam ini. Ia harus berhasil menemui senopati bagaimanapun caranya.
"Aku sudah hampir sampai,... " Gumam Sani saat melihat pintu rumah senopati yang tertutup.
Sani berhasil lolos dari pengawasan saat ia melintasi halaman rumah senopati yang tidak begitu luas. Pelan sekali ia mulai mengendap-endap seperti maling yang mencari kesempatan yang 'pas', untuk melanjutkan aksi-nya.
Sesampainya di depan rumah, Sani mulai berpikir bagaimana caranya memanggil senopati untuk keluar menemuinya tanpa membuat para penjaga menyadari kehadirannya? Sepertinya tidak mungkin untuk membuat para penjaga tak mendengar saat ia mengetuk pintu itu.
Setelah beberapa saat memikirkan cara yang tepat, lalu perhatiannya tertuju pada deretan jendela di samping rumah yang memunculkan ide di kepalanya. Jumlah seluruhnya adalah tiga pasang jendela kayu yang letaknya agak berjauhan.
Ini sudah lewat tengah malam untuk bertamu. Kemungkinan besar senopati sendiri sudah ber-istirahat dan lelap. Rencananya ia akan mencari jendela yang terhubung langsung dengan kamar senopati. Nanti ia akan berupaya membangunkan senopati setenang mungkin, agar tidak menarik perhatian para penjaga.
Sani mulai berjalan mendekati jendela pertama yang terdekat dari posisinya saat ini. Sambil memerhatikan keadaan di sekitarnya, ia mulai mengetuk pelan permukaan jendela yang di hiasi ukiran yang teratur.
Tak jelas apa bentuk ukirannya, ia sendiri tak memerdulikan hal itu sekarang. Karena yang terpenting sekarang adalah, rencananya dapat berjalan dengan mulus dan lancar tanpa ada halangan.
"Tok... Tok... Tok...!" bunyi dari ketukan Sani yang terdengar samar.
"Psst! Tuu... Tuan senopati," bisik Sani ragu.
"Tuan... Apakah tuan mendengar saya?"
Sani mengulang kalimatnya hingga beberapa kali sampai ia yakin tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam sana. Menurut Sena, tuan senopati mempunyai indra pendengaran yang tajam dan tanggap. Jadi tuan senopati pasti akan langsung menanggapi panggilan itu, jika jendela ini memang terhubung langsung dengan kamarnya.
Karena tak menemukan tanda-tanda balasan sesuai perkiraannya, Sani mulai mengendap-endap lagi untuk menuju daun jendela selanjutnya.
Sani melakukan hal sama seperti yang ia lakukan tadi. Namun tetap saja, di depan jendela kedua ini-pun Sani tak mendapatkan petunjuk apapun mengenai keberadaan kamar tuan senopati. Jadi yang tersisa sekarang adalah jendela ke-tiga yang menjadi jendela terakhir di sisi itu.
Dalam hati ia terus berdoa agar harapan terakhirnya akan membuahkan hasil. Maka tanpa pikir panjang lagi, Sani kembali mengendap-endap menuju daun jendela terakhir yang dilihat-nya.
"Aku harus cepat!" gumamnya pelan.
Kepalanya di tengok-kan bergantian ke kanan dan ke kiri untuk memastikan keadaan di sekitarnya masih aman. Siapa tahu salah satu dari para penjaga itu berpatroli di sekitar rumah. Bisa bahaya jika hal itu sampai terjadi.
Sani masih mengendap-endap dan terus mengawasi situasi sekelilingnya. Langkahnya di atur sepelan mungkin sampai...
"Bbrrruukkkk!"
Tubuhnya langsung terjerembab ke tanah saat tanpa sadar ia telah menabrak sesuatu yang besar di depan-nya. Jantungnya seakan berhenti berdegup saat tahu alasan mengapa dirinya sampai terjatuh setelah menabrak sesuatu itu. Tepat di hadapan-nya, seorang laki-laki berdiri dengan tegap dan menatapnya dengan seram.
"Mau kemana kau, heh?" sergah sosok besar itu dengan gigi bergemeretak.
__ADS_1
"Aakkk... Akku, aku maa... Mau... " Jawab Sani mendadak gagap dengan tubuh gemetar ketakutan.
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Alur mundur saat Sani dan Sena berbicara tentang rencana di siang itu;
"Jadi tolong nyimas dengarkan dengan baik apa yang akan saya katakan!" ucap Sena mulai serius.
"Baiklah Sena, bicaralah sekarang." Jawab Sani mantap.
