
"Den putri, ayo bangun! Hari sudah siang..." Ucap Seorang perempuan paruh baya sambil menggoyang pelan bahu Sani.
Perempuan paruh baya itu nampak sedang berusaha membangunkan Sani yang masih terlelap di atas ranjangnya. Ia terus menggoyang pelan tubuh Sani berupaya membuatnya segera bangun.
"Den putri?" ucapnya sambil terus menggoyang kembali tubuh Sani yang masih tidak bergeming. " Ayo den putri, ini sudah siang!"
"Hhooaahm...!" satu-satunya reaksi dari Sani hanyalah menguap sambil menggeliatkan tubuh di atas ranjangnya.
"Wah, den putri sudah bangun." Sapa perempuan paruh baya itu begitu melihat Sani yang membalasnya dengan mulut menguap.
Sani Malas-malasan membuka matanya yang masih terasa berat dan ngantuk! Semalam ia mendapatkan mimpi aneh yang terasa sangat panjang. Tubuhnya sampai capek dan membuatnya masih ingin tidur lebih lama lagi.
Dimulai dari mimpi tentang laki-laki gila yang mengaku sebagai suaminya. Lalu entah mimpi atau sebuah ingatan yang terlupakan, disana ia mengalami sebuah kecelakaan saat sedang membonceng seorang nenek yang tak di kenalnya. Semua mimpi yang di alami-nya benar-benar terasa sangat nyata!
Mata Sani menatap langit-langit kokoh di atasnya! Ia melihat susunan genteng yang berjajar rapi, dengan reng kokoh dari batangan balok kayu besar untuk menopangnya. Sedangkan dindingnya sendiri, terbuat dari batu-bata yang di susun rapi tanpa pelur yang menutupinya.
Sepertinya, saat ini ia berada di dalam sebuah kamar dengan ornamen bangunan yang terlihat klasik. Tunggu! Sepertinya Sani mengenali kamar ini!
Kenapa Sani merasa bahwa kamar ini seperti kamar yang ia tempati dalam mimpinya semalam. Benar-benar sama persis!
"Den putri? Ayo bangun, ini bibik bawakan sarapan untuk den putri!" seru perempuan itu menarik perhatian Sani.
Sani terkejut mendapati seorang perempuan paruh baya yang sudah berdiri di sampingnya. Ia memakai baju tradisional kebaya beserta jarik, dengan kedua tangannya sibuk membawa nampan kayu berisi makanan!
Perempuan itu tersenyum sambil meletakkan nampannya di atas meja yang berada di sisi tempat tidur Sani.
"Monggo den putri, ini makanannya segera dimakan dulu sebelum dingin!" ucapnya seraya mempersilahkan Sani untuk menikmati hidangan yang telah di bawa-nya.
Sani hanya bengong tak tahu harus berekspresi seperti apa? Karena sedang berada dalam mimpi atau tidak, ia seperti sudah tak bisa membedakannya lagi.
Setelah peristiwa aneh kemarin, Sani sudah terlanjur menganggap semua yang di alaminya adalah mimpi. Semuanya terasa aneh! Terlalu banyak hal yang ia lalui secara bersamaan dalam rincian yang tidak wajar.
"Ehm, anda siapa ya?" tanya Sani ragu sambil mengernyitkan dahinya penasaran.
"Siapa yang den putri maksud anda tadi, den putri?" jawab si perempuan yang juga nampak bingung.
Namun Sani tak segera menjawab pertanyaan perempuan itu dengan sebuah jawaban yang pasti. Ia hanya bisa mengarahkan jari telunjuknya pada perempuan paruh baya itu.
"Ah, den putri bercandanya bisa saja?!" sahut sosok itu di ikuti dengan senyum yang lembut.
"Tapi aku,..."
Sani belum menyelesaikan kalimatnya saat ia lihat seseorang masuk ke dalam kamar. Mata Sani langsung terbelalak kaget begitu tahu siapa yang baru saja masuk itu? 'Dia lagi? Laki-laki kurang ajar itu lagi?' gumamnya kesal.
__ADS_1
"Jadi bagaimana bik? Den putri sudah makan? " tanya laki-laki itu penuh perhatian.
"Anu... Den Kerta, saya minta maaf! Jadi sebenarnya den putri baru saja bangun. Oleh karena itu den putri masih belum sempat menyentuh sarapannya barang secuil-pun. " Sahut si perempuan yang di panggil bibik itu dengan lembutnya.
"Ya sudah... Kalau begitu bibik boleh pergi sekarang!"
"Baik den!"
"Oiya bik, nanti kalau nini tabib sudah datang, tolong bibik panggil saya ya?"
