SanSekerta (Kembali Menemukanmu)

SanSekerta (Kembali Menemukanmu)
Warung ayam panggang


__ADS_3

"Kau tahu, setiap yang ada di atas bumi ini pasti akan mati kapanpun waktunya. Namun alangkah beruntungnya jika kita bisa pergi sambil membawa kebaikan dan juga berkah bagi orang lain?"


(Mendiang romo Sena, 1401 M.)


Sena dan Kerta baru saja memasuki sebuah warung makan yang cukup ramai oleh para pengunjung lain. Warung makan ini di bangun dari susunan anyaman bambu yang kokoh, lengkap dengan atap jerami yang berfungsi sebagai peneduh di tempat itu.


Jauh dari kata 'megah', warung makan ini justru nampak lebih sederhana di bandingkan warung-warung lainnya di daerah itu. Kelebihan dari tempat ini terlerak dari citarasa dari kelezatan masakan yang mereka sajikan dengan baik. Antara racikan bumbu yang pas, serta cara pengolahan yang khusus nampaknya benar-benar sangat di perhatikan di tempat ini.


Itulah mengapa warung ini tak pernah terlihat sepi pembeli barang satu hari-pun. Orang mana-pun yang sudah pernah merasakan kelezatan masakannya, tak akan berpikir dua kali lagi untuk kembali datang kemari.


"Ah, kita bisa duduk di sana kang!" celetuk Sena sembari menunjuk tempat kosong di ujung sana.


Mereka berdua segera menuju tempat yang di maksud Sena setelah Kerta menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Dua porsi panggang ayam dan dua gelas besar susu, ya?" pesan Kerta pada gadis pelayan yang menyambut.


"Itu saja, den? Tidak tambah pisang atau lalapan lain, mungkin?" tawar si gadis pelayan kemudian.


"Ya sudah. Kau boleh membawanya kemari kalau begitu."


"Baik, den! Saya permisi!" pungkas si gadis pelayan sebelum menghilang di balik pintu dapur.


"Sayang sekali si Bayu tidak bisa ikut kemari. Pasti lebih ramai jika saja dia bisa bergabung bersama kita, bukan?"


"Ah, lagipula untuk apa kakang mengajaknya pula kemari? Nanti kakang malah tekor kalau si juara satu dalam lomba makan itu bergabung. Aku benar-benar tak habis pikir setiap kali melihat selera makannya yang besar. Bukan main... "


"Hahahahaa... Dasar kau, bisa saja. Tapi ucapanmu itu ada benarnya juga, Sena. Bukankah tubuhnya itu terlalu kurus untuk ukuran orang yang memiliki porsi makan sebanyak dia?"


"Halah, kakang ini bicara apa? Tentu saja semua makanan itu tidak akan pergi ke perutnya yang datar itu. Karena semua makanannya pasti selalu berakhir di ujung rambutnya yang panjang itu. Hahahahaaa... "


"Hahahahaaa.... Dasar kurang ajar!"


"Hahaha... Tapi kang, tumben sekali si Bayu itu tak bisa ikut acara makan-makan kita? Sok sibuk sekali?"


"Tidak. Dia memang sibuk sekarang. Senopati agung menyuruhnya untuk menghadap guna memberikan laporan perihal penyerangan kemarin."


"Loh? Kenapa bukan kakang sendiri yang melapor?"


"Sesuai prosedur, aku tidak bisa memberikan laporan itu karena pada saat penyerangan berlangsung, kondisiku dalam keadaan tak sadarkan diri. Jadi, untuk melaporkan kejahatan seperti itu harus di lakukan oleh orang yang menjadi saksi atau terlibat secara langsung dalam perkelahiannya."


"Tapi bukannya kakang juga bertarung melawan ki Marja saat itu?"


"Memangnya kau lihat aku menghajarnya? Saat itu kan, kau sudah pingsan?"

__ADS_1


"Tapi kang, "


"Tapi apa?"


"Iya, tapi saya ingat betul saat tangan kang Kerta mencengkeram leher ki Marja dengan kuat. Jadi saya yakin, pasti pertarungan berlangsung setelahnya."


"Kau salah Sena! Aku memang berhasil meringkusnya. Namun sayangnya, aku juga belum sempat bertarung dan melawan siapapaun malam itu?"


"Lalu ki Marja?"


"Dia berhasil lolos!"


"Apa?!" pekik Sena dengan mata terbelalak kaget. "Apakah saya tidak salah dengar?"


Kerta hanya menggelengkan kepalanya dengan penuh rasa bersalah.


"Tapi bagaimana mungkin, kang?"


"Maafkan aku, Sena! Gara-gara aku tidak bisa menahannya, semua rencanamu jadi gagal!"


"Tidak! Jangan menyalahkan diri kakang sendiri. Saya yakin hal itu sudah berada di luar kuasa kita."