"Seorang prajurit mata-mata pasukan khusus baru saja melaporkan suatu hal yang sangat penting pada saya. Ia berhasil mendapatkan informasi tentang rencana penyerangan ki Marja yang kemungkinan besar akan terjadi malam ini." Jelas Sena singkat.
"Hah, lalu?"
"Lalu begini rencananya! Sementara nyimas mengalihkan perhatian sebagian komplotan yang di bawa ki Marja, saya dan beberapa pasukan khusus lainnya akan berjaga di sini. Saya mau nyimas ke rumah senopati secepatnya untuk memberikan kabar penyerangan itu secara langsung."
"Apa? Tapi aku,... "
Sena langsung menghentikan penjelasannya saat ia lihat Sani nampak diam tak menyimak pembicaraan. Sepertinya Sena bisa melihat ketidak nyamanan Sani mengenai rencana rancangannya.
"Ada apa nyimas? Apa nyimas baik-baik saja?" tanya Sena penasaran.
Sani masih tak bergeming!
"Nyimas?"
"Entahlah, aku hanya takut!" jawabnya lirih.
Pelan, Sena menarik bahu Sani yang tertunduk agar lebih dekat ke arahnya. Di rengkuhnya tubuh Sani untuk di hadapkan dengannya dengan jarak yang amat dekat.
"Apa nyimas percaya saya?" ucap Sena dengan intonasi yang lebih lembut.
"Ya, aku cukup percaya."
"Jika itu benar, maka nyimas harusnya percaya bahwa saya sudah membuat rencana ini dengan penuh perhitungan."
Sani kembali terdiam.
__ADS_1
"Sebenarnya saya tidak bisa memaksa nyimas membahayakan diri dengan ikut serta dalam misi ini. Tapi ini adalah kesempatan yang sangat baik jika kita ingin menjebloskan ki Marja ke dalam penjara. Karena kita harus menangkapnya saat ia sedang melakukan kejahatan, bukan setelahnya." Pungkas Sena mengakhiri kalimatnya.
Sani masih terdiam untuk yang kesekian kalinya. Ia nampak sedang memikirkan sesuatu sebelum menyahuti perkataan Sena yang cukup membuatnya bimbang. Kesunyian itu berlangsung hingga beberapa saat kemudian.
"Baiklah." Sahutnya tiba-tiba. "Aku bersedia melakukannya sesuai rencana!"
Sena langsung mengangguk di iringi senyum mematikan khas miliknya.
"Tapi Sena, bagaimana caranya aku bisa lolos dari orang-orang itu? Aku ketakutan saat memikirkan mereka akan langsung menyerbu dan menangkapku begitu melihatku keluar dari rumah." Sambung Sani agak khawatir.
Sena tak langsung menjawab pertanyaan Sani yang terdengar masih ragu akan rencana rancangannya. Ia justru kembali memamerkan senyumnya sambil mengusap lembut kepala Sani untuk membuatnya tenang.
"Nyimas tenang saja. Karena saya juga sudah paham dan memperkirakan hal semacam itu sebelumnya. Saya juga sudah menemukan rencana yang tepat untuk mengatasinya." Jawab Sena penuh rasa percaya diri.
"Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
"Nyimas hanya perlu berlari menuju taman ini dan bersembunyi di semak yang paling rimbun itu." Jelas Sena sambil menunjuk ke arah semak yang terlihat paling rimbun di antara yang lainnya.
"Bersembunyi?" ulang Sani sedikit heran.
Sena hanya mengangguk mantap untuk menjawab pertanyaan Sani.
"Tapi Sena, kalau aku hanya bersembunyi...."
"Bayu Pawana sudah menunggu nyimas di sana nanti." Potong Sena singkat sebelum Sani menyelesaikan kalimatnya.
"Bayu siapa kau bilang?"
.
.
.
.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Hai kakak-kakak author dan pembaca sekalian. Terus terang saya membutuhkan banyak waktu hanya untuk menyelesaikan satu chapter saja.
Disamping karena kesibukan yang semakin padat, hal ini di karenakan 'Sansekerta' sudah memasuki tahap pendalaman tokoh yang menurut saya sangat sulit untuk menggambarkannya lewat tulisan.
Untuk itu, saya sangat senang dan merasa terbantu dengan komentar ataupun masukan dari teman-teman sekalian.
Mari kita saling mendukung dan memberi apresiasi kita pada karya teman author lain. Karena saya tahu, menulis dan memikirkan jalan cerita itu tidak semudah membicarakannya secara langsung.
__ADS_1
Apakah tebakan saya benar? 😅😅😅
Salam Nur Alwahidah.