Si bibik hanya membalasnya dengan anggukan kecil lalu memungkasinya dengan,
"Kalau sudah tidak ada lagi sesuatu yang den Kerta butuhkan, sebaiknya bibik pamit menyelesaikan pekerjaan di belakang dulu!" imbuhnya meminta persetujuan.
"Iya itu saja bik. Terimakasih untuk sarapannya!"
Perempuan yang di panggil bibik itu hanya tersenyum lalu menghilang di balik pintu. Sedangkan laki-laki itu langsung meraih makanan di atas meja. Ia nampak sedang mempersiakan peralatan makan yang akan Sani gunakan. Peralatan itu berupa sepasang sendok dan garpu yang terbuat dari kayu.
"Ayo, makan dulu! Ini sudah mas siapkan. " Ucapnya sambil menyodorkan baki itu di atas pangkuannya.
Sani hanya menggeleng, sebelum
"Aku masih belum lapar!" jawabnya singkat.
"Mas suapin ya? Kamu dari kemarin belum makan-kan? Mana mungkin belum lapar? "
Sebenarnya perut Sani memang terasa sangat lapar. Bahkan ia lupa, kapan terakhir kali makanan masuk ke dalam perutnya. Tapi saat ini, ia berada dalam posisi yang membuat nafsu makannya hilang.
Tentu saja sekarang ia tak lagi berpikir semua ini masih berada dalam mimpi! Sangat tidak mungkin ada mimpi yang terus berlanjut dan bersambungan seperti ini?
Lalu ini dimana?
"San... " Laki-laki itu menggenggam hangat tangan Sani. "Kok ngelamun?"
Sani segera menarik tangannya dengan cepat! "Siapa kau sebenarnya, hah?" bentaknya ketus.
"Aku Kerta, sua.... "
"Benarkah kamu suamiku?" namun Sani justru memotong sebelum laki-laki itu berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Tentu saja, San!" laki-laki bernama Kerta yang mengaku sebagai suaminya itu menjawabnya dengan mantap.
__ADS_1
Sani tampak diam memikirkan sesuatu!
"San, Kamu kenapa? Mas perhatikan sejak kemarin kamu tidak seperti biasanya."
"Jangan mengalihkan bahasan. Jawab saja dengan benar, apa kamu memang suamiku?"
Laki-laki itu mengangguk.
"Kalau begitu aku mau lihat surat nikahnya sekarang juga!" perintahnya tegas.
"Surat nikah? "
"Iya... surat nikah!"
Laki-laki itu kini terlihat bingung saat Sani mengucapkan kata-kata 'surat nikah' dengan lantangnya.
"Jangan bilang kalau kita tidak punya, suratnya?" cerca Sani tak sabar.
"Kamu benar San. kita memang tidak punya benda itu!"
"Apa? Hei, kalau kau tidak bisa menunjukkan bukti surat nikahnya, aku juga tak bisa percaya bahwa kita suami istri!"
"Memangnya, bentuk surat nikah itu seperti apa, San? Bicaralah, supaya nanti mas bisa mencarikannya untukmu di pasar!"
"Hah? Mencari di pasar?" ulang Sani kesal.
"Iya. kamu mau bukti cinta kita, kan? Surat nikah itu berarti buktinya bukan? Nanti mas akan pergi membelikannya supaya kau bisa percaya pada mas, ya?!"
"Hei, hentikan omong kosongmu! Aku sedang serius sekarang!" Bentak Sani mulai tersulut emosi.
"Mas juga serius, San. Kita benar-benar tak punya yang seperti itu di rumah." Sahut si lelaki dengan raut yang terlihat tidak sedang bercanda.
Lalu suasana-pun menjadi hening sejenak!
"Baiklah kalau begitu. Pasti kita punya bukti pernikahan yang lain, kan? Bagaimana jika aku mau lihat foto pernikahannya sekarang? Apa kau bisa menunjukkannya?"
"Foto? Apa itu foto?" sahut laki-laki itu sambil mengernyitkan dahi, nampak semakin bingung.
"Hei, berhenti mempermainkan aku sekarang juga!" Teriak Sani marah.
"Ttt.... Ttuunnggu San, tolong jangan marah dulu. Apa kamu bisa menjelaskan ciri-cirinya pada mas? Mungkin maksudnya sama, namun mas tidak mengerti dengan istilah yang kamu berikan itu."
"Hhuh, sumpah!" Sani mulai terpancing emosi lagi.
Namun ia lihat mata laki-laki itu juga sama serius-nya dengan pertanyaannya. Benar-benar jujur tanpa keraguan saat berbicara padanya.
__ADS_1
'Aku bisa benar-benar gila!' batin Sani kesal.
🍀🍀🍀🍀🍀