"Terimakasih kau sudah mempercayaiku. Malam itu, ia meloloskan diri lewat jendela kamar yang terbuka. Sepertinya orang itu menyadari dan memiliki kemampuan untuk membaca situasi dengan cepat. Dia berhasil kabur setelah menendang pelipis kanan-ku, tepat di saat Sani datang membawa bala bantuan dari Senopati."


"Menurutku, ki Marja juga sangat berbahaya. Dia adalah orang yang tangguh, serta pembuat strategi yang baik."


"Ah, lantas, bagaimana dengan para komplotan bertopeng yang membantunya, kang? Apa mereka semua juga berhasil kabur?"


"Tidak! Bayu dan para prajurit pasukan khusus lainnya telah melumpuhkan mereka dengan baik malam itu. Bahkan senopati sendiri sudah mengamankan mereka ke dalam penjara."


"Ternyata si gondrong itu boleh juga? Hehehe...." Sahut Sena di ikuti tawa nakal yang memancing Kerta turut tertawa bersamanya.


Ggrreepp!


Kerta langsung tersentak saat sepasang tangan mulus tiba-tiba melingkar manja di lehernya. Ia sampai berdiri dari tempat duduknya untuk memastikan siapa gerangan pemilik kedua tangan yang masih menyilang di dadanya.


"Imah?!" seru-nya setengah berteriak.


"Ah, kang Kerta! Imah rindu sekali dengan kakang."


"Apa yang kau lakukan? Cepat singkirkan tanganmu sebelum semua orang di sini berpikiran yang tidak-tidak!"


"Imah tidak peduli! Imah bersyukur melihat akang baik-baik saja. Karena menurut berita yang Imah dengar, 'ndalem' baru saja mendapat serangan dari komplotan bandit, bukan?"

__ADS_1


"Iya, betul. Tapi lepaskan dulu tanganmu ini."


"Tidak mau! Imah sangat, sangat khawatir dan cemas pada kondisi kakang. Rasanya senang sekali saat Imah tahu kang Kerta tidak terluka dan kembali sehat seperti sediakala." Tolak Dasimah semakin mengencangkan dekapannya.


"Jjihh, omong kosong!" celetuk Sena tiba-tiba. Sena mengucapkan kalimatnya dengan nada tak suka sambil membuang muka seolah tak setuju dengan ucapan Dasimah.


"Hey Sena, kenapa sih kau selalu saja ikut campur urusan orang lain?! "


"Kenapa marah, Imah? Aku hanya sedang menimpali ucapanmu yang penuh bualan itu."


"Bicaralah yang jelas! Kau jangan membuatku semakin geram. Kenapa tadi kau menyahuti ucapanku seperti itu, heh?"


"Yeaahh.... Karena menurutku aneh saja. Bagaimana mungkin kau bisa khawatir sampai mencemaskan kang Kerta, jika kau sendiri tak pernah datang menjenguk?"


"Aap... Appa mmak maksudmu?"


Sena hanya mengedikkan kedua bahunya menanggapi Dasimah yang tergagap-gagap menyelesaikan kalimatnya. Kerta yang seolah mendapatkan kesempatan untuk meloloskan diri itu, langsung melepaskan kedua tangan Dasimah yang masih menyilang di atas bahunya. Ia tak mau membuat orang-orang salah paham dengan kedekatan mereka lagi, terlebih pada Sani.


Sani pasti tidak akan suka jika sampai melihat suaminya ini tengah di peluk perempuan lain. Meski Dasimah adalah teman sejak kecil yang sangat dekat dengannya, namun mereka tidak boleh terlihat seperti itu sekarang. Dirinya bukan lagi si Kerta yang masih bujang. Ia sudah ber-istri sekarang!


"Sudahlah, Imah. Sebaiknya sekarang kita duduk dulu."


"Ttuung... Tunggu kang, Imah bisa jelaskan! Sebenarnya Imah ingin sekali menjenguk dan menemani akang saat itu, tapi ada urusan yang hhhaa... Harus segera Imah selesaikan secara bersamaan."


"Iya, aku mengerti. Tidak masalah jika kau tidak bisa datang. Lagipula sudah ada Sani yang menjagaiku."


"Aah, iiy iya... Nyimas Sani pasti sudah merawat akang dengan baik."


"Heh, Imah? Kenapa tiba-tiba bicaramu jadi gugup begitu?" sahut Sena merasa ada yang tidak beres dengan raut pada wajah Dasimah. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Aakk... Aakuu? Ttti... Tidak kok!"


"Tapi aku lihat tadi kau... "


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Marhaban ya Ramadhan!


Author ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi umat islam yang menjalaninya.


Semoga di bulan ini kita bisa mendapatkan ribuan berkah dan ampunan dari-Nya. Amin.. Amin... Amin...


#Semangat_puasa_pertama_ya?

__ADS_1


__ADS